You can read previrous stories here. ;)
Sebuah lagu dari Elliott Smith mengalun
lembut di telinganya. Sesekali tangannya mengetuk-ngetuk meja seiring dengan
alunan musik. Matanya terpejam, ia sudah lelah dengan mata pelajaran seharian
ini.
“Beres?”
sang lelaki yang sejak tadi menghiraukannya akhirnya mengeluarkan suara. Gania terdiam
sesaat sebelum menjawab, ia membuka matanya dan mengangguk tanpa melirik lelaki
itu yang kini kembali sibuk dengan soal-soal dan jawabannya yang sampai sekarang
belum di yakininya.
Matanya melirik ke arah jam dinding
kelas yang menunjukan beberapa menit lagi ia akan terbebas dari ruangan ini. Gania
sudah muak. Matanya sudah tak tahan lagi menahan kantuk, dan otaknya sudah tak
mau lagi bekerja sama dengan beberapa soal yang sekarang di hiraukannya. Beberapa
orang mulai mengumpulkan lembar jawaban dan berhamburan meninggalkan kelas. Gania
melirik lelaki di sebelahnya. Bertanya-tanya sebenarnya apa yang masih ia
kerjakan.
Merasa
sudah yakin dengan jawabannya sendiri, ia bangkit dari kursinya dan meraih
lembar jawabannya sebelum melangkah mundur dan kembali melirik si lelaki.
“Mau
ngumpulin bareng, nggak?” ia bertanya, si lelaki menoleh dan menggelengkan
kepala. Gania kembali berjalan menghampiri sang guru yang sedang menunggu
dengan tatapan bosan. Setelah menyerahkan lembar jawabannya, ia kembali ke
mejanya, mengambil tas dan berjalan ke arah pintu keluar. Kali ini, tanpa
menoleh kembali ke belakang.
***
Gania berjalan cepat, sesekali ia
menyusul orang-orang di depannya yang berjalan terlalu santai. Jam digital di
tangannya menunjukan bahwa beberapa menit lagi, bel sekolah akan berbunyi. Gania
mempercepat langkahnya, ia tak peduli dengan ocehan lelaki-lelaki usil yang
menggodanya saat ia berlari. Perkumpulan bajingan.
Umpatnya, masih berlari mengejar waktu menuju gerbang sekolah yang ia harap
masih terbuka untuknya.
Hal
pertama yang ia lihat setelah mencapai belokan terakhir menuju sekolahnya
adalah, gerbang tersebut telah tergembok rapat. Semangatnya merosot sebelum
matanya melihat sesuatu yang menariknya kembali berjalan menghampiri sebuah
gerobak di depan sekolahnya.
“Haikal..”
ia menyapa. Lelaki yang sedang asik menyantap sarapan itu menoleh. Menggeser duduknya
memberi ruang untuk Gania duduk. Dan kembali menyantap makanannya. Gania tak
menghiraukannya. Ia terlalu lelah dan duduk di sebelah lelaki itu.
“Lo
telat juga?” Gania memulai percakapan setelah beberapa menit yang hening.
“Kalo
gue nggak kesiangan, gue nggak mungkin duduk disini sekarang.” Haikal menjawab
tanpa menoleh, masih menikmati makanannya. Lagi-lagi Gania merutuki dirinya
sendiri. Damn, ia selalu terlihat
bodoh di hadapan lelaki ini. Tangannya mencari sesuatu. Sesuatu yang selalu
menjadi pelarianya. Matanya sekarang terpejam, kedua headset terpasang di kedua
telinganya.
“Lo
suka musik?” ia membuka matanya, sedikit terkejut mendapati lelaki itu sedang
menatap ke arahnya.
“Lo
suka bernafas?” Gania balik bertanya.
Haikal tak menjawabnya. Dan mereka
kembali dalam keheningan selama beberapa saat, sesekali Gania melirik Haikal
yang sekarang sedang duduk menatap gerbang sekolah yang tertutup rapat di
hadapan mereka.
“Lo
pasti nyesel nggak bisa masuk jam pelajaran sekarang,” lagi-lagi Gania membuka percakapan.
“Iya”
Haikal menjawab singkat, masih menatap gerbang di depannya. Gania menoleh,
melihat lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya, ia memiliki hidung mancung,
kulit sawo matang, dan memiliki mata berwarna cokelat muda yang bila kau di
tatapnya. Kau akan terdiam, menikmati keindahan dua bola mata yang menusuk
matamu. Oh, shit. Apa-apaan ini? Kesadarannya
mengambil alih, ia buru-buru mengalihkan tatapannya berharap Haikal tak
menyadari apa yang barusan ia lakukan.
“Sekarang kita ngapain?” Haikal melirik Gania.
“Kita?” ia
mengerutkan keningnya.
“Gue
yakin lo nggak akan ngehabisin seharian ini cuma duduk disini dengan headset di
telinga lo sampai bel pulang.” jawabnya.
Sekarang
giliran Gania yang terdiam. Membiarkan kata-kata terakhir dari lelaki itu
menggantung. Gania memperhatikan punggung Haikal yang kini sedang berjalan
menuju tempat sepeda-motornya terparkir. Meninggalkan Gania yang masih duduk di
tempatnya dengan kebingungan. Haikal berbalik dan menatap Gania, yang langsung
mengagguk dan menyusulnya.
Gania
menerima helm dari Haikal, dengan
canggung ia duduk di belakang kemudi. Haikal menyalakan motornya dan mulai
meninggalkan pekarangan sekolah. Dalam hati Gania mengucapkan selamat tinggal
pada hari sialnya. Gania menoleh pada benda putih yang masih terpasang di kedua
telinganya, ia melepas headset-nya dan memasukannya secara acak ke dalam saku.
Kali ini, ia tak membutuhkan benda
itu. Owl City telah bersuka hati
menyanyikan lagu Good Time di dalam
kepalanya saat ini.[]
