Sabtu, 15 Februari 2014

a secret [four]


You must read a secret one, two, and three in here.. Happy reading. :))



“Memangnya harus ya, kita mengerjakan ini semua?” ia melemparkan bolpoinnya dengan asal. Semangat yang mengembara dalam dirinya sudah hilang. Lelaki di depannya masih berkutat dan seakan-akan ia tidak sadar keberadaan temannya. Merasa bosan tidak di perhatikan, gadis itu beranjak dan berjalan menuju dapur dengan malas.
“Semua keluhan lo itu, nggak berpengaruh buat tugas kita,” lelaki itu akhirnya bersuara saat Gania kembali membawa air putih di tangannya. Gania memutar bola matanya, ia sudah bosan dengan drama ini. Masih beridiri sambil menegak air minumnya, ia memperhatikan sahabatnya yang sekarang telah kembali sibuk. Sudah enam minggu berlalu sejak mereka berdua di tugaskan dalam membaca puisi, dan sejak itu Gania selalu bertanya-tanya perempuan seperti apa yang cukup beruntung menarik perhatian Haikal. Haikal adalah lelaki yang mempunyai rambut hitam dan berkulit sawo matang. Pemandangan itu di dukung oleh warna mata coklatnya, serta hidung mancung yang sesekali ia garuk, Gania tahu ia melakukannya tidak saat benar-benar gatal. Haikal melakukan itu saat ia merasa gugup, bosan…
“Jangan terlalu lama ngeliatin, kalo lo jatuh cinta sama gue, gue nggak bertanggung jawab,” lagi-lagi Gania memutar bola matanya. Meski ia tahu Haikal tak melihatnya, lelaki itu berbicara tanpa menoleh. Ia benci jika tertangkap basah sedang memperhatikan seseorang, dan ia akan lebih benci jika terlihat bodoh sesudah itu. Ia tak mau kalah beragumen dengan Haikal.
“Asal lo tau, tipe cowok gue bukan orang yang  freak,” Gania memulai, ia meletekan gelas yang telah kosongnya di atas meja kecil di antara mereka, dan kembali bergabung dengan lelaki itu. Baru saja Gania akan melanjutkan, Haikal sudah mendongak dan menatapnya sambil berkata, “Dan lo udah mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali. Tapi buktinya gue nggak pernah ngeliat lo deket sama siapapun selain gue,” ucap Haikal.
“Gue deket sama Riana, Nisa, Doni, dan lo nggak usah sok tau,” jawab Gania, ia sudah mengganggap pembicaraan ini selesai saat Haikal tak juga menjawab. Bahkan Gania ragu Haikal mendengar jawabannya.
“Riana dan Nisa itu cewek, dan Doni itu lagi berusaha deketin Riana melalui lo. Dan, gue juga tau, lo nggak mungkin tertarik dengan cowok kayak Doni,” ucap Haikal, sekarang ia beranjak menuju dapur. Gania mengikutinya dengan tatapan heran.
“Gue tau tentang mereka berdua cewek. Dan lo nggak salah tentang gue nggak mungkin naksir Doni. Dan kali ini, lo bener-bener udah sok tau. Emangnya semua yang deket sama gue harus sampe lo tau, ya?” Gania memulai lagi saat Haikal kembali membawa segelas air putih yang sudah setengahnya.
“Itu sih terserah lo. Tapi kan yang tadi itu cuma pendapat gue.” Haikal meletakan gelas yang masih tersisa di samping gelas kosong Gania.
“Dan jangan lo kira cuma lo disini yang punya pendapat. Gue juga tau, selama ini gue nggak pernah ngeliat lo deket sama cewek lain di sekolah,” jawab  Gania, merasa puas dengan jawabannya saat melihat Haikal sedikit tercengang.
“Lo cuma nggak tahu aja,” ucap Haikal yang rupanya berniat menutup topik pembicaraan ini. Yang melegakan Gania karena ia sendiri telah muak. Topik seperti ini selalu membuatnya gugup. Menit-menit selanjutnya mereka habiskan dengan saling diam. Mereka sedang berada di rumah Haikal. Gania sudah mulai terbiasa dengan aroma pewangi ruangan ini, terbiasa dengan cat biru muda yang mengelilingi seluruh ruangan, seakan-akan meninggalkan rasa nyaman yang tak dapat ia jelaskan. Gania melemparkan pandangannya pada sebuah foto berpigur yang menampilkan seorang bocah lelaki yang sedang tertawa lebar di latar belakangi ombak pantai pada musim panas.
Jika ia lihat, nyaris semua foto yang berada disini di latar belakangi suasana pantai. Dan Gania dapat menyimpulkan, bahwa Haikal sangat menyukai pantai. Ia merasa telah mengenal Haikal sangat lama, ia merasa telah menjadi bagian dari Haikal dan telah mengenal Haikal lebih dari ia mengenali dirinya sendiri. Dan, apa pula yang ada dikepalanya ini? Sudah jelas ia baru mengenal Haikal enam bulan yang lalu. Waktu yang singkat jika sampai ia merasa telah mengenal Haikal terlalu jauh. Pikirannya berputar pada pembicaraan terakhir Haikal tadi. Apa katanya? Ia hanya tidak tahu? Apa yang belum ia ketahui tentang Haikal?
***
Hari sudah sangat sore saat Gania meninggalkan rumah Haikal. Ia menolak ajakan Haikal untuk mengantarnya, Gania ingin dan perlu waktu untuk menyendiri. Ia meredam suara kebisingan di sekitarnya dengan handsfree menempel di telinganya. Komplek Haikal berada lumayan jauh dengan rumahnya, dan saat ini ia terjebak di dalam taksi di tengah kemacetan kota Bandung. Akhir pekan sudah di mulai, dan kotanya akan di penuhi penghuni kota Jakarta yang ingin melepas penat setelah seminggu penuh berdesakkan dengan berbagai macam masalah. Mencoba mencari tempat untuk melepas penat dan menghabiskan waktu dengan keluarga, kekasih, atau hanya menyendiri dan mengunjungi tempat-tempat yang menurutnya bisa melepas penat. Ia mengalihkan tatapannya melalui jendela, menatap kesibukan yang tidak ada hentinya. Ia bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkan orang-orang yang ada di luar sana, lampu merah didepannya rupanya sudah berakhir. Dan taksinya meluncur mulus sepanjang jalan, ia menangkap kelebatan-kelebatan cepat yang tidak jelas di hadapannya. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada pembicaraannya dengan Haikal tentang dirinya. Tapi buktinya gue nggak pernah ngeliat lo deket sama siapapun selain gue. Yah, dan ia tidak bisa menyangkalnya, bukan?
Ia memang tidak mempunyai orang yang dekat dengannya sedekat Haikal dengannya. Meski Gania tahu, baru enam bulan berlalu sejak Gania menghampiri meja lelaki yang sibuk dengan pekerjaannya, dan menyodorkan tangan mungilnya dibawah meja sembari memperkenalkan dirinya. Waktu terus berlari, batinnya. Dan kelebatan-kelebatan peristiwa yang sudah ia lalui dengan Haikal berkelebatan dalam pikirannya seperti jalanan yang dilaluinya saat ini.
Gania sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia merasakan hal-hal menggelikan yang ia rasakan saat ia menatap Haikal dengan cara yang berbeda seperti ia menatap orang lain. Terkadang, Gania menatap Haikal dengan  pandangan burung kepada langit, mereka memang sudah merasa dekat dengan tujuan mereka, dan orang-orang yang tertinggal di bawahnya menatapnya dengan iri seakan-akan mereka adalah satu-satunya mahluk beruntung yang mempunyai sayap dan memiliki kesempatan untuk menggapai langit.
Namun kenyataannya, burung-burung tidak pernah sampai pada tujuan mereka. Tidak peduli seberapa cepat mereka terbang. Angin akan membawanya kembali, atau langit itu sendiri terasa seperti mundur menjauh. Ini bodoh. Ia berbisik pada benaknya. Ia bukan burung yang berterbangan mencoba menggapai langit. Sejak kapan ia membandingkan dirinya sendiri dengan hal-hal bodoh seperti ini?

***

Jika Gania harus memberikan apa saja agar ia mendapatkan hari liburnya dengan hal yang sudah sangat ia dambakan selama seminggu penuh yang melelahkan, dengan bergelung dalam kamarnya dengan penerangan muram dan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa malas, ia belum sempat membiarkan itu semua terjadi.
Dengan setengah mengantuk, Gania mencari-cari ponselnya yang sejak tadi berdering. Membuat Gania ingin melemparkan benda itu sampai hancur supaya diam. Tapi hal itu ia kesampingkan ketika melihat nama di dalam layar ponselnya.
Salsa.
Ia menerima panggilan itu dengan terheran-heran. Dan segera mendapati suara sahabatnya yang sudah familer selama tiga tahun belakangan, dan menyadari ini kali pertama setelah, ia tidak ingat kapan, ia mendengar suaranya. Dan disinilah ia sekarang, terperangkap dalam dunia sahabatnya di antara rak-rak penuh buku. Dulu, mereka sering pergi ke tempat ini hampir setiap minggu. Salsa adalah teman sebangkunya semasa SMP. Dan meskipun ia telah mendengar semua ocehan Salsa tentang bagaimana rasanya membaca buku dan kita masuk dalam dunianya, tenggelam sampai kita sadar sebenarnya kita tidak benar-benar ada disana. Dan menyadari bahwa kita tenggelam dalam pikiran kita sendiri. Gania tidak merasa dirinya tertarik, bahkan sedikitpun. Ia selalu duduk di pojok kanan ruangan dan bersandar pada sofa yang mengelilingi seperempat dari ruangan itu. Handsfree terpasang di telinganya. Ruangan itu adalah ruangan yang berpenerangan sedikit muram. Tidak banyak pengunjung pada minggu ini, mungkin orang-orang lebih tertarik mengantri tiket bioskop ketimbang meleburkan dirinya dengan setumpukan buku. Namun, Gania tidak merasa tertarik dengan keduanya. Benaknya berputar, Haikal senang membaca. Ia tahu itu, di lihat dari koleksi buku yang terjajar rapi saat ia memasuki kamarnya kali pertama. Tapi Gania tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Ia menyadari bahwa ada, bahkan banyak, hal-hal yang membuatnya merasa, dan harus diketahuinya tentang lelaki itu. Meski ia tidak tahu kenapa
"Gania!" ia tersentak dari lamunannya dan mendapati sorot mata sahabatnya yang terlihat kesal. Seperti biasa.
"Apa?" tanyanya polos.
"Oh, ayolah. Gue yakin omongan gue lima menit terakhir sia-sia." Salsa mengehempaskan diri di sampingnya. Gadis itu sekarang sedang menggenggam beberapa buku dengan antusias.
"Sori, gue nggak denger. Ada apa? Kalo lo mau berkicau tentang semua buku yang udah lo baca itu. Gue mau ngingetin kalo lo udah berkali-kali bercerita bahwa tokoh disit"
"Oh, diamlah. Gue tadi cerita tentang Alfi. Gue putus." ia menatap sahabatnya, membelakak. Salsa menjatuhkan buku-buku itu di sampingnya dan menunduk. Gania diam. Menunggu sampai sahabatnya menyelesaikan ucapannya.
"Lo bener, Gan." lanjutnya.
"Tentang? Asal lo tahu, terlalu banyak kebeneran dalam kata-kata gue." ia mencoba melucu, dan tentu saja gagal.
"Alfi bukan tokoh yang pantas buat ending cerita gue. Dan gue nggak bisa menemukan"
Tapi ia tidak pernah tahu apa yang tidak bisa di temukan sahabatnya, suara Salsa semakin samar dan perhatian Gania telah teralihkan sepenuhnya pada sosok yang memunggunginya di ujung ruangan. Gania mengenal sosok itu meski ia tak bisa melihat wajahnya. Disisinya, berdiri seorang gadis, berambut panjang tergerai dengan warna hitam yang serasi dengan dress biru cerah yang dikenakannya. Gadis itu berbalik, tersenyum lebar pada lawan bicaranya. Ketika sang lawan bicaranya ikut berbalik, Gania melihatnya. Haikal sedang tertawa memamerkan barisan gigi putihnya, tawa yang telah familier di telinganya sendiri. Lelaki itu memakai kaus putih polos yang dipadukan dengan jeans hitam andalannya. Napas Gania tercekat. Untuk kali pertama, tawa Haikal yang biasanya menenangkan hatinya, membuatnya geli dan nyaman, itu semua lenyap digantikan dengan gemuruh keras ditelinganya, ia tidak tahu alasannya. Apa mungkin ini karena bukan dirinya yang ada di samping Haikal? Karena bukan dirinya yang membuatnya tertawa seperti biasa? Atau karena sesuatu di dalam dirinya, jauh di dalam lubuk hatinya, kecewa? Haikal benar. Tidak semua hal tentangnya diketahui Gania. Tapi ia merasa sakit. Ia merasa dikhianati meski kenyatannya tidak begitu. Haikal bisa saja pergi bersama ratusan wanita dan tidak harus sampai Gania mengetahuinya. Ia bisa saja siap menerima kemungkinan itu, tapi sekarang, saat Gania yakin Haikal tidak pernah tertarik dengan siapapun selama ia mengenalnya. Tapi tentu saja ini bodoh. Lelaki itu normal dan ia tidak seharusnya berpikir seperti itu. Namun ia telah mengenal Haikal selama enam bulan. Waktu yang cukup lama untuk menyimpulkan bahwa ia sudah benar-benar mengenali lelaki itu. Dan ia di hadapkan dengan kenyataan yang mengembalikannya berpijak pada bumi. Menyadarkanya akan dirinya sendiri, bahwa ia selama ini diam-diam telah memupuk sedikit harapantidak. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Apapula yang sedang dipikirkannya? Ia hanya sedang melihat sahabat lelakinya kencan dengan seorang wanita yang bahkan sangat manis. Lalu, apa yang perlu dipermasalahkan?
Salsa mengguncang bahunya dengan cukup keras sehingga membuyarkan lamunan Gania, ia mendapati tatapan kesal dari gadis itu. Sebelum mengalihkan tatapannya kembali pada Haikal yang sekarang sedang berusaha mengambil buku pada rak yang cukup tinggi. Ia memang cukup tinggi untuk lelaki seukurannya, hampir sepantar dengan Gania. Dan gadis yang berada di sampinya jelas-jelas lebih mungil daripada postur tubuh Haikal.
"Hebat. Bahkan sekarang lo sama sekali nggak menganggap keberadaan gue. Lo kenapa, sih?" ujar Salsa, yang menatap Gania dengan putus asa. Salsa mengikuti tatapan Gania yang sejak tadi tidak ditinggalkannya. Mendapati pasangan remaja yang sedang tertawa dengan obrolan ringan mengenai buku humor yang sedang di pegang salah satu di antara mereka. Salsa mengenali buku itu dari sampul yang dipegang si gadis. Dan mengernyit karena sepertinya tidak ada bahan humor dari buku yang mereka pegang untuk ditertawai. Dan kembali menatap sahabatnya, "Oh, jangan bilang sekarang lo mulai jatuh cinta pada pandangan pertama sama cowok yang jelas-jelas udah punya cewek. It's bad, honey," ujar Salsa.
"Satu, gue ragu mereka pasangan remaja yang sedang bermabuk cinta di tempat membosankan kayak gini. Dan kedua, gue nggak jatuh cinta, apalagi pada pandangan pertama." ia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Haikal sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Terlalu larut dalam pembicaraan yang tak bisa Gania terka. Dan, tentu saja Haikal masih terlihat santai, tidak menyadari ada seseorang sedang menatapnya.
"Terserah. Tapi ini konyol. Sejak kapan sih lo ngeliatin cowok yang bahkan nggak lo kenal sama sekali? Sebegitu mempesonanya ya, sampai lo nggak mau berkedip sama sekali." Salsa memutar bola matanya, Gania mulai pulih dari keterkejutannya, sekarang ia merapikan tasnya dan hendak beranjak. Ruangan ini terasa sangat panas dan pengap. Meski beberapa menit yang lalu ia tidak merasakannya sama sekali. Masih diikuti tatapan heran dari sahabatnya, ia berkata, "Gue kenal dia. Oh, dan yang perlu lo tau, GUE SAMA SEKALI NGGAK TERPESONA DENGAN SIAPAPUN. Dan, apa lo udah selesai dengan semua urusan buku lo ini? Karena gue mulai bosen dengan tempat ini. Jadi, lo ikut apa tinggal?" ia mengatakan kata-kata terakhirnya sambil beranjak menjauhi tempat duduknya,  mendengar Salsa menggumam dengan kesal karena ia belum mau pergi dari sini namun teatap mengikutinya. Gania harus melewati Haikal jika ingin mencapai pintu keluar. Dan melakukannya dengan sangat mudah, diluar dugaannya. Haikal masih larut dalam percakapannya. Salsa di belakangnya, masih menggerutu tidak jelas namun tetap mencoba mengejar Gania dan menyamai langkahnya. Saat mereka berdua telah mencapai pintu, Gania melirik ke arah Haikal untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari tempat yang menyesakkan itu. Dan, ia bersumpah, bahwa Haikal membalas tatapannya.[]