Minggu, 20 Oktober 2013

a secret [two]



You can read previrous stories here. ;)
 
Sebuah lagu dari Elliott Smith mengalun lembut di telinganya. Sesekali tangannya mengetuk-ngetuk meja seiring dengan alunan musik. Matanya terpejam, ia sudah lelah dengan mata pelajaran seharian ini.

            “Beres?” sang lelaki yang sejak tadi menghiraukannya akhirnya mengeluarkan suara. Gania terdiam sesaat sebelum menjawab, ia membuka matanya dan mengangguk tanpa melirik lelaki itu yang kini kembali sibuk dengan soal-soal dan jawabannya yang sampai sekarang belum di yakininya.
Matanya melirik ke arah jam dinding kelas yang menunjukan beberapa menit lagi ia akan terbebas dari ruangan ini. Gania sudah muak. Matanya sudah tak tahan lagi menahan kantuk, dan otaknya sudah tak mau lagi bekerja sama dengan beberapa soal yang sekarang di hiraukannya. Beberapa orang mulai mengumpulkan lembar jawaban dan berhamburan meninggalkan kelas. Gania melirik lelaki di sebelahnya. Bertanya-tanya sebenarnya apa yang masih ia kerjakan.

            Merasa sudah yakin dengan jawabannya sendiri, ia bangkit dari kursinya dan meraih lembar jawabannya sebelum melangkah mundur dan kembali melirik si lelaki.
            “Mau ngumpulin bareng, nggak?” ia bertanya, si lelaki menoleh dan menggelengkan kepala. Gania kembali berjalan menghampiri sang guru yang sedang menunggu dengan tatapan bosan. Setelah menyerahkan lembar jawabannya, ia kembali ke mejanya, mengambil tas dan berjalan ke arah pintu keluar. Kali ini, tanpa menoleh kembali ke belakang.

***
Gania berjalan cepat, sesekali ia menyusul orang-orang di depannya yang berjalan terlalu santai. Jam digital di tangannya menunjukan bahwa beberapa menit lagi, bel sekolah akan berbunyi. Gania mempercepat langkahnya, ia tak peduli dengan ocehan lelaki-lelaki usil yang menggodanya saat ia berlari. Perkumpulan bajingan. Umpatnya, masih berlari mengejar waktu menuju gerbang sekolah yang ia harap masih terbuka untuknya.
            Hal pertama yang ia lihat setelah mencapai belokan terakhir menuju sekolahnya adalah, gerbang tersebut telah tergembok rapat. Semangatnya merosot sebelum matanya melihat sesuatu yang menariknya kembali berjalan menghampiri sebuah gerobak di depan sekolahnya. 

            “Haikal..” ia menyapa. Lelaki yang sedang asik menyantap sarapan itu menoleh. Menggeser duduknya memberi ruang untuk Gania duduk. Dan kembali menyantap makanannya. Gania tak menghiraukannya. Ia terlalu lelah dan duduk di sebelah lelaki itu.

            “Lo telat juga?” Gania memulai percakapan setelah beberapa menit yang hening.

            “Kalo gue nggak kesiangan, gue nggak mungkin duduk disini sekarang.” Haikal menjawab tanpa menoleh, masih menikmati makanannya. Lagi-lagi Gania merutuki dirinya sendiri. Damn, ia selalu terlihat bodoh di hadapan lelaki ini. Tangannya mencari sesuatu. Sesuatu yang selalu menjadi pelarianya. Matanya sekarang terpejam, kedua headset terpasang di kedua telinganya.

            “Lo suka musik?” ia membuka matanya, sedikit terkejut mendapati lelaki itu sedang menatap ke arahnya.
            “Lo suka bernafas?” Gania balik bertanya. 

Haikal tak menjawabnya. Dan mereka kembali dalam keheningan selama beberapa saat, sesekali Gania melirik Haikal yang sekarang sedang duduk menatap gerbang sekolah yang tertutup rapat di hadapan mereka.

            “Lo pasti nyesel nggak bisa masuk jam pelajaran sekarang,” lagi-lagi Gania membuka percakapan.

            “Iya” Haikal menjawab singkat, masih menatap gerbang di depannya. Gania menoleh, melihat lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya, ia memiliki hidung mancung, kulit sawo matang, dan memiliki mata berwarna cokelat muda yang bila kau di tatapnya. Kau akan terdiam, menikmati keindahan dua bola mata yang menusuk matamu. Oh, shit. Apa-apaan ini? Kesadarannya mengambil alih, ia buru-buru mengalihkan tatapannya berharap Haikal tak menyadari apa yang barusan ia lakukan.

            “Sekarang kita ngapain?” Haikal melirik Gania.

            “Kita?” ia mengerutkan keningnya.

            “Gue yakin lo nggak akan ngehabisin seharian ini cuma duduk disini dengan headset di telinga lo sampai bel pulang.” jawabnya.

Sekarang giliran Gania yang terdiam. Membiarkan kata-kata terakhir dari lelaki itu menggantung. Gania memperhatikan punggung Haikal yang kini sedang berjalan menuju tempat sepeda-motornya terparkir. Meninggalkan Gania yang masih duduk di tempatnya dengan kebingungan. Haikal berbalik dan menatap Gania, yang langsung mengagguk dan menyusulnya.

Gania menerima helm dari Haikal, dengan canggung ia duduk di belakang kemudi. Haikal menyalakan motornya dan mulai meninggalkan pekarangan sekolah. Dalam hati Gania mengucapkan selamat tinggal pada hari sialnya. Gania menoleh pada benda putih yang masih terpasang di kedua telinganya, ia melepas headset-nya dan memasukannya secara acak ke dalam saku.
            Kali ini, ia tak membutuhkan benda itu. Owl City telah bersuka hati menyanyikan lagu Good Time di dalam kepalanya saat ini.[]

Minggu, 13 Oktober 2013

a secret [one]


Gania menguap.

Matanya masih terpejam, meski ia tahu sekarang tentu saja sudah terlambat berangkat sekolah. Seolah tak peduli, ia menarik kembali selimutnya untuk menutupi matanya dari cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela. Pikirannya mulai berkelana. Mengingat-ngingat  kejadian apa saja yang terjadi kemarin. Ini adalah semacam kebiasaannya setiap bangun di pagi hari. Ia ingat, hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di bangku SMA. Seharusnya, ia sudah mengikuti acara-acara bodoh yang dimanfaatkan oleh anak-anak osis itu. Ajang balas dendam. Batinnya meledek. Dengan malas ia menyingkap selinmutnya dan mulai bangkit dari kasur. Ia tahu masa orientasi sudah berakhir, dan mau tak mau ia harus siap menyambut hari yang akan membuatnya lelah.

***            

Langkah kakinya yang setengah berlari menggema di sepanjang koridor. Ia tahu ini akan menjadi hari pertama yang mengenaskan. Ia benci menjadi orang asing. Termasuk menjadi murid baru. Langkahnya berhenti di depan kelas yang di beritahu oleh staf sekolah. 
Gania menghela napas sebentar. Lalu dengan hati-hati ia mengayun daun pintu hingga terbuka. Siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk karena terlambat di hari pertama masuk. Suasana ribut seketika menyergapnya. Gania masuk, sedikit lega mendapati bahwa wali kelas barunya belum ada di dalam kelas.Matanya menelusuri seluruh ruangan kelas. Mencari sisa bangku kosong untuk di duduki. Kedua dari belakang, barisan keempat dari kanan, terdapat lelaki yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sekali lagi, Gania melempar pandangannya berharap menemukan bangku kosong yang lain. Namun nihil. Dengan malas, ia berjalan menghampiri lelaki itu. Tak ada yang memperhatikan Gania, semua sibuk dengan runtinitasnya. Saling mengenal satu sama lain dengan teman barunya, sesekali Gania melempar senyum jika ada yang mengalihkan tatapannya padanya saat ia berjalan.            

“Kosong?” Ia bertanya pada lelaki yang kini ada dihadapannya. Tak ada jawaban.

“Apa kursi ini kosong?” ia bertanya sekali lagi dengan nada suara yang menunjukan bahwa ia kesal. 

Sekarang lelaki itu menoleh. Menatap Gania yang sekarang berdiri di hadapannya dengan raut kesal menunggu jawaban. Lelaki itu mengangguk namun tidak mengalihkan tatapan matanya dari Gania. Gania yang di tatap seperti itu menatap balik, menantang.Suara pintu terbuka, kali ini seolah-olah menghentikan semua runtinitas yang sebelumnya sangat bising. Semua siswa melirik ke arah pintu. Di mana sekarang seorang wanita sedang berdiri di ambang pintu. Setelah melihat wali kelasnya menuju meja, Gania duduk di sebelah lelaki yang kini kembali sibuk dengan pekerjaannya seolah tak peduli siapa yang datang barusan. 

Merasa bahwa ia harus sedikit berbasa-basi dengan teman sebangkunya,Gania mengulurkan tangannya di bawah meja.             

“Gania,” ia memperkenalkan diri. Sang lelaki menoleh. Sekali lagi, menatap matanya. Dan membalas uluran tangan Gania.           

“Haikal..” jawabnya.

Haikal. Ya, dan dari situlah awalnya.[]

Sabtu, 12 Oktober 2013

best friend or friends while?



Sore ini gue mau ngebahas satu topik yang sesuai dengan judul di atas. Yup, best friend or friends while? Jadi, ceritanya tadi siang gue lagi nyari file penting, terus gue ngintip ke kolong ranjang tempat gue nyimpen semua buku-buku lama. Kenapa harus di kolong ranjang? Hem.. karna kamar kost gue yang sempit kali ya, jadi kolong ranjang satu-satu nya tempat pelarian. Oke.. kembali ke topik, nah pas gue lagi nyari duit nyempil barang yang gue cari gue liat sesuatu yang ketangkep mata gue dan ngebuat gue ngelamun sesaat.. Bukan.. gue bukan ngelamun karena nggak nemu duit nyempil. Tapi saat itu gue nemu binder! Well, anak yang waktu SD nya gaul pasti nggak asing sama yang namanya binder. Iya, ini binder jaman waktu gue SD. Nah, otomatis gue tertarik buat buka-buka itu binder. Nostalgia ceritanya. Soalnya, sewaktu gue pindahan kemarin gue nggak sempet ngelirik ini binder.
               
 Disitu gue nemu biodata-biodata temen-temen gue waktu SD, curhatan gue waktu SD, coret-coretan gue sama temen-temen SD yang kebanyakan isinya kayak:  Ulosin. (Udin Lope Sinta) Usitasta. (Udin Sinta Selalu Tetap Abadi) dan masih banyak lagi!  Yang jelas gausah di bahas terlalu banyak ya.. gue ngeri baca ke-alay-an gue jaman dulu. Tapi gue bangga pernah alay, kenapa? Karena anak yang dulu nya alay berarti gaul. Iya, gaul. Karena jaman dulu itu alay gaul. Jadi, gue B4n99a jadi anak 4l4y.

 Oke.

Cukup.

Gue tau kalian sakit mata bacanya. Muahaha.
                Pas gue nyampe ke halaman yang isinya kumpulan biodata, gue senyum sendiri. Gue inget waktu satu hari terakhir mau UN gue sebarin kertas binder gue yang selama ini gue awet-awet. Gue minta semua biodata temen-temen gue. Gue orangnya paling seneng menyimpan sebuah kenangan atau apapun melalui tulisan tangan di sebuah kertas. Nggak tau kenapa, mungkin karena menurut gue kalo kita nulis di  kertas/surat, saat surat itu umurnya udah tua, kenangannya masih kerasa banget.
Gue mulai ngebaca tulisan-tulisan tangan dan bahasa polosnya temen-temen gue. Sumpah, rasanya gue beruntung banget punya semua biodata temen kecil gue. Jujur, dari sekian banyak yang nulis di binder gue, nggak semuanya yang orangnya sekarang gue inget. Nggak tau karena gue emang pikun atau emang udah terlalu lama dan semuanya udah keganti sama wajah-wajah dan nama-nama baru seiring berjalannya waktu. Sebenernya, gue agak setuju sama istilah yang bilang: Kalo ada temen baru, temen lama dilupain.
               
 Jangan salah sangka dulu.. maksud gue disini, bukan berarti gue orangnya gampang ngebuang temen lama dan pergi sama temen baru. Gue nggak sesadis itu. Tapi coba deh, kalian renungin. Misalnya, saat kalian di bangku SD, kalian pasti punya yang namanya sahabat dua atau tiga orang yang bener-bener kalian sayang, sahabat ya.. bukan temen. Inget, nggak semua temen itu sahabat. Tapi semua sahabat pasti temen. Yaiyalah.

Saat kalian bareng-bareng sama mereka kalian bener-bener ngerasa nemuin orang yang paling ngertiin kalian. Kalian ngerasa kalo mereka bakalan jadi temen kalian sampe kapanpun. Kalian saling mengikrar janji kalo kalian bakalan sama-sama terus apapun yang terjadi. Pokoknya kalian udah ngerasa klop banget sama sahabat kalian itu. Dia bisa ngertiin apa yang kalian mau, dia bisa jadi pendengar yang baik buat kalian, kalian ngabisin waktu bareng, main monopoli bareng, main lompat tinggi bareng, main barbie bareng, main mobil bareng, mainin cowok bareng, dan masih banyak lagi hal-hal yang kalian lakuin bersama. Tapi yang namanya waktu, ya pasti terus berjalan. Nggak peduli keadaan kalian, kalian mohon-mohon sampe air mata kalian berubah jadi batu pun waktu bakalan terus berjalan. Kalian lulus SD dan naik ke SMP. 

Satu bulan, kalian ngerasa kalian kehilangan banget sosok sahabat kalian di SD, kalian merasa bahwa disini kalian nggak bakal lagi nemuin temen seperti itu lagi. Satu semester berlalu, kalian udah punya sosok yang sedikit-sedikit udah bisa ngegantiin posisi sahabat kalian waktu SD. Dua taun berlalu, kalian udah ngerasa klop sama sahabat yang kalian temukan di situ. Kalian mulai merasa bahwa sahabat kalian sekarang jauh lebih baik. Tiga tahun berlalu, saat kalian udah ngerasa nemuin orang yang kalian (seperti biasa) nilai udah bener-bener bisa jadi orang yang klop banget sama kalian. Si waktu kembali mengambil alih, kalian harus terus berjalan mengikuti alur yang ada. Kalian naik ke SMA. Tiga tahun di SMA, bro!

Menurut gue, SMA itu adalah puncaknya masa remaja gue. Saat-saat gue bakalan nemuin jati diri gue. Cuma di SMA lo bisa ngetawain bocah-bocah yang masih pake baju merah putih! Cuma di SMA lo bisa neriakin anak-anak SMP dengan: “HAHAHA. HARI GINI? PAKE SERAGAM PUTIH BIRU? AWAS BOKER DI CELANA! HAHAHAHA!” Iya, kalian bakal ngerasain bangganya pake seragam putih abu itu cuma di SMA. 

Pokoknya, SMA itu adalah tingkat dimana kebebasan gue selama di jenjang pendidikan. Banyak deh hal-hal yang gue harepin yang bakal terjadi di masa SMA. Meskipun sekarang gue masih duduk di kelas dua. Seenggaknya, masih delapan bulan lagi gue bakalan berumur 17 tahun. Yang katanya sih, sweet seventeen itu adalah hal yang spesial. Gue nggak tahu apa arti spesial yang mereka bilang. Yang jelas, gue nggak mau terlalu berharap hal spesial itu tiba saat ge berumur 17. Meskipun gue sering ngebayanign. Gimana ya, kalo saat gue umur 17 tahun ternyata gue sebenernya seorang Demigod? Atau Mutan? Atau sebenernya gue vampire? Atau jangan-jangan gue itu Immortal?

Oke.
Lupakan.

Kembali ke topik. Di SMA ini nggak usah di tanya lagi, kalian pasti bakalan menemukan yang namanya sahabat (lagi). Lagi lagi orang asing. Lagi-lagi harus beradaptasi. Lagi-lagi harus ninggalin temen lama. Hufftt.  But, this is life. All continue to move. Saat di titik ini, coba kalian berhenti dulu. Maksud gue, coba lempar pikiran kalian ke masa-masa SD kalian, masa-masa SMP kalian, buat seolah-olah semua itu adalah film lama yang di puter di kepala kalian.

                Kalian akan menemukan si A di masa SD yang (katanya) adalah satu-satunya sahabat terbaik kalian di dunia. Lalu kalian akan menemukan si B di masa SMP yang udah nemenin hari-hari kalian yang (katanya juga) satu-satunya sahabat terbaik kalian di dunia. Dan saat ini. Kalian punya si C sahabat yang kalian anggap sahabat terbaik di dunia yang ada di samping kalian saat ini. So? Siapa sebenernya SAHABAT TERBAIK KALIAN DI DUNIA? Si A yang sekarangpun kalian mungkin udah lupa gimana rupanya, si B yang saat ini udah nggak keliatan batang idungnya, atau si C yang saat ini ada di samping kalian? Nggak usah di jawab. I know your answer. Paling hati kecil kalian bilang, “Ya pasti si C, lah. Dia selalu ada saat gue ngerasa sedih. Dia yang sekarang ada di sisi gue dampingin masa-masa kritis gue. Nggak kayak si A dan si B, mereka udah sibuk sama dunianya sendiri.”

Gue yakin, saat kalian ngomong kayak gitu kalian nggak ngaca dulu. Apakah kalian juga ada disaat masa-masa beratnya si A dan B? Apakah kalian mencoba untuk mempertahankan persahabatan kalian dengan si A dan B yang katanya mereka sahabat terbaik kalian? Hei, kalo emang iya mereka sahabat terbaik kalian, persahabatan kalian nggak bakal abis di makan waktu dan jarak. But look, sekarang si A dan B Cuma jadi masa lalu kalian. Kalian bisa aja saat ini bilang si C yang ada buat kalian. Tapi gue nggak bisa jamin dia bakalan ada saat kalian akhirnya harus terpisah.

                Gue bisa prediksi satu atau beberapa tahun kemudian bakalan ada si D yang bakal gantiin posisi si C, dan ada si E, F, seterusnya sampe abjad Z. Dan saat kalian tua akhirnya kalan sadar bahwa yang namanya temen itu nggak netep. Mereka bukan orang yang bakal terus-terusan ada saat kalian butuhin. Nggak usah ngelak. Nggak usah pake alesan kalo gue sih nggak, gue sama si udin bakalan jadi sahabat sejati yang hanya bisa terpisahkan oleh maut. Bukan jarak dan waktu. Hahaha. Bulshit. Menurut gue, temen yang nggak bisa terpisahkan oleh jarak dan waktu itu udah jarang banget. Tapi bukan berarti nggak ada sih. Cuma emang jarang banget orang yang bersahabat dari SD sampe tua kecuali mereka emang selalu satu sekolah atau kakak-adek. -__-

Terus? Kesimpulannya, Git? Yup, kesimpulan dari semua ocehan gue di atas adalah satu pertanyaan. Disaat kalian berpikir kalian lagi menjalin hubungan persahabatan yang sangat-sangat erat coba tanyakan ini pada diri kalian sendiri: best friend or friends while?  Supaya kalian bisa mikir dua kali buat nggak ngebuat janji-janji yang belum tentu bisa kalian tepatin saat kalain sama dia udah nggak jadi saabat lagi. Emang nggak ada yang namanya mantan sahabat, tapi sahabat lama pasti ada. Dan kata ‘lama’ itu bisa jadi dua kemungkinan. Sahabat lama yang emang udah sahabatan dari dulu sampe sekarang atau sahabat lama yang sekarang udah nggak jadi sahabat lagi. Apapun itu. Akuin sama diri sendiri kalo contoh di atas pasti kalian pernah alamin. Jangan sosoan mengangkat harga diri kalian tentang ke solidaritas-an. Listen, satu-satu nya orang yang bakalan ada dalam hidup kalian dan nggak akan pernah pergi bersama waktu itu adalah keluarga. ;))

Yeah, this is end of the post. Sori kalo ada kata-kata di atas yang menyinggung tentang rasa solidaritas di hati kalian. Ini Cuma pendapat gue tentang dunia pertemanan. Dia nggak selalu ada di situ. Yang artinya pertemanan itu datang dan pergi, sesuai dengan waktu yang berjalan. Tapi bukan berarti mereka nggak penting buat kalian. Pertemanan adalah salah satu hal wajib yang harus kalian jalanin dimanapun kalian berada. Remember it. Yang punya opini lain tentang dunia pertemanan bisa share ke gue di comment box, ya! :D


Thanks.