Sabtu, 10 Mei 2014

How Love Destroys People



Dilihat dari judul diatas, gue kira lo semua udah tahu apa topik yang bakal gue bahas kali ini dengan gaya (sok tahu) gue. Oow, gue tau apa yang langsung terlintas dalam benak lo semua saat denger judul diatas. But FYI, gue bahas topik ini semata-mata bukan kerena kebetulan atau apa, jeniusnya, judul ini muncul dipikiran gue saat gue lagi denger obrolan diruang tamu ibu kost gue sepulang sekolah. Awalnya, gue nggak tahu ada apa dan kenapa banyak orang saat gue balik, karena gue langsung masuk kamar kost, ngunci diri, dan dengerin mp3 sampe mampus. Tapi ternyata gue belum mampus karena gue cuma ketiduran dan keluar kamar buat kekamar mandi saat ngeliat orang-orang asing yang tadi kumpul disini udah pada balik, disitu cuma tinggal ada tiga orang, yang satunya adik ibu kost gue, dan yang kedua nya temen kost gue. Mereka keliatan lagi serius ngobrolin sesuatu, jadi gue nyamperin dan nanyain ada apa.

Mereka cerita kalo yang tadi dateng itu keluarganya si Siti (Nama Asli Disamarkan) yang jauh-jauh dateng buat nanyain keberadaan si Siti. Sedangkan
setau gue dan orang-orang kost si Siti ini kemarin malem udah pindah kost dan bawa barang-barangnya dibantuin pacarnya yang katanya mau pulang langsung kerumah keluarganya. Tapi ternyata keluarganya aja gak tau keberadaan si Siti sekarang. Si Siti ini emang belum lama ngekost disini, dia ngekost karena dia lagi dalam pelatihan jadi Pramugari. FYI, gue emang gak terlalu akrab dan cuma pernah berbincang-bincang sama si Siti satu dua kali doang buat sopan santun, tapi yang gue lihat dia itu orangnya anggun, manis, dan emang cantik dan pantes buat jadi Pramugari. Tapi, siapa yang tahu orang yang ternyata bisa terlihat sangat rentan itu bisa kabur bareng pacarnya dan ngorbanin cita-citanya sendiri cuma karena cinta mudanya yang sedang menggelora dan ngebuat dia rela ngorbanin apapun? Ow, how sweet, you know? Gue terharu.

Oke, Out of Topic tentang si Siti. Diatas cuma contoh kecil yang sebenernya nggak ada apa-apanya dibandingkan kisah-kisah tragis lain yang gue dapet dari pacar gue, Google. Cuma gue ambil kisah si Siti karena kebetulan itulah yang terjadi disekitar gue. Dan gue disini juga bukan buat menceritakan kisah-kisah yang gue baca di Google. Serius, gue takut kalian kena stroke dengernya. Gue disini punya beberapa fakta How Love can Destroys People versi gue. Let’s read!

Penampilan
Siapa, sih yang nggak mau punya pacar cantik? Punya cowok ganteng? Gue yakin poin pertama yang dilihat buat deketin atau ngegebet seseorang itu pasti dari fisik. Mau lo menyangkal dengan teori cinta tidak ada yang sempurna juga tetep aja lo mau cari pacar yang menurut lo cakep. Ada yang bilang kalo masa-masa PedeKate itu lebih indah daripada masa pacarannya. And sometimes, semua itu emang bener. Karena saat PedeKate si ‘calon pacar’ ini nggak akan cari masalah atau ngebuat satu sama lain nggak nyaman. Intinya masa PedeKate itu adalah masa saling ‘menyembunyikan kepribadian aslinya. Balik lagi ke masalah sebelumya, yap, poin pertama yang gue ambil adalah masalah Penampilan. Karena hal pertama yang biasanya dilakuin sang ‘pacar baru’ ketika udah resmi pacaran adalah sebisa mungkin berusaha buat bisa merubah penampilan dari kita sesuai dengan apa yang dia mau sedikit demi sedikit.

Misalnya buat cewek yang tomboy, mereka dipaksa buat manjangin rambut mereka sampe kaki, atau buat cowok yang biasanya cuma keluar pake jeans sama kaos disuruh pake kemeja. Yakali kalo dia mau ngemodalin lo buat ‘meromak’ diri lo abis-abisan mending. Tapi kalo nggak dan itu malah membuat duit lo terkuras untuk hal-hal yang sebenernya nggak lo inginkan, itu lebih parah. Dan saat awal-awal pacaran emang kita bakal rela melakukan apa aja yang si pacar mau. Apasih yang nggak buat kamu, Sayang?” *muntah darah*

“Sayang, aku maunya kamu pake ini. Jangan pake anu!”

“Sayang, kamu besok-besok pake anu kaya orang itu, dong,”

“Sayang! Apasih yang kamu pake? Aku gak suka. Ganti!”

See? Dan lo nggak bisa nolak situasi yang seperti itu. Dan nggak jarang lo harus memakai sesuatu yang sebenernya lo nggak mau dan bukan ‘Lo Banget’. Tapi lo bisa apa? Sebenernya memang banyak yang bisa lo lakuin untuk mengatasi semua hal diatas. Tapi lo terlalu memprioritaskan dia dan apa yang dia mau, apa yang kecintaan lo mau sampai-sampai lo nggak peduli lagi tentang diri lo sendiri.

Menurut gue, lo berhak mencintai siapapun yang lo mau, lo berhak menyayangi pacar lo dengan segenap hati lo. Tapi lo nggak berhak buat mengambil alih hidup orang yang lo cintai dengan alasan “Lo peduli sama dia”.  Karena kalo lo emang cinta sama dia, lo nggak bakal berusaha buat merubah hal dari diri dia terutama yang dia nggak suka. Justru lo bakal mencintai diri dia yang sebenarnya tanpa perlu bertele-tele. Cinta itu tentang kenyamanan, bukan penderitaan disatu pihak.

Kepribadian

Gue yakin yang beginian udah nggak asing lagi disekitar lo. Betapa pengaruh seorang ‘pacar’ bisa sangat kuat dalam kepribadian lo. Gimana seorang ‘pacar’ bisa selalu menjadi alasan atas apa yang selalu lo lakukan baik untuk hal buruk atau hal baik. Gimana seorang ‘pacar’ selalu bisa membujuk lo untuk melakukan hal yang sebenernya bukan ‘lo banget’. Gimana seorang ;pacar’ pada akhirnya bisa mengganti peran orang tua dalam hidup lo. Atau bahkan gimana seorang ‘pacar’ bahkan bisa mengambil alih peran diri lo sendiri dalam hidup lo, Bung! Dan lo nggak bisa apa-apa atau bahkan lo terlalu bodoh untuk menyadari itu semua. Lo hanya bisa terus ngejalanin apa yang pacar lo katakan sampe lo berhenti di satu titik dan menyadari bahwa keadaan di sekeliling lo bukan seperti yang lo kenal lagi, atau bahkan lo juga nyaris nggak ngenalin diri lo sendiri. Dan kenapa itu semua bisa terjadi?

IMHO, itu semua terjadi karena lo terlalu membiarkan diri lo tenggelam dalam cinta masa muda lo sampai-sampai lo terbawa hanyut dan lupa bahwa ada hal lain di dunia ini yang harus lo prioritaskan. Lo terlalu ‘memprioritaskan’ hal yang saat itu bener-bener membuat lo mabuk kepayang dengan cinta masa muda lo. Dan lo terlalu banyak memberikan doi kesempatan untuk mencampuri urusan hidup lo.

Tapi kan, bukannya cinta itu harus saling berbagi? Bukannya cinta itu harus saling memiliki dan saling mempercayai? Bukannya cinta itu harus saling mengutamakan satu sama lain dan melindungi yang lain?

Oke, oke.. setiap pasangan menurut gue mempunyai setidaknya satu atau dua motto tentang hubungan mereka. Bagaimana mereka seharusnya bersikap, bagaimana mereka harus saling mempercayai dan bagaimana mereka harus terbuka satu sama lain dan nggak boleh ada rahasia satu sama lain. Dan menurut gue motto itu emang bagus kalo tujuannya emang buat ‘membuat hubungan lo langgeng’ bukan buat ‘mengambil alih hidup lo’. Misal:

“Sayang, aku nggak suka kamu kayak gini.. aku maunya kamu kayak gitu.”

 “Sayang, aku nggak suka kamu makannya pake tangan. Pake kaki aja, yaa..”

“…..” 

See? Mungkin saat itu semua berlangsung, you don’t realize what’s going on. Tapi saat disatu titik lo sadar bahwa hidup lo telah berada dibawah kendali ‘orang lain’ lo terlambat untuk merubah itu dan pada akhirnya lo kehilangan jati diri lo. Dan yang pertama menyadari itu semua pasti orang-orang disekeliling lo, dan bahkan pantulan yang balik menatap lo dicermin itu nggak bakalan sama lagi.

Pertemanan

Khusus poin yang ini emang sering banget kejadian. Bahkan kadang-kadang orang-orang disekeliling gue suka cerita kalo pacar mereka selalu ngelarang lo bergaul sama si A atau B atau C dengan alasan cemburu atau dia membawa pengaruh yang nggak baik atau segalanya, lah. Padahal kan, pandangan orang beda-beda. Misalnya doi nggak tahu kalau si A adalah salah satu teman terbaik lo yang bisa diandelin saat pacar lo sibuk. Tapi kebanyakan dari mereka emang nurutin apa kata si pacar. Tapi ada juga yang berantem dan berdebat gara-gara lo ngotot nggak mau nurutin apa kata pacar lo sampai pacar lo bilang, “Kalau kamu sayang aku, kamu jauhin dia,” dan itu adalah kata-kata yang bisa membuat lo bungkam setengah mati dan mulai menjauhi orang-orang yang lo sayangi satu persatu.

Tapi yang namanya pacar, kadang mereka nggak sadar kalo status mereka itu cuma seorang ‘PACAR’. Bukan suami atau istri, tapi mereka bertingkah seakan-akan mereka adalah satu-satunya orang terpenting dan berpengaruh dalam hidup lo. Kadang saat pacar lo ngelarang lo bergaul sama si A atau B lo sedikit sadar dan rasanya pengen teriak, “HAH? SIAPA ELO? TERSERAH GUE DONG MAU GAUL SAMA SIAPA AJA” Tapi lo nggak seberani itu dan untuk ke sekian kalinya, lo CINTA MATI sama dia dan rela ngelakuin apapun, kan?

“Iya Sayang, lagian aku juga nggak terlalu suka sama si A blablabla..”

Sampai satu persatu orang dideket lo akhirnya pergi dan lo awalnya nggak peduli karena yang lo peduliin cuma pacar lo seorang. Tapi apa lo tau, yang namanya pacaran pasti ada putusnya. Meski gue nggak heran kalo orang yang lagi dimabuk cinta selalu percaya kalo mereka itu jodoh yang disatuin Tuhan dan emang ditakdirin buat nikah bahkan udah ngarang nama buat anak cucu mereka sambil berangan-angan. Tapi lo nggak tahu sejam yang akan datang, atau sehari yang akan datang apa yang akan terjadi, kan? Dan seandainya hal buruk terjadi pada hubungan lo, siapa orang pertama yang bakal lo hubunguin? Dan apa yang bakal lo lakuin kalo ternyata orang itu adalah salah satu orang yang lo jauhin saat lo masih pacaran? How poor..

Happiness

FYI, gue  pernah ngalamin poin yang ini, gue pernah ngerasa gue nggak bisa lagi ngerasain kebahagiaan saat satu-satunya orang yang bisa buat gue bahagia nggak peduli tentang gue. tapi itu nggak berlangsung lama karena seseorang pernah bilang sama gue bahwa bahagia atau nggak bahagianya diri kita itu bergantung pada diri kita sendiri. Bukan pada orang yang kita sayang atau siapapun. Kita nggak bisa menyiksa diri kita dengan hanya bergantung pada satu orang, sama seperti kita nggak bisa hanya menertawakan satu lelucon.
Kalo gue tanya buat apa orang pacaran sama orang yang PUNYA pacar, pasti jawaban mereka buat menambah kebahagian dalam keseharian mereka. Siapa sih yang nggak bahagia kalo kita bisa ngabisin waktu bareng orang yang kita sayang? Kalo kita bisa ngedapetin dan memiliki orang yang kita suka? Rasanya kita nggak punya lagi alasan buat bahagia selain sama dia, rasanya hal-hal sepele yang dulunya bisa buat kita bahagia jadi nggak terasa lagi kalo kita lagi jauh sama doi. Intinya, semua kebahagiaan kita jadi hanya terpusat pada satu orang. Misalnya saat kita lagi marahan sama doi rasanya semua orang yang berusaha buat bikin lo tersenyum cuma kayak badut penyek yang nggak lucu lagi. Rasanya lo jadi orang paling sengsara sejagat raya saat dia nggak memenuhi hari-hari lo. Dan pada akhirnya semua kebehagiaan lo hanya tergantung pada dia yang belum tentu bisa selamanya ada disamping lo. Hingga saat akhirnya lo harus putus sama pacar lo, lo merasa bahwa lo udah kehilangan sebagian jiwa lo, bahwa lo udah nggak bisa bahagia lagi. Dan kenapa itu bisa terjadi? Karena lo terlalu memuja dan mencintai dia selama lo pacaran.v


Tapi kan, bukannya pacaran harus pake hati dan harus saling mencintai? Pantes dong, kalo kita merasa kehilangan sebagian dari jiwa kita kalo doi pergi?

Oke oke, gue tau kalo yang namanya pacaran itu harus pake hati dan sebagainya. Tapi kalo lo pacaran dan hanya mementingkan dia dan hanya dia itu salah juga. Pernah denger nggak Quote yang berisi “The more you love, the weaker you are.”
IMHO, itu quote ada benernya juga, karena semakin banyak cinta yang kita tumpahkan pada satu orang, semakin sedikit alesan kita buat bahagia. Coba lo pikir kalo misalnya lo punya pacar, tapi kebahagiaan lo nggak hanya terpusat sama pacar lo. Saat lo lagi ada masalah sama doi, lo punya temen-temen yang bisa buat lo ketawa meski sebenernya lelucon mereka nggak lucu. Tapi bukan disitu intinya, intinya adalah lo percaya sama diri sendiri bahwa lo nggak cuma bisa bahagia sama dia.

Kalo gitu, berarti kita mengesampingkan dia dong? Kita lebih milih temen-temen kita daripada pacar kita?

Mengesampingkan? Bukan gitu maksud gue, babe. Cinta itu nggak berbatas. Kebahagiaan itu nggak berbatas. Kasih sayang itu ngak berbatas. Lo bisa mencintai dan menyayangi lebih dari satu orang. Tuhan emang hanya kasih kita satu hati, tapi bukan berarti kita hanya harus mencintai satu orang, kan? (maksud gue temen, keluarga dll. Bukan berarti lo bisa selingkuh). So, saat kebahagiaan nggak berbatas dan bisa kita dapetin dimana aja, kenapa kita harus memusatkan kebahagiaan kita hanya pada satu orang?

***
Kesimpulan buat semua ocehan gue diatas adalah,  coba deh pikirin lagi saat lo lagi mau ngelakuin sesuatu yang sebenernya nggak lo suka. Apa lo bener-bener Cinta mati sama dia? Atau apa dia emang bener-bener cinta sama lo? Apa yang akan terjadi pada hidup lo seandainya dia pergi? Misalnya lo jadi tokoh si Siti saat ini dan pacar lo maksa lo buat kabur atau apapun, lah. Apa lo bakal ngikutin kemauan pacar lo dan ninggalin semua kehidupan lo dibelakang? Apa lo secinta itu sampe-sampe lo nggak bisa mikirin semua orang yang lo kenal kecuali doi seorang? Karena kalo sampe lo emang mengikuti apa yang pacar lo mau dan kabur gitu aja, gue yakin lima tahun ke depan lo bakal berakhir dimana.

Lo bakal berakhir di kontrakan sempit dengan anak dipangkuan dan suami (belum tentu sah) yang Cuma bisa memberikan kebutuhan lo secukupnya. Dan kalian berdua Cuma bisa luntang lantung kemana-mana. Kalian berdua adalah anak muda yang harusnya sekolah dan menikmati masa muda kalian tapi kalian terpaksa dan terperangkap dalam rumah tangga yang sebenernya nggak begitu kalian pahami.
Dan apa yang akan terjadi seandainya kalian menolak? Kalian akan memutuskan pacar kalian dan menarik kesimpulan apa saja yang kalian dapet selama pacaran sama doi, mungkin kalian akan nangisin kepergian doi satu atau beberapa minggu ke depan. Dan selanjutnya kalian akan lanjutin hidup kalian dan ketemu seseorang yang lebih baik. Pilih mana?


Hidup itu pilihan, Bung. Bahkan kehidupan sesudah mati pun ada pilihannya. Lo mau pilih surga apa neraka? Tuhan aja kasih kalian pilihan dulu sebelum mati. Apalagi saat kalian hidup? Semua itu ada di tangan lo. Lo yang berhak nentuin kemana lo harus pergi dan apa yang harus lo lakuin. Dan saat lo milih jalan yang salah, lo yang menanggung resikonya. Mencintai seseorang itu nggak salah, tapi lo harus inget apa prioritas utama lo dalam hidup ini. Jangan memaksakan hal yang belum waktunya. Semua itu ada waktunya dan kalo lo melakukan hal yang emang udah sesuai waktunya juga lo nggak harus menanggung resiko apapun, kan?
Gue harap semua poin dan kesimpulan diatas bisa bermanfaat. Dan sekali lagi, ini semua hanya opini gue tentang kejadian-kejadian yang semakin hari semakin tragis disekeliling gue. Let’s be the smart people, and think again anything what we do. :D


2 komentar:

  1. Huft, semogalah org yg emg syg sm gue gprnh terlalu gimana gimana dgn ini itu nya gue. Terima apa adanya aja kali, ya. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, semua orang beda-beda kok. Gak semua kayak yg gue sebutin diatas hehe.

      Hapus