Dilihat dari judul diatas, gue kira lo semua udah
tahu apa topik yang bakal gue bahas kali ini dengan gaya (sok tahu) gue. Oow,
gue tau apa yang langsung terlintas dalam benak lo semua saat denger judul
diatas. But FYI, gue bahas topik ini semata-mata bukan kerena kebetulan atau
apa, jeniusnya, judul ini muncul dipikiran gue saat gue lagi denger obrolan
diruang tamu ibu kost gue sepulang sekolah. Awalnya, gue nggak tahu ada apa dan
kenapa banyak orang saat gue balik, karena gue langsung masuk kamar kost,
ngunci diri, dan dengerin mp3 sampe mampus. Tapi ternyata gue belum mampus
karena gue cuma ketiduran dan keluar kamar buat kekamar mandi saat ngeliat
orang-orang asing yang tadi kumpul disini udah pada balik, disitu cuma tinggal
ada tiga orang, yang satunya adik ibu kost gue, dan yang kedua nya temen kost
gue. Mereka keliatan lagi serius ngobrolin sesuatu, jadi gue nyamperin dan
nanyain ada apa.
Mereka cerita kalo yang tadi dateng itu keluarganya
si Siti (Nama Asli Disamarkan) yang jauh-jauh dateng buat nanyain keberadaan si
Siti. Sedangkan
setau gue dan orang-orang kost si Siti ini kemarin malem udah pindah kost dan bawa barang-barangnya dibantuin pacarnya yang katanya mau pulang langsung kerumah keluarganya. Tapi ternyata keluarganya aja gak tau keberadaan si Siti sekarang. Si Siti ini emang belum lama ngekost disini, dia ngekost karena dia lagi dalam pelatihan jadi Pramugari. FYI, gue emang gak terlalu akrab dan cuma pernah berbincang-bincang sama si Siti satu dua kali doang buat sopan santun, tapi yang gue lihat dia itu orangnya anggun, manis, dan emang cantik dan pantes buat jadi Pramugari. Tapi, siapa yang tahu orang yang ternyata bisa terlihat sangat rentan itu bisa kabur bareng pacarnya dan ngorbanin cita-citanya sendiri cuma karena cinta mudanya yang sedang menggelora dan ngebuat dia rela ngorbanin apapun? Ow, how sweet, you know? Gue terharu.
setau gue dan orang-orang kost si Siti ini kemarin malem udah pindah kost dan bawa barang-barangnya dibantuin pacarnya yang katanya mau pulang langsung kerumah keluarganya. Tapi ternyata keluarganya aja gak tau keberadaan si Siti sekarang. Si Siti ini emang belum lama ngekost disini, dia ngekost karena dia lagi dalam pelatihan jadi Pramugari. FYI, gue emang gak terlalu akrab dan cuma pernah berbincang-bincang sama si Siti satu dua kali doang buat sopan santun, tapi yang gue lihat dia itu orangnya anggun, manis, dan emang cantik dan pantes buat jadi Pramugari. Tapi, siapa yang tahu orang yang ternyata bisa terlihat sangat rentan itu bisa kabur bareng pacarnya dan ngorbanin cita-citanya sendiri cuma karena cinta mudanya yang sedang menggelora dan ngebuat dia rela ngorbanin apapun? Ow, how sweet, you know? Gue terharu.
Oke, Out of
Topic tentang si Siti. Diatas cuma contoh kecil yang sebenernya nggak ada
apa-apanya dibandingkan kisah-kisah tragis lain yang gue dapet dari pacar gue, Google. Cuma gue ambil kisah si Siti
karena kebetulan itulah yang terjadi disekitar gue. Dan gue disini juga bukan
buat menceritakan kisah-kisah yang gue baca di Google. Serius, gue takut kalian
kena stroke dengernya. Gue disini punya beberapa fakta How Love can Destroys People versi gue. Let’s read!
Penampilan
Siapa, sih yang nggak mau punya pacar cantik? Punya
cowok ganteng? Gue yakin poin pertama yang dilihat buat deketin atau ngegebet
seseorang itu pasti dari fisik. Mau lo menyangkal dengan teori cinta tidak ada yang sempurna juga tetep
aja lo mau cari pacar yang menurut lo cakep. Ada yang bilang kalo masa-masa
PedeKate itu lebih indah daripada masa pacarannya. And sometimes, semua itu emang bener. Karena saat PedeKate si
‘calon pacar’ ini nggak akan cari masalah atau ngebuat satu sama lain nggak
nyaman. Intinya masa PedeKate itu adalah masa saling ‘menyembunyikan
kepribadian aslinya. Balik lagi ke masalah sebelumya, yap, poin pertama yang
gue ambil adalah masalah Penampilan. Karena hal pertama yang biasanya dilakuin
sang ‘pacar baru’ ketika udah resmi pacaran adalah sebisa mungkin berusaha buat
bisa merubah penampilan dari kita sesuai dengan apa yang dia mau sedikit demi
sedikit.
Misalnya buat cewek yang tomboy, mereka dipaksa buat
manjangin rambut mereka sampe kaki, atau buat cowok yang biasanya cuma keluar
pake jeans sama kaos disuruh pake
kemeja. Yakali kalo dia mau ngemodalin lo buat ‘meromak’ diri lo abis-abisan
mending. Tapi kalo nggak dan itu malah membuat duit lo terkuras untuk hal-hal yang
sebenernya nggak lo inginkan, itu lebih parah. Dan saat awal-awal pacaran emang
kita bakal rela melakukan apa aja yang si pacar mau. Apasih yang nggak buat kamu, Sayang?” *muntah darah*
“Sayang, aku maunya kamu pake ini. Jangan pake anu!”
“Sayang, kamu besok-besok pake anu kaya orang itu,
dong,”
“Sayang! Apasih yang kamu pake? Aku gak suka.
Ganti!”
See?
Dan lo nggak bisa nolak situasi yang seperti itu. Dan nggak jarang lo harus
memakai sesuatu yang sebenernya lo nggak mau dan bukan ‘Lo Banget’. Tapi lo
bisa apa? Sebenernya memang banyak yang bisa lo lakuin untuk mengatasi semua
hal diatas. Tapi lo terlalu memprioritaskan dia dan apa yang dia mau, apa yang
kecintaan lo mau sampai-sampai lo nggak peduli lagi tentang diri lo sendiri.
Menurut gue, lo berhak mencintai siapapun yang lo
mau, lo berhak menyayangi pacar lo dengan segenap hati lo. Tapi lo nggak berhak buat
mengambil alih hidup orang yang lo cintai dengan alasan “Lo peduli sama dia”.
Karena kalo lo emang cinta sama dia, lo
nggak bakal berusaha buat merubah hal dari diri dia terutama yang dia nggak
suka. Justru lo bakal mencintai diri dia yang sebenarnya tanpa perlu
bertele-tele. Cinta itu
tentang kenyamanan, bukan penderitaan disatu pihak.
Kepribadian
Gue yakin yang beginian udah nggak asing lagi
disekitar lo. Betapa pengaruh seorang ‘pacar’ bisa sangat kuat dalam
kepribadian lo. Gimana seorang ‘pacar’ bisa selalu menjadi alasan atas apa yang
selalu lo lakukan baik untuk hal buruk atau hal baik. Gimana seorang ‘pacar’
selalu bisa membujuk lo untuk melakukan hal yang sebenernya bukan ‘lo banget’.
Gimana seorang ;pacar’ pada akhirnya bisa mengganti peran orang tua dalam hidup
lo. Atau bahkan gimana seorang ‘pacar’ bahkan bisa mengambil alih peran diri lo
sendiri dalam hidup lo, Bung! Dan lo nggak bisa apa-apa atau bahkan lo terlalu
bodoh untuk menyadari itu semua. Lo hanya bisa terus ngejalanin apa yang pacar
lo katakan sampe lo berhenti di satu titik dan menyadari bahwa keadaan di
sekeliling lo bukan seperti yang lo kenal lagi, atau bahkan lo juga nyaris nggak
ngenalin diri lo sendiri. Dan kenapa itu semua bisa terjadi?
IMHO, itu semua terjadi karena lo terlalu membiarkan
diri lo tenggelam dalam cinta masa muda lo sampai-sampai lo terbawa hanyut dan
lupa bahwa ada hal lain di dunia ini yang harus lo prioritaskan. Lo terlalu
‘memprioritaskan’ hal yang saat itu bener-bener membuat lo mabuk kepayang
dengan cinta masa muda lo. Dan lo terlalu banyak memberikan doi kesempatan
untuk mencampuri urusan hidup lo.
Tapi
kan, bukannya cinta itu harus saling berbagi? Bukannya cinta itu harus saling
memiliki dan saling mempercayai? Bukannya cinta itu harus saling mengutamakan
satu sama lain dan melindungi yang lain?
Oke, oke.. setiap pasangan menurut gue mempunyai
setidaknya satu atau dua motto
tentang hubungan mereka. Bagaimana mereka seharusnya bersikap, bagaimana mereka
harus saling mempercayai dan bagaimana mereka harus terbuka satu sama lain dan nggak
boleh ada rahasia satu sama lain. Dan menurut gue motto itu emang bagus kalo tujuannya emang buat ‘membuat hubungan
lo langgeng’ bukan buat ‘mengambil alih hidup lo’. Misal:
“Sayang, aku nggak suka kamu kayak gini.. aku maunya
kamu kayak gitu.”
“Sayang, aku
nggak suka kamu makannya pake tangan. Pake kaki aja, yaa..”
“…..”
See?
Mungkin saat itu semua berlangsung, you
don’t realize what’s going on. Tapi saat disatu titik lo sadar bahwa hidup
lo telah berada dibawah kendali ‘orang lain’ lo terlambat untuk merubah itu dan
pada akhirnya lo kehilangan jati diri lo. Dan yang pertama menyadari itu semua
pasti orang-orang disekeliling lo, dan bahkan pantulan yang balik menatap lo
dicermin itu nggak bakalan sama lagi.
Pertemanan
Khusus poin yang ini emang sering banget kejadian.
Bahkan kadang-kadang orang-orang disekeliling gue suka cerita kalo pacar mereka
selalu ngelarang lo bergaul sama si A atau B atau C dengan alasan cemburu atau
dia membawa pengaruh yang nggak baik atau segalanya, lah. Padahal kan,
pandangan orang beda-beda. Misalnya doi nggak tahu kalau si A adalah salah satu
teman terbaik lo yang bisa diandelin saat pacar lo sibuk. Tapi kebanyakan dari
mereka emang nurutin apa kata si pacar. Tapi ada juga yang berantem dan
berdebat gara-gara lo ngotot nggak mau nurutin apa kata pacar lo sampai pacar
lo bilang, “Kalau kamu sayang aku, kamu jauhin dia,” dan itu adalah kata-kata
yang bisa membuat lo bungkam setengah mati dan mulai menjauhi orang-orang yang
lo sayangi satu persatu.
Tapi yang namanya pacar, kadang mereka nggak sadar
kalo status mereka itu cuma seorang ‘PACAR’. Bukan suami atau istri, tapi
mereka bertingkah seakan-akan mereka adalah satu-satunya orang terpenting dan
berpengaruh dalam hidup lo. Kadang saat pacar lo ngelarang lo bergaul sama si A
atau B lo sedikit sadar dan rasanya pengen teriak, “HAH? SIAPA ELO? TERSERAH
GUE DONG MAU GAUL SAMA SIAPA AJA” Tapi lo nggak seberani itu dan untuk ke
sekian kalinya, lo CINTA MATI sama dia dan rela ngelakuin apapun, kan?
“Iya Sayang, lagian aku juga nggak terlalu suka sama
si A blablabla..”
Sampai satu persatu orang dideket lo akhirnya pergi
dan lo awalnya nggak peduli karena yang lo peduliin cuma pacar lo seorang. Tapi
apa lo tau, yang namanya pacaran pasti ada putusnya. Meski gue nggak heran kalo
orang yang lagi dimabuk cinta selalu percaya kalo mereka itu jodoh yang
disatuin Tuhan dan emang ditakdirin buat nikah bahkan udah ngarang nama buat
anak cucu mereka sambil berangan-angan. Tapi lo nggak tahu sejam yang akan
datang, atau sehari yang akan datang apa yang akan terjadi, kan? Dan seandainya
hal buruk terjadi pada hubungan lo, siapa orang pertama yang bakal lo
hubunguin? Dan apa yang bakal lo lakuin kalo ternyata orang itu adalah salah
satu orang yang lo jauhin saat lo masih pacaran? How poor..
Happiness
FYI, gue pernah ngalamin poin yang
ini, gue pernah ngerasa gue nggak bisa lagi ngerasain kebahagiaan saat
satu-satunya orang yang bisa buat gue bahagia nggak peduli tentang gue.
tapi itu nggak berlangsung lama karena seseorang pernah bilang sama gue
bahwa bahagia atau nggak bahagianya diri kita itu bergantung pada diri
kita sendiri. Bukan pada orang yang kita sayang atau siapapun. Kita
nggak bisa menyiksa diri kita dengan hanya bergantung pada satu orang, sama
seperti kita nggak bisa hanya menertawakan satu lelucon.
Kalo gue tanya buat apa orang pacaran sama orang
yang PUNYA pacar, pasti jawaban mereka buat menambah kebahagian dalam
keseharian mereka. Siapa sih yang nggak bahagia kalo kita bisa ngabisin waktu
bareng orang yang kita sayang? Kalo kita bisa ngedapetin dan memiliki orang
yang kita suka? Rasanya kita nggak punya lagi alasan buat bahagia selain sama
dia, rasanya hal-hal sepele yang dulunya bisa buat kita bahagia jadi nggak
terasa lagi kalo kita lagi jauh sama doi. Intinya, semua kebahagiaan kita jadi
hanya terpusat pada satu orang. Misalnya saat kita lagi marahan sama doi
rasanya semua orang yang berusaha buat bikin lo tersenyum cuma kayak badut
penyek yang nggak lucu lagi. Rasanya lo jadi orang paling sengsara sejagat raya
saat dia nggak memenuhi hari-hari lo. Dan pada akhirnya semua kebehagiaan lo hanya
tergantung pada dia yang belum tentu
bisa selamanya ada disamping lo. Hingga saat akhirnya lo harus putus sama pacar
lo, lo merasa bahwa lo udah kehilangan sebagian jiwa lo, bahwa lo udah nggak
bisa bahagia lagi. Dan kenapa itu bisa terjadi? Karena lo terlalu memuja dan
mencintai dia selama lo pacaran.v
Tapi
kan, bukannya pacaran harus pake hati dan harus saling mencintai? Pantes dong,
kalo kita merasa kehilangan sebagian dari jiwa kita kalo doi pergi?
Oke oke, gue tau kalo yang namanya pacaran itu harus
pake hati dan sebagainya. Tapi kalo lo pacaran dan hanya mementingkan dia dan
hanya dia itu salah juga. Pernah denger nggak Quote yang berisi “The
more you love, the weaker you are.”
IMHO, itu quote ada benernya juga, karena semakin
banyak cinta yang kita tumpahkan pada satu orang, semakin sedikit alesan kita
buat bahagia. Coba lo pikir kalo misalnya lo punya pacar, tapi kebahagiaan lo
nggak hanya terpusat sama pacar lo. Saat lo lagi ada masalah sama doi, lo punya
temen-temen yang bisa buat lo ketawa meski sebenernya lelucon mereka nggak
lucu. Tapi bukan disitu intinya, intinya adalah lo percaya sama diri sendiri
bahwa lo nggak cuma bisa bahagia sama dia.
Kalo
gitu, berarti kita mengesampingkan dia dong? Kita lebih milih temen-temen kita
daripada pacar kita?
Mengesampingkan? Bukan gitu maksud gue, babe. Cinta itu
nggak berbatas. Kebahagiaan itu nggak berbatas. Kasih sayang itu ngak berbatas.
Lo bisa mencintai dan menyayangi lebih dari satu orang. Tuhan emang hanya kasih
kita satu hati, tapi bukan berarti kita hanya harus mencintai satu orang, kan?
(maksud gue temen, keluarga dll. Bukan berarti lo bisa selingkuh). So, saat kebahagiaan
nggak berbatas dan bisa kita dapetin dimana aja, kenapa kita harus memusatkan
kebahagiaan kita hanya pada satu orang?
***
Kesimpulan buat semua ocehan gue diatas adalah, coba deh pikirin lagi saat lo lagi mau
ngelakuin sesuatu yang sebenernya nggak lo suka. Apa lo bener-bener Cinta mati
sama dia? Atau apa dia emang bener-bener cinta sama lo? Apa yang akan terjadi
pada hidup lo seandainya dia pergi? Misalnya lo jadi tokoh si Siti saat ini dan
pacar lo maksa lo buat kabur atau apapun, lah. Apa lo bakal ngikutin kemauan
pacar lo dan ninggalin semua kehidupan lo dibelakang? Apa lo secinta itu
sampe-sampe lo nggak bisa mikirin semua orang yang lo kenal kecuali doi
seorang? Karena kalo sampe lo emang mengikuti apa yang pacar lo mau dan kabur gitu
aja, gue yakin lima tahun ke depan lo bakal berakhir dimana.
Lo bakal berakhir di kontrakan sempit dengan anak
dipangkuan dan suami (belum tentu sah) yang Cuma bisa memberikan kebutuhan lo
secukupnya. Dan kalian berdua Cuma bisa luntang lantung kemana-mana. Kalian
berdua adalah anak muda yang harusnya sekolah dan menikmati masa muda kalian
tapi kalian terpaksa dan terperangkap dalam rumah tangga yang sebenernya nggak
begitu kalian pahami.
Dan apa yang akan terjadi seandainya kalian menolak?
Kalian akan memutuskan pacar kalian dan menarik kesimpulan apa saja yang kalian
dapet selama pacaran sama doi, mungkin kalian akan nangisin kepergian doi satu
atau beberapa minggu ke depan. Dan selanjutnya kalian akan lanjutin hidup
kalian dan ketemu seseorang yang lebih baik. Pilih mana?
Hidup itu pilihan, Bung. Bahkan kehidupan sesudah
mati pun ada pilihannya. Lo mau pilih surga apa neraka? Tuhan aja kasih kalian
pilihan dulu sebelum mati. Apalagi saat kalian hidup? Semua itu ada di tangan
lo. Lo yang berhak nentuin kemana lo harus pergi dan apa yang harus lo lakuin.
Dan saat lo milih jalan yang salah, lo yang menanggung resikonya. Mencintai seseorang itu nggak
salah, tapi lo harus inget apa prioritas utama lo dalam hidup ini.
Jangan memaksakan hal yang belum waktunya. Semua itu ada waktunya dan kalo lo
melakukan hal yang emang udah sesuai waktunya juga lo nggak harus menanggung
resiko apapun, kan?
Gue harap semua poin dan kesimpulan diatas bisa
bermanfaat. Dan sekali lagi, ini semua hanya opini gue tentang kejadian-kejadian
yang semakin hari semakin tragis disekeliling gue. Let’s be the smart people, and think again anything what we do. :D
Huft, semogalah org yg emg syg sm gue gprnh terlalu gimana gimana dgn ini itu nya gue. Terima apa adanya aja kali, ya. :p
BalasHapusyap, semua orang beda-beda kok. Gak semua kayak yg gue sebutin diatas hehe.
Hapus