Sabtu, 18 Januari 2014

Ops, Mission Failed!

Begitu denger kata gagal, atau mengalami kegagalan yang baru terjadi di depan mata kalian. Apa, sih yang langsung nyangkut di kepala kalian? Kecewa? Marah? Ingin meledak? Ingin menciut? Yap, gue yakin semua orang yang baru mengalami kegagalan merasakan hal yang sama. Bahkan sekalipun Mario Teguh dan para motivator-motivator hebat lainnya.

Sebelum gue lanjut, gue mau share beberapa pendapat tentang orang-orang di sekitar gue tentang kegagalan:

Kakak Mentor: "Kalau kata teteh, kegagalan itu tidak ada, yang ada hanya kita yang belum mampu menyadari kesuksesan kita." *manggut-manggut*

Nyokap: "Tidak mencapai titik kesuksesan?" *yang ini buat gue deg-deg-an*

Temen gue: "Gak bisa selingkuh dalam satu sekolah?" *geleng-geleng*

Gue: Kecewa.

Karena menurut gue, reaksi alami para kaum fana saat mengalami kegagalan adalah intinya sama: kecewa. Nggak peduli apa yang mereka pikirkan, katakan, ocehkan, atau sudut pandang mereka melihat kegagalan yang menimpanya sebagai sesuatu yang baik atau buruk, intinya mereka tetep kecewa.
Pernah denger dong pepatah populer tentang kegagalan: kegagalan adalah kunci dari keberhasilan? Ini adalah salah satu pepatah yang paling populer menurut pengamatan gue. Pepatah ini tertoreh di majalah-majalah, di buku-buku psikologi, di lks sejarah, di mana-mana. Gue udah baca ribuan kali, gue ngerti isinya. Gue ngerti apa maksudnya, tapi gue nggak menemukan secuil harapan dari pepatah manapun tentang bahwa kegagalan adalah kunci dari keberhasilan di dalam diri gue. Tunggu, bukannya gue nggak percaya itu. Tapi gue tentu saja percaya semua pepatah yang gue baca, maksud gue, itu semua ujung-ujungnya emang bener, kan? Kegagalan adalah benih kecil dari keberhasilan. Semakin sering gagal, semakin banyak kau belajar.

Gue nggak akan mengelak, karena suatu saat gue bakal mengerti dan benar-benar memahami semua pepatah itu. Tapi untuk sekarang, biarkan gue menikmati kegagalan-kegagalan yang selama ini selalu gue keluhkan. Yang sejauh ini keluhan gue tidak berdampak apa-apa selain kejengkelan dari orang-orang sekitar gue.
Gue nggak tahu kenapa ingin nulis ini, gue hanya ingin tahu apa pendapat kalian tentang kegagalan. Kalian yang sama-sama berada di posisi gue. Gue merasa lelah bertanya sama orang-orang yang menurut ukuran gue, sukses, mendapatkan apa yang mereka inginkan, berhasil, dan jawaban mereka selalu sama: kegagalan itu buahnya manis, atau, kalo lo nggak gagal, lo nggak akan berhasil, atau, lo mau tau rumusnya sukses? Gagal dulu!

Kalo gue lagi dalam keadaan normal, saat gue mendengar itu gue cuma bisa manggut-manggut tanda bahwa gue ngerti apa yang mereka maksud. Tapi kalo dalam keadaan baru tertimpa kegagalan... Yaa.. You know, lah.. Rasanya gue ingin teriak di telinga mereka: " WOI! LO NGGAK NGERASAIN YANG GUE RASAIN! KECEWA! MARAH! GUE KURANG APA, SIHHHHHHH??!!?" Tapi, tentu saja itu nggak gue lakuin, gue nggak sebodoh itu. Gue emang meneriaki itu semua.
Tapi dalem hati.
Dan tentu saja gue salah dalam bagian mereka nggak ngerasain apa yang gue rasain, setidaknya, mereka pernah merasakan kegagalan seperti yang gue rasakan saat ini. Itu kan yang mereka maksud rumus dari sukses?

Tapi gue hanya menemukan dan merasakan apa yang mereka katakan saat gue mendapatkan apa yang gue inginkan. Contohnya, waktu kelas tiga SMP. Di semester terakhir sebelum kelulusan, gue mendapati bahwa gue masuk dalam Tiga besar di kelas. Woha! I'm very excited. Yang ada dalam kepala gue saat itu adalah bahwa semua yang orang-orang katakan tentang kegagalan membuahkan hasil emang bener!
Contoh lainnya, satu tahun yang lalu, gue coba-coba ikutan Pertukaran Pelajar yang katanya, yang gue denger seleksi nya nggak terlalu berat. Dengan modal niat, iya, gue cuma punya modal niat+nekat saat itu. Gue berangkat ke tempat di mana seleksi pertama di adakan. Dalam perjalanan berangkat, gue mendadak merasakan kepercayaan diri gue meningkat. Gue pergi sama temen saat itu, yang kita sama-sama ikutan seleksi.
Awalnya gue emang iseng, tapi saat gue mendapati diri gue di tempat seleksi gue tau gue harus serius. Gue udah berangan-angan gimana rasanya kalo gue lolos. Gue udah membayangkan satu tahun penuh pengalaman di negara orang yang nantinya bakal gue tulis. Gue merasakan ambisi gue meningkat. Sampai pada saat pengumuman...
Gue nggak di hubungi.
Itu artinya, gue gagal.
Gue dan temen gue gagal.
Mimpi-mimpi yang kita bicarakan di perjalanan menuju tempat seleksi lenyap sudah.
"Seengaknya, kita udah mencoba. Nggak kayak mereka yang terlalu takut gagal hanya untuk mencoba." ujar temen gue, gue mengangguk.
Tapi gue nggak terlalu memperhatikan temen gue, gue tau apa yang dia katakan hanya untuk membesarkan hati kami masing-masing. Padahal, di dalam kepala dan pikiran masing-masing, kita sibuk menyalahkan diri sendiri, menyalahkan tuhan, menyalahkan juri, menyalahkan soal yang sulit, menyalahkan siapapun hanya untuk menenangkan diri kita sendiri.
Dan mendapati bahwa kita berada di ruangan kosong, hampa.
Sendirian.
Mendapati bahwa kita gagal.
Bahwa kita tak mampu menunjukan sesuatu untuk di banggakan.
Mendapati bahwa badan kita semakin mengecil dalam ruang hampa itu dan semakin mengecil.
Hingga hanya ada satu titik yang tersisa.
Satu titik yang menunggu di beri harapan dan membesarkan diri lagi.
"Terima saja, kau kalah sekarang. Kau tahu seberapa kecil kemampuanmu, kan, mahluk bodoh?" kata sebuah suara, tentu saja itu bukan suara orang tua kita. Mereka selalu menutupi rasa kecewa mereka, bukan?
Dan kalo yang lo pikirkan adalah suara para sahabat lo itu juga bukan. Mereka selalu menutupi fakta bahwa kalian ya.. Payah, untuk menghargai kalian, kan?
Itu adalah suara dalam kepala lo, yang berdentam-dentam dan saling menimpali, "Gue bisa. Gue hanya belom dapet kesempatan itu." kata sebuah suara lagi.
Dan mereka berdebat.
Tentang bagaimana mereka memandang kegagalan dari sudut pandang mereka, mereka adalah bagian dari diri kita sendiri. Mereka adalah ego kita. Yang selalu bertentangan dalam semua hal.
Dan, gue tebak, yang selalu menang adalah dia yang pendapatnya paling realistis saat itu. Misal, saat gue gagal Pertukaran pelajar kemarin, gue emang lebih mendengarkan sisi gelap dalam diri gue.
Dan, lo bisa tebak gue lebih mendengarkan komentar sisi gue yang mana saat gue mendapat juara kelas.
Jadi, itu semua tergantung keadaan, kan? Dan gue bukan berbicara tentang dua orang yang bertentangan dan sosok mana yang lebih lo dengarkan.
Tapi, gue berbicara tentang satu orang dengan sudut pandang yang beragam. Contohnya? Gue.
Saat gue mendapati kegagalan yang ada di depan mata, gue merutuki diri sendiri dan mendumel. Meski gue tahu saat itu berakhir gue akan mencoba lagi dan mencoba lagi. Gue hanya butuh semacam pengingat bahwa gue memang pantas mendapatkan kegagalan itu dengan memaki diri gue sendiri dan memaksa untuk lebih baik.
Yeah, this is end of the post. Sori, gue tau ini adalah postingan yang nggak berguna. Gue hanya menulis keresahan gue, gue hanya ingin berkeluh kesah. Nggak dosa, kan? Gue ingetin ya, postingan sebelum postingan ini emang gue lagi waras sampe bisa nyerocos yang lebih berguna dari pada semua ini. Gue cuma.. Yaa, anak remaja yang sedang mengalami keresahan karena kegagalan-kegagalannya? Dan mencari tempat untuk berkeluh kesah sehabis gagal dan mencoba lagi dan lagi. Setidaknya, untuk sekarang gue masih menikmati keluh kesah gue sebagai remaja normal. Tomorrow? Who know?

Minggu, 12 Januari 2014

Alasan-alasan Mempertahankan Hubungan


Dalam pekatnya malam, Sinta terus berceloteh kepada Budi yang sejak tadi mengangguk-ngangguk mendengarnya berceloteh yang jika ia dengar baik-baik bahwa sahabatnya itu bercerita hal yang sejak tadi di ulang-ulang. Tapi Budi diam saja, ia hanya memperhatikan Sinta yang sesekali emosinya memuncak saat ia menggambarkan bagaimana kekasihnya itu sedang berjalan mesra dengan wannita lain yang tak ia kenal. Setelah emosinya tumpah ruah dengan cara mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, ia langsung menangis dengan histeris. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Sinta bertingkah seperti itu. Hampir setiap tujuh kali dalam seminggu Sinta menggedor pintu rumah Budi dan menangis kepada sahabatnya sambil berteriak-teriak.
            “Karna gue sayang sama dia, Bud!” teriak Sinta menjawab pertanyaan Budi yang selalu sama.

“Meskipun dia terus-terusan nyakitin lo?” tanya Budi tanpa meninggalkan tatapannya pada sahabatnya itu.

“Iya. Karna gue tau dia bakalan berubah. Gue tau dia cuma lagi mengetes gue aja, seberapa tahan gue sama dia, seberapa sayang gue sama dia. Dan seberapa kuat gue mertahanin hubungan ini.” jawab Sinta, air matanya mulai keluar lagi.

“Hubungan yang lo sendiri nggak bahagia.” tutur Budi. Sembari meneguk kopi yang masih panas, ia merengkuh gelas itu dalam jemarinya.

“Gue bahagia.” jawab Sinta, sekarang ia menunduk. Tangannya sibuk mengepal-ngepal sesuatu yang kelihatnnya seperti tissue yang sudah hancur.

“Buktinya? Lo dateng setiap malem kesini cuma buat mengutarakan hal yang hampir sama. Lo dateng buat ngadu tentang kelakuan cowok lo sambil nangis, terus besoknya lo bilang udah maafin cowok lo dan kalian baikan lagi. Lusanya, lo nangis lagi dan nangis lagi. Gue bingung hal apa yang ngebuat lo bahagia.” jelas Budi, cangkir kopi masih dalam genggamannya. 

“Gue bahagia. Cuma itu. Lo nggak usah tanya-tanya alasan kenapa gue bahagia. Cuma gue yang tau.” jawab Sinta, ia masih menunduk, tissue dalam genggamannya sekarang sudah benar-benar hancur dan basah oleh air mata.
“Oke. Kalo gitu gue tanya, apa alasan lo untuk mempertahankan hubungan kalian?” tanya Budi, ia meneguk sedikit kopinya dan menyimpannya di atas meja.

“Lo tau itu, Bud. Karna gue sayang sama dia.” sekarang ia melemparkan tissue nya dan merengkuh wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.

“Sayang? Oke, lo sayang sama dia. Lo berkorban buat dia. Lo bertahan buat dia. Kalo emang lo sesabar dan sehebat itu, lo nggak akan marah-marah sambil nangis sekarang. Bertahan karna alasan sayang padahal udah dikhianatin berkali-kali? This is your life, Sin. Please, take control of it. ” tutup Budi, ia menghabiskan kopinya dengan sekali teguk dan beranjak menuju pintu rumahnya meninggalkan Sinta yang masih menunduk.
***

Berikut adalah sedikit cerita dari tema yang bakal gue bahas kali ini. Akhir-akhir ini gue sering ngeliat status-status following gue di Twitter atau di lingkungan sekitar gue yang sering mengeluh tentang hubungan mereka yang bahkan nggak mereka nikmati sama sekali. Disini ada beberapa alasan-alasan yang sering diutarakan oleh mereka yang gue ringkas sesuai dengan pengamatan gue.

1.      Sayang
Ini udah mainstream banget. Ini adalah alasan pertama yang di ucapkan oleh para pemeran cinta yang galaunya ngelebihin orang jomblo. Kayak tokoh si Sinta di atas. Dia bilang bahwa dia sayang sama pacarnya yang udah nyakitin dia berkali-kali. Menurut gue nggak salah, sih kalau dia emang mau mempertahankan hubungannya sendiri atas nama cinta. Itu hak dia. Tapi seperti yang Budi bilang diatas, kalo emang dia niat buat mempertahankan dan memperjuangkan hubungannya. Dia nggak perlu terus-terusan nangis dan marah-marah, mengeluarkan umpatan kasar sama pacarnya ketika pacarnya selingkuh.
 Keputusan siapa yang mau bertahan? Keputusan siapa yang lagi-lagi memberi maaf pada orang yang udah nyakitin dia berkali-kali? Menurut gue kalo udah sejauh ini dan si Sinta terus-terusan memberi maaf kesalahan bukan hanya ada di pihak lelaki, tapi kepintaran Sinta juga dipertanyakan disini~

2.      Nggak Tega
Ha! Biasanya yang make alasan ini adalah tipe orang yang memiliki hati nurani yang sangat besar. Gimana nggak? Dia mertahanin hubungannya sendiri, dia mengorbankan batinnya sendiri yang tercabik-cabik hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Seakan-akan pacarnya adalah pengemis di jalanan yang kalo dia nggak ngorbanin uang kertasnya cuma karna nggak ada receh hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran apa mau mengasihani anak orang, sih?

3.      “Udah lama, Sayang Kalo Diputusin”
Gue emang jarang ngedenger ada orang yang pake alesan ini. Tapi bukan berarti nggak ada. Biasanya orang-orang yang bilang kayak gini adalah mereka yang hubungannya udah terlalu jauh dan sayang untuk di akhiri. Tapi menurut gue, nggak masuk akal kalau kita menjalani hubungan dengan seseorang yang udah nggak nyaman untuk di jalanin tapi masih aja bertahan karena pengen langgeng. Sejauh apapun hubungan kalian, meskipun di awalnya kalian sama-sama bahagia tapi pada akhir-akhir kalian ngerasa banyak yang berubah pada hubungan kalian sedniri. Atau kalian udah ragu sama perasaan pasangan kalian. Tapi lo tetep bertahan cuma karna lo sayang sama hitungan bulan yang udah jauh dan membuat teman-teman kalian berkata iri, “Langgeng banget. Gue pengen kayak kalian berdua.” Tapi nyatanya hubungan kalian udah kerompong! Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran atau mau ngitung tanggal Anniv, sih?

4.      Jalanin aja, Gue Kuat, kok.
Lo baca cerita di atas? Dimana tokoh Sinta menyebut seakan-akan dia adalah sosok yang hebat, pejuang cinta yang tak kenal lelah meski udah di sakitin ke sekian kalinya. Tapi dia tetap bertahan dengan alasan bahwa dia kuat. Kuat? Kata kuat ini sih, yang biasanya selalu di pertanyaankan. Hubungan yang baik itu nggak butuh kekuatan dari satu pihak doang. Percuma sekuat apapun lo kalo lo masih mengumbar-ngumbar kegalauan lo di social media. Apa yang lo harapkan? Di baca pacar lo? Yang kanyataannya belum tentu dia peduli.
Kalo emang lo bahagia sama hubungan lo yang sekarang, lo nggak perlu mengarahkan kekuatan yang lo punya itu cuma buat mempertahankan hal yang udah kadaluarsa. Baru pacaran aja lo udah mati-matian berusaha sekuat mungkin buat menjadi tegar. Apalagi kalo lo udah nikah sama dia? Lo mau pacaran apa ngangkat barbell?

5.      Dia Bakal Berubah, Kok.
      Biasanya alesan ini dia katakan lebih kepada dirinya sendiri. Buat meyakinkan kepada dirinya kalo orang yang dia sayang dan nyakitin dia suatu saat bakal berubah. Read: Suatu saat. Ya kali beruntung kalo emang kenyataannya pacar lo emang berubah ke hal yang positif. Gimana kalo dia berubah, tapi malah berubah menjadi semakin liar? Apa namanya yang sering dipake anak gaul sekarang? Leor. Please, berhenti membodohi diri sendiri. Emang nggak ada orang yang sempurna, emang semua orang pernah khilaf dan ngelakuin kesalahan. Tapi kalo orang itu udah dikasih maaf dan dia ngelakuin kesalahannya berulang-ulang kali hanya untuk mendapatkan kata maaf yang dengan gampang lo kasih, apa lo yakin orang kayak gitu bakalan berubah? Padahal dalam lubuk hati lo, lo sebenernya udah muak ngeliat kelakuan busuk pacar lo, lo udah nggak kuat lagi di sakitin berkali-kali dengan jangka waktu yang nggak lama setelah lo ngasih kepercayaan sama dia. Tapi yang lo dapatkan bukan perubahan. Malah pengkhianatan yang berusaha keras-keras lo tutup-tutupin bahkan dari diri lo sendiri. Hanya untuk membisikan pada hati kecil lo kalo dia bakal berubah, dan lo bakal tetep bertahan.
 Cih.

6.      Gue Itu Pemaaf
Hai, kenalin gue adalah orang pemaaf yang menyebut dirinya sangat pemaaf dan rendah hati. Gue adalah orang yang paling suka memaklumi kesalahan orang lain karena gue tau setiap orang itu pasti pernah salah. Ya, meskipun dia ngelakuin kesalahan yang sama yang jelas-jelas udah dia lakuin berulang kali dan balik lagi ke gue untuk mendapatkan maaf gue. Maksud gue, bukan berarti gue nggak sakit hati tentang perlakuannya ke gue yang terus-terusan mempermainkan gue. Tapi gue nggak punya pilihan. Gue nggak tega ngeliat dia mohon-mohon sama gue, gue nggak mau nyakitin dia. Jadi, gue itu pemaaf kan? Ya, gue maafin dia lagi. Maaf ya, gue cuma orang lemah yang bisanya duduk manis menunggu orang kecintaan gue dateng dengan dosa dan menunggu di beri maaf oleh gue. Jadi, silahkan sebut gue bodoh. Gue nggak akan marah, karna gue nggak punya pilihan. Gue itu pemaaf, kan? Ya, jadi gue maafin.

***
Jadi, kesimpulan dari semua ocehan gue di atas? Yap, kalian menjalankan hubungan dengan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan, benar? Kalian pacaran buat memenuhi hari-hari kalian dengan warna bukan malah membuat hidup kalian yang udah abu-abu jadi item, kan? Kalian pacaran untuk mencintai dan dicintai kekasih kalian, untuk berbagi, dan semacamnya, lah. Bukan malah menjelma menjadi mahluk galau Twitter yang galaunya melebihi orang jomblo.
Gue nggak menjadi pihak yang menyalahkan mereka yang sedang berusaha mempertahankan hubungan mereka yang dulunya sangat manis. Gue cuma mau ngasih tau, semua point di atas nggak bakalan berlaku buat kemajuan hubungan lo, kalo cuma lo yang berusaha mempertahankan hubungan itu sendiri. Semua itu nggak akan berlaku kalo hanya satu pihak yang mati-matian berusaha sementara pihak satunya tidak membantu sama sekali.Jangankan membantu, dia malah memperburuk keadaan. Mencintai seseorang dan berjuang untuk mempertahankannya itu nggak salah. Tapi carilah orang yang mau di ajak bekerja sama untuk mempertahankan hubungan kalian berdua. Karna kalo hanya satu yang berjuang, itu nggak adil.

Ini hidup lo kan? Lo berhak mengambil keputusan sesuai dengan yang lo inginkan. meski keputusan itu bertentangan dengan yang lo harapkan. But, you don’t always get what you want, right?

Yeah, this is end of the post. Sori kalo banyak kata-kata yang menyinggung kalian, seperti biasa, this is just my opinion. Hasil dari pengamatan gue sendiri, hasil dari ringkasan gue sendiri, hasil dari ketikan gue sendiri, dan semoga di baca nggak sama gue sendiri. Ngahaha. Oiya, buat temen-temen yang punya pengalaman mengenai mempertahankan hubungan ayo share di comment box ya! Terimakasih!:D