“Memangnya harus ya,
kita mengerjakan ini semua?” ia melemparkan bolpoinnya dengan asal. Semangat
yang mengembara dalam dirinya sudah hilang. Lelaki di depannya masih berkutat
dan seakan-akan ia tidak sadar keberadaan temannya. Merasa bosan tidak di perhatikan,
gadis itu beranjak dan berjalan menuju dapur dengan malas.
“Semua keluhan lo itu,
nggak berpengaruh buat tugas kita,” lelaki itu akhirnya bersuara saat Gania
kembali membawa air putih di tangannya. Gania memutar bola matanya, ia sudah
bosan dengan drama ini. Masih beridiri sambil menegak air minumnya, ia
memperhatikan sahabatnya yang sekarang telah kembali sibuk. Sudah enam minggu
berlalu sejak mereka berdua di tugaskan dalam membaca puisi, dan sejak itu
Gania selalu bertanya-tanya perempuan seperti apa yang cukup beruntung menarik
perhatian Haikal. Haikal adalah lelaki yang mempunyai rambut hitam dan berkulit
sawo matang. Pemandangan itu di dukung oleh warna mata coklatnya, serta hidung
mancung yang sesekali ia garuk, Gania tahu ia melakukannya tidak saat
benar-benar gatal. Haikal melakukan itu saat ia merasa gugup, bosan…
“Jangan terlalu lama
ngeliatin, kalo lo jatuh cinta sama gue, gue nggak bertanggung jawab,”
lagi-lagi Gania memutar bola matanya. Meski ia tahu Haikal tak melihatnya,
lelaki itu berbicara tanpa menoleh. Ia benci jika tertangkap basah sedang
memperhatikan seseorang, dan ia akan lebih benci jika terlihat bodoh sesudah
itu. Ia tak mau kalah beragumen dengan Haikal.
“Asal lo tau, tipe
cowok gue bukan orang yang freak,”
Gania memulai, ia meletekan gelas yang telah kosongnya di atas meja kecil di
antara mereka, dan kembali bergabung dengan lelaki itu. Baru saja Gania akan
melanjutkan, Haikal sudah mendongak dan menatapnya sambil berkata, “Dan lo udah
mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali. Tapi buktinya gue nggak pernah
ngeliat lo deket sama siapapun selain gue,” ucap Haikal.
“Gue deket sama Riana,
Nisa, Doni, dan lo nggak usah sok tau,” jawab Gania, ia sudah mengganggap
pembicaraan ini selesai saat Haikal tak juga menjawab. Bahkan Gania ragu Haikal
mendengar jawabannya.
“Riana dan Nisa itu
cewek, dan Doni itu lagi berusaha deketin Riana melalui lo. Dan, gue juga tau,
lo nggak mungkin tertarik dengan cowok kayak Doni,” ucap Haikal, sekarang ia
beranjak menuju dapur. Gania mengikutinya dengan tatapan heran.
“Gue tau tentang mereka
berdua cewek. Dan lo nggak salah tentang gue nggak mungkin naksir Doni. Dan
kali ini, lo bener-bener udah sok tau. Emangnya semua yang deket sama gue harus
sampe lo tau, ya?” Gania memulai lagi saat Haikal kembali membawa segelas air
putih yang sudah setengahnya.
“Itu sih terserah lo.
Tapi kan yang tadi itu cuma pendapat gue.” Haikal meletakan gelas yang masih
tersisa di samping gelas kosong Gania.
“Dan jangan lo kira cuma
lo disini yang punya pendapat. Gue juga tau, selama ini gue nggak pernah
ngeliat lo deket sama cewek lain di sekolah,” jawab Gania, merasa puas dengan jawabannya saat
melihat Haikal sedikit tercengang.
“Lo cuma nggak tahu
aja,” ucap Haikal yang rupanya berniat menutup topik pembicaraan ini. Yang
melegakan Gania karena ia sendiri telah muak. Topik seperti ini selalu
membuatnya gugup. Menit-menit selanjutnya mereka habiskan dengan saling diam.
Mereka sedang berada di rumah Haikal. Gania sudah mulai terbiasa dengan aroma
pewangi ruangan ini, terbiasa dengan cat biru muda yang mengelilingi seluruh
ruangan, seakan-akan meninggalkan rasa nyaman yang tak dapat ia jelaskan. Gania
melemparkan pandangannya pada sebuah foto berpigur yang menampilkan seorang
bocah lelaki yang sedang tertawa lebar di latar belakangi ombak pantai pada
musim panas.
Jika ia lihat, nyaris
semua foto yang berada disini di latar belakangi suasana pantai. Dan Gania
dapat menyimpulkan, bahwa Haikal sangat menyukai pantai. Ia merasa telah
mengenal Haikal sangat lama, ia merasa telah menjadi bagian dari Haikal dan
telah mengenal Haikal lebih dari ia mengenali dirinya sendiri. Dan, apa pula
yang ada dikepalanya ini? Sudah jelas ia baru mengenal Haikal enam bulan yang
lalu. Waktu yang singkat jika sampai ia merasa telah mengenal Haikal terlalu
jauh. Pikirannya berputar pada pembicaraan terakhir Haikal tadi. Apa katanya?
Ia hanya tidak tahu? Apa yang belum ia ketahui tentang Haikal?
***
Hari sudah sangat sore
saat Gania meninggalkan rumah Haikal. Ia menolak ajakan Haikal untuk
mengantarnya, Gania ingin dan perlu waktu untuk menyendiri. Ia meredam suara
kebisingan di sekitarnya dengan handsfree menempel di telinganya.
Komplek Haikal berada lumayan jauh dengan rumahnya, dan saat ini ia terjebak di
dalam taksi di tengah kemacetan kota Bandung. Akhir pekan sudah di mulai, dan
kotanya akan di penuhi penghuni kota Jakarta yang ingin melepas penat setelah
seminggu penuh berdesakkan dengan berbagai macam masalah. Mencoba mencari
tempat untuk melepas penat dan menghabiskan waktu dengan keluarga, kekasih,
atau hanya menyendiri dan mengunjungi tempat-tempat yang menurutnya bisa
melepas penat. Ia mengalihkan tatapannya melalui jendela, menatap kesibukan
yang tidak ada hentinya. Ia bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkan
orang-orang yang ada di luar sana, lampu merah didepannya rupanya sudah
berakhir. Dan taksinya meluncur mulus sepanjang jalan, ia menangkap
kelebatan-kelebatan cepat yang tidak jelas di hadapannya. Tiba-tiba, pikirannya
tertuju pada pembicaraannya dengan Haikal tentang dirinya. Tapi buktinya gue
nggak pernah ngeliat lo deket sama siapapun selain gue. Yah, dan ia tidak bisa
menyangkalnya, bukan?
Ia memang tidak
mempunyai orang yang dekat dengannya sedekat Haikal dengannya. Meski Gania
tahu, baru enam bulan berlalu sejak Gania menghampiri meja lelaki yang sibuk
dengan pekerjaannya, dan menyodorkan tangan mungilnya dibawah meja sembari
memperkenalkan dirinya. Waktu terus berlari, batinnya. Dan kelebatan-kelebatan
peristiwa yang sudah ia lalui dengan Haikal berkelebatan dalam pikirannya
seperti jalanan yang dilaluinya saat ini.
Gania sudah tidak ingat
kapan terakhir kali ia merasakan hal-hal menggelikan yang ia rasakan saat ia
menatap Haikal dengan cara yang berbeda seperti ia menatap orang lain.
Terkadang, Gania menatap Haikal dengan
pandangan burung kepada langit, mereka memang sudah merasa dekat dengan
tujuan mereka, dan orang-orang yang tertinggal di bawahnya menatapnya dengan
iri seakan-akan mereka adalah satu-satunya mahluk beruntung yang mempunyai
sayap dan memiliki kesempatan untuk menggapai langit.
Namun kenyataannya,
burung-burung tidak pernah sampai pada tujuan mereka. Tidak peduli seberapa
cepat mereka terbang. Angin akan membawanya kembali, atau langit itu sendiri
terasa seperti mundur menjauh. Ini bodoh. Ia berbisik pada benaknya. Ia
bukan burung yang berterbangan mencoba menggapai langit. Sejak kapan ia
membandingkan dirinya sendiri dengan hal-hal bodoh seperti ini?
***
Jika Gania harus
memberikan apa saja agar ia mendapatkan hari liburnya dengan hal yang sudah
sangat ia dambakan selama seminggu penuh yang melelahkan, dengan bergelung
dalam kamarnya dengan penerangan muram dan membiarkan dirinya tenggelam dalam
rasa malas, ia belum sempat membiarkan itu semua terjadi.
Dengan setengah
mengantuk, Gania mencari-cari ponselnya yang sejak tadi berdering. Membuat
Gania ingin melemparkan benda itu sampai hancur supaya diam. Tapi hal itu ia
kesampingkan ketika melihat nama di dalam layar ponselnya.
Salsa.
Ia menerima panggilan
itu dengan terheran-heran. Dan segera mendapati suara sahabatnya yang sudah
familer selama tiga tahun belakangan, dan menyadari ini kali pertama setelah,
ia tidak ingat kapan, ia mendengar suaranya. Dan disinilah ia sekarang,
terperangkap dalam dunia sahabatnya di antara rak-rak penuh buku. Dulu, mereka
sering pergi ke tempat ini hampir setiap minggu. Salsa adalah teman sebangkunya
semasa SMP. Dan meskipun ia telah mendengar semua ocehan Salsa tentang
bagaimana rasanya membaca buku dan kita masuk dalam dunianya, tenggelam sampai
kita sadar sebenarnya kita tidak benar-benar ada disana. Dan menyadari bahwa
kita tenggelam dalam pikiran kita sendiri. Gania tidak merasa dirinya tertarik,
bahkan sedikitpun. Ia selalu duduk di pojok kanan ruangan dan bersandar pada sofa
yang mengelilingi seperempat dari ruangan itu. Handsfree terpasang di
telinganya. Ruangan itu adalah ruangan yang berpenerangan sedikit muram. Tidak banyak
pengunjung pada minggu ini, mungkin orang-orang lebih tertarik mengantri tiket
bioskop ketimbang meleburkan dirinya dengan setumpukan buku. Namun, Gania tidak
merasa tertarik dengan keduanya. Benaknya berputar, Haikal senang membaca. Ia
tahu itu, di lihat dari koleksi buku yang terjajar rapi saat ia memasuki
kamarnya kali pertama. Tapi Gania tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Ia
menyadari bahwa ada, bahkan banyak, hal-hal yang membuatnya merasa, dan harus
diketahuinya tentang lelaki itu. Meski ia tidak tahu kenapa—
"Gania!" ia
tersentak dari lamunannya dan mendapati sorot mata sahabatnya yang terlihat
kesal. Seperti biasa.
"Apa?"
tanyanya polos.
"Oh, ayolah. Gue
yakin omongan gue lima menit terakhir sia-sia." Salsa mengehempaskan diri
di sampingnya. Gadis itu sekarang sedang menggenggam beberapa buku dengan
antusias.
"Sori, gue nggak
denger. Ada apa? Kalo lo mau berkicau tentang semua buku yang udah lo baca itu.
Gue mau ngingetin kalo lo udah berkali-kali bercerita bahwa tokoh disit— "
"Oh, diamlah. Gue
tadi cerita tentang Alfi. Gue putus." ia menatap sahabatnya, membelakak.
Salsa menjatuhkan buku-buku itu di sampingnya dan menunduk. Gania diam.
Menunggu sampai sahabatnya menyelesaikan ucapannya.
"Lo bener,
Gan." lanjutnya.
"Tentang? Asal lo tahu,
terlalu banyak kebeneran dalam kata-kata gue." ia mencoba melucu, dan
tentu saja gagal.
"Alfi bukan tokoh yang pantas buat ending
cerita gue. Dan gue nggak bisa menemukan— "
Tapi ia tidak pernah
tahu apa yang tidak bisa di temukan sahabatnya, suara Salsa semakin samar dan
perhatian Gania telah teralihkan sepenuhnya pada sosok yang memunggunginya di
ujung ruangan. Gania mengenal sosok itu meski ia tak bisa melihat wajahnya.
Disisinya, berdiri seorang gadis, berambut panjang tergerai dengan warna hitam
yang serasi dengan dress biru cerah yang dikenakannya. Gadis itu berbalik,
tersenyum lebar pada lawan bicaranya. Ketika sang lawan bicaranya ikut
berbalik, Gania melihatnya. Haikal sedang tertawa memamerkan barisan gigi
putihnya, tawa yang telah familier di telinganya sendiri. Lelaki itu memakai
kaus putih polos yang dipadukan dengan jeans hitam andalannya. Napas Gania
tercekat. Untuk kali pertama, tawa Haikal yang biasanya menenangkan hatinya,
membuatnya geli dan nyaman, itu semua lenyap digantikan dengan gemuruh keras
ditelinganya, ia tidak tahu alasannya. Apa mungkin ini karena bukan dirinya
yang ada di samping Haikal? Karena bukan dirinya yang membuatnya tertawa
seperti biasa? Atau karena sesuatu di dalam dirinya, jauh di dalam lubuk
hatinya, kecewa? Haikal benar. Tidak semua hal tentangnya diketahui Gania. Tapi
ia merasa sakit. Ia merasa dikhianati meski kenyatannya tidak begitu. Haikal
bisa saja pergi bersama ratusan wanita dan tidak harus sampai Gania
mengetahuinya. Ia bisa saja siap menerima kemungkinan itu, tapi sekarang, saat
Gania yakin Haikal tidak pernah tertarik dengan siapapun selama ia mengenalnya.
Tapi tentu saja ini bodoh. Lelaki itu normal dan ia tidak seharusnya berpikir
seperti itu. Namun ia telah mengenal Haikal selama enam bulan. Waktu yang cukup
lama untuk menyimpulkan bahwa ia sudah benar-benar mengenali lelaki itu. Dan ia
di hadapkan dengan kenyataan yang mengembalikannya berpijak pada bumi. Menyadarkanya
akan dirinya sendiri, bahwa ia selama ini diam-diam telah memupuk sedikit
harapan— tidak. Tapi itu tidak akan pernah
terjadi. Apapula yang sedang dipikirkannya? Ia hanya sedang melihat sahabat
lelakinya kencan dengan seorang wanita yang bahkan sangat manis. Lalu, apa yang
perlu dipermasalahkan?
Salsa mengguncang
bahunya dengan cukup keras sehingga membuyarkan lamunan Gania, ia mendapati
tatapan kesal dari gadis itu. Sebelum mengalihkan tatapannya kembali pada
Haikal yang sekarang sedang berusaha mengambil buku pada rak yang cukup tinggi.
Ia memang cukup tinggi untuk lelaki seukurannya, hampir sepantar dengan Gania. Dan
gadis yang berada di sampinya jelas-jelas lebih mungil daripada postur tubuh
Haikal.
"Hebat. Bahkan
sekarang lo sama sekali nggak menganggap keberadaan gue. Lo kenapa, sih?"
ujar Salsa, yang menatap Gania dengan putus asa. Salsa mengikuti tatapan Gania
yang sejak tadi tidak ditinggalkannya. Mendapati pasangan remaja yang sedang
tertawa dengan obrolan ringan mengenai buku humor yang sedang di pegang salah
satu di antara mereka. Salsa mengenali buku itu dari sampul yang dipegang si
gadis. Dan mengernyit karena sepertinya tidak ada bahan humor dari buku yang
mereka pegang untuk ditertawai. Dan kembali menatap sahabatnya, "Oh,
jangan bilang sekarang lo mulai jatuh cinta pada pandangan pertama sama cowok
yang jelas-jelas udah punya cewek. It's bad, honey," ujar Salsa.
"Satu, gue ragu
mereka pasangan remaja yang sedang bermabuk cinta di tempat membosankan kayak gini.
Dan kedua, gue nggak jatuh cinta, apalagi pada pandangan pertama." ia
menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Haikal sama sekali tidak menyadari
keberadaannya. Terlalu larut dalam pembicaraan yang tak bisa Gania terka. Dan,
tentu saja Haikal masih terlihat santai, tidak menyadari ada seseorang sedang
menatapnya.
"Terserah. Tapi
ini konyol. Sejak kapan sih lo ngeliatin cowok yang bahkan nggak lo kenal sama
sekali? Sebegitu mempesonanya ya, sampai lo nggak mau berkedip sama
sekali." Salsa memutar bola matanya, Gania mulai pulih dari
keterkejutannya, sekarang ia merapikan tasnya dan hendak beranjak. Ruangan ini
terasa sangat panas dan pengap. Meski beberapa menit yang lalu ia tidak
merasakannya sama sekali. Masih diikuti tatapan heran dari sahabatnya, ia
berkata, "Gue kenal dia. Oh, dan yang perlu lo tau, GUE SAMA SEKALI NGGAK
TERPESONA DENGAN SIAPAPUN. Dan, apa lo udah selesai dengan semua urusan buku lo
ini? Karena gue mulai bosen dengan tempat ini. Jadi, lo ikut apa tinggal?"
ia mengatakan kata-kata terakhirnya sambil beranjak menjauhi tempat duduknya, mendengar Salsa menggumam dengan kesal karena
ia belum mau pergi dari sini namun teatap mengikutinya. Gania harus melewati
Haikal jika ingin mencapai pintu keluar. Dan melakukannya dengan sangat mudah,
diluar dugaannya. Haikal masih larut dalam percakapannya. Salsa di belakangnya,
masih menggerutu tidak jelas namun tetap mencoba mengejar Gania dan menyamai
langkahnya. Saat mereka berdua telah mencapai pintu, Gania melirik ke arah
Haikal untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari
tempat yang menyesakkan itu. Dan, ia bersumpah, bahwa Haikal membalas tatapannya.[]
Izin ngisi kotak Komen-nya kk Domo :))
BalasHapusMonggo-monggo=))
Hapus