Senin, 11 Agustus 2014

"Unfair"

“Life is unfair, kill yourself or get over it.”

Menurut gue Quote diatas bener banget. IMHO, hidup itu udah kayak induknya masalah. Semakin berjalannya waktu semakin bercabang itu masalah. Tiap hari itu pasti ada aja masalah, mau kecil atau gede yang penting namanya masalah. Jadi kalo ada orang yang bilang kalo mereka nggak mau dapet masalah ya simple, tinggal mati aja dan mereka bakal dapet apa yang mereka mau. Karena kalo mau hidup tanpa masalah itu mustahil, bro. Ibarat lo pengen mandi tapi nggak mau kena air. Tayamum aja sana.

Terus, kalo hidup itu cabang dari masalah, kenapa masih aja ada orang yang mau hidup? Karena mereka-mereka itu punya sudut pandang sendiri tentang masalah dari kehidupan mereka. Mereka punya alasan-alasan tersendiri untuk mempertahankan kehidupan mereka yang sebenernya udah nggak mau mereka lanjutin. Atau mereka punya seseorang yang masih mengikat mereka untuk terus ngelanjutin hidup.

Sudut pandang yang kayak gimana?

Pernah nggak sih, lo berpikir bahwa lo adalah satu-satunya mahluk yang sengsara banget saat lo dapet masalah? Ibarat lo udah jalan jauh-jauh dan ternyata lo nemuin jalan buntu, sedangkan lo ngeliat orang lain udah pada sampe ke tempat tujuan tanpa hambatan. Itu rasanya kayak pengen ngamuk sama Tuhan atau siapapun yang ngebuat lo menderita dan teriak bahwa lo kesel, marah, capek, dan lo nggak terima kenapa harus lo yang dapet masalah “segede” ini. Dan ini adalah sudut pandang yang bisa membuat masalah lo 1000x lipat lebih buruk.

Well, pada kenyataannya, saat lo nemuin jalan “buntu” itu sebenernya orang-orang yang lo anggap udah sampe ke tempat tujuan tanpa hambatan itu salah. Sebenernya mereka mendapatkan hambatan dan masalah sesuai dengan ukuran dari kekuatan mereka. Pernahkan denger ada yang bilang bahwa Tuhan itu nggak akan ngasih cobaan diluar batas kemampuan kita. Itu artinya saat Tuhan ngasih kita masalah yang lumayan “besar” dia tau kalo kita mampu buat nanganin itu. Semakin besar masalah kita, semakin Dia percaya bahwa kita punya kekuatan yang lebih dari yang kita sadari.

Misalkan, si A itu adalah anak yang manja sampai saat ibunya meninggal dunia dan dia tinggal sendiri karena ayahnya menikah lagi dan mendapatkan istri yang tidak menyukainya. Maka si A pun memilih untuk hidup sendiri, mencari kerja, dan pada akhirnya bisa membiayai hidupnya. Mungkin pada awalnya si A nggak sadar bahwa dia mempunyai kekuatan untuk bertahan menghadapi masalah sampai saat dia dapet masalah itu. Mungkin saat dia masih tinggal di atap yang sama dengan kedua orang tuanya dan bersikap manja, dia nggak pernah sekalipun membayangkan bahwa beberapa hari dari saat itu ibunya akan berhenti bernapas dan dia bakal jadi anak yatim, dan beberapa bulan setelah itu, dia nggak akan tahu bahwa ayahnya yang tadinya selalu ada buat dia akhirnya berpaling hanya karena seorang perempuan. Dan dia nggak mungkin sekalipun berpikir bahwa dia bisa mencari uang dan makan dari keringatnya sendiri.

Tapi gue tau, saat lo dapet masalah lo nggak akan melirik si A atau B atau C yang ternyata punya masalah yang lebih berat dari lo. Lo hanya peduli pada diri lo sendiri dan menyimpulkan bahwa si A, B dan C mempunyai hidup yang sempurna sesuai bayangan lo sendiri. Padahal kalo sedetik aja lo meluangkan waktu lo ditengah-tengah kesibukan lo mengeluh dan melihat kehidupan si A, itu bisa membuat lo jadi lebih baik meski nggak menyelesaikan masalah lo.

Selasa, 05 Agustus 2014

Tahun Terakhir

Haloo... Udah berapa bulan nggak nulis? Baru sebulan. Well, tadinya gue beberapa hari ke belakang mau posting. Udah ada di draft, dikit lagi, pas mau diposting, ngerasa nggak penting. Jadi tulisan malang itu bertengger di draft beserta tulisan-tulisan malang lainnya. Sebenernya ini juga tulisan malang yang nggak penting, sih. Tapi ya nggak apa-apa. Berbagi hal yang nggak penting itu lebih baik daripada nggak berbagi apa-apa.

So, maksud dari judul di atas adalah gue mau bahas tentang Tahun Terakhir gue di SMA. Bukan Tahun Terakhir gue hidup. Karena gue nggak tahu kapan Tahun Terakhir gue hidup.

Seperti yang kalian sering denger, setiap ada orang yang udah mau menyelesaikan sesuatu itu pasti mereka nyeletuk: Duh, nggak kerasa ya. Udah sejauh ini. Mungkin kalian bosen denger orang ngomong gitu, tapi sebenernya menurut gue itu bener. Udah dua hari ini gue jadi siswa kelas XII di sekolah gue. Ngeliat muka-muka baru berkeliaran di koridor sekolah, ketemu temen-temen yang nggak kerasa udah dua tahun aja bareng mereka. Yang sebenernya ada bosennya juga sih liat mereka.. Muka-muka yang setaun dua taun ke depan bakal gue kangenin, muka-muka yang tiga empat lima enam tujuh tahun kemudian bakal gue lupain. Emang bener, kan?

Konsep sekolah itu rumit. Liat aja pas libur sekolah, lo pengen libur tapi pas libur pengen sekolah. Atau nggak pas dikelas, nungguin lima menit buat bel istirahat aja rasanya lama banget. Tapi pas udah lulus bilang tiga tahun itu kayak semenit. Aneh, kan?

Kamis, 03 Juli 2014

17

Well, hari ini adalah hari ulang tahun gue yang ke-17. Yeah, akhirnya gue 17 tahun juga. Kemarin malem gue mantengin jam dari jam 11.50 sampe tepat jam 12.00 dan nunggu sesuatu terjadi. Maksudnya siapa tau diumur gue yang ke 17 gue mulai menunjukan perubahan-perubahan jadi mutan, atau bisa telekinesis, atau apapunlah.. Well, itu emang nggak terjadi. Semua itu cuma ada di fantasi gue.

Tapi Tuhan emang punya rencananya sendiri. Tepat jam 12 lebih beberapa menit, sodara-sodara gue buka kamar gue dan pada bawa kue yang ada lilinnya gitu sambil nyanyi.... That's cool, right? Ok, maybe i'm not a sweet people but, gue seneng. Dan kejutan yang kedua dateng pas balik teraweh, depan masjid, jam sembilan malem, tuh bocah-bocah ngeguyur gue pake air terasi, tiga telor, sama terigu!!!! JAM SEMBILAN MALEM!!! DEPAN MASJID PULA!!! Yeah, tapi itu semua gue anggap sebagai bentuk perhatian mereka dan perayaan mereka. Semua orang punya caranya masing-masing buat merayakan sesuatu. Dan untuk ke sekian kalinya, gue seneng.