Sabtu, 30 November 2013

Student GuideBook for Dummies (Review) : Kevin Anggara

Ceritanya gue lagi bingung mau nulis apa dulu setelah dua minggu terakhir gue bolos nulis dan ngelanggar komitmen. Tadinya gue mau awali dengan kata-kata maaf kepada para pembaca yang udah nggak sabar nunggu tulisan gue disini. Tapi dipikir-pikir, pembaca gue selain nyokap, sepupu, sama temen sekelas (itu juga gue paksa sih) nggak ada lagi. Dan gue juga nggak yakin mereka nunggu tulisan gue terbit lagi atau nggak. Malah, gue juga ragu mereka bakalan inget gue pernah nulis apa. Ngahaha.

            Tapi, seperti apa kata Kevin Anggara, seorang pelajar berusia…. Ya, pokoknya masih muda, buat dapetin pembaca yang banyak itu di butuhin komitmen yang kuat. Contohnya, komitmen buat terus nulis meskipun readers masih sangat sedikit, tapi kalo kita terus konsisten sama komitmen awal buat nulis sesuai dengan jadwal yang ditentukan, pada akhirnya, pembaca akan berdatangan sendiri tanpa harus di paksa-paksa. Silahkan baca kelanjutannya disini.
Yap, sesuai dengan judul diatas. Malem ini gue mau buat sebuah review buku. Cekidot:

Penulis: Kevin Anggara

Judul buku: Student Guidebook for Dummies; Panduan Ngaco Pelajar Keren!

Genre: Non-fiksi komedi. 

Tebal: 260 hal. 

Penerbit: Bukune. 

Harga: Rp43.000

(Pesan online di 1. @bukabuku, 2. @bukukita, 3. @buku_plus)

Berikut adalah identitas singkat dari sebuah buku yang bakal gue review disini. Pertama-tama, buat kalian yang belum tau atau belum pernah denger siapa Kevin Anggara, coba klik link ini. Jadi, Kevin adalah salah satu penulis yang tadinya bersarang di blog dan bisa tembus ke penerbit di usianya yang masih sangat dini! (Ngomong gini gue berasa tua) Student Guidebook for Dummies (SGFD) adalah buku pertama Kevin.
Sesuai dengan identitas diatas, SGFD ini buku bergenre Non-Fiksi Komedi yang nyeritain ke absurd-an nya sebagai pelajar. Jadi, buat kalian para pelajar wajib banget baca buku ini! Di bukunya Kevin menceritakan kisah awal pelajar dari mulai MOS sampai Ujian Nasional. Tips-tips menghadapi kakak kelas saat MOS, menyiapkan mental disekolah baru, cara Menghadapi MOS untuk Pemula, cara Baik dan Benar Menghadapi MOS,  Gimana caranya menghadapi seminggu penuh sebagai pelajar, Cara Mencontek Saat Ujian, Macam-macam Guru di Sekolah, daaaaaaaaan masih banyak lagi!!! Bisa rontok jari gue kalo gue sebutin disini semua.

Pokoknya buat kalian yang masih ngeluh aja gimana caranya menghadapi keseharian kalian sebagai pelajar yang dari umur lima tahun nggak beres-beres aja, di SGFD ini semua tipsnya ada! Kalian nggak bakalan lagi ngerasa bosen dan males saat menghadapi hari senin, karena di SGFD ini juga Kevin memberikan Tips Mengikiuti Upacara yang wajib kalian Praktekan!
Selain itu, Kevin juga berbagi 9 Langkah Pedekate, (meskipun isinya absurd semua). Dan yang jadi point utama yang paling gue suka dari SGFD ini, banyak banget ilustrasinya! Gila! Buat lo yang emang nggak terlalu suka sama novel dengan alesan banyak banget tulisannya dan nggak ada gambarnya, nggak ada alesan lagi buat kalian nggak ngebaca buku ini!

Dengan apik, Kevin telah mengemas celotehan-celotehan yang bisa ngebuat kalian ngocok perut seharian dengan ilustrasinya yang nggak kalah keren! So, tunggu apalagi? Buruan borong bukunya! Buat yang males-malesan pergi ke Gramedia karena nggak ada temen jalan dan takut keliatan banget jomblonya, nggak usah khawatir. Kalian bisa pesen bukunya secara online di sini. :D

Buat yang masih ragu-ragu buat beli bukunya atau nggak, coba deh kalian kunjungi Kevin disini: http://kevinanggara.com . Disana kalian bisa baca kisah-kisah absurd dari Kevin yang kadang-kadang bijak, kadang-kadang sedih, kadang-kadang absurd, eh.. emang selalu absurd, sih. Dan kalian tentuin postingan mana yang paling kalian suka. Kalo gue sendiri, gue paling suka postingan yang judulnya FROM ZERO TO HERO, itu adalah postingan yang, jujur, membangun niat gue banget buat rajin lagi nulis.

Iya, Kevin adalah salah satu penulis yang tulisannya menginspirasi gue. Disitu, Kevin menceritakan awal mula dia ngeblog, sampai bisa buat buku di usianya yang sama dengan gue! Gila! Selesai baca postingan yang dia posting di bulan Agustus itu, gue membulatkan niat buat aktif lagi ngeblog di bulan September lalu. Iya, jadi kurang lebih umur blog gue sekarang adalah dua bulan. Karena keseringan bikin blog dengan nama aneh dan postingan yang isinya kebanyakan curhat, gue membulatkan niat juga buat lebih mengkontrol tulisan gue supaya nggak terlalu liar dan ngecapruk kayak sekarang ini… Well, ngomong-ngomong tentang umur blog, gue baru baca lagi peraturan lomba #GiveAwayTigaBulanan ini setelah gue mau beres bikin review ini.

Kampret. Disitu ditulis salah satu syaratnya adalah umur blog kita minimal harus berusia tiga bulan. Hiks. Tapi nggak apa-apa deh. Gue bikin review ini bukan semata-mata untuk berlomba dan dapetin hadiah, tapi buat mengasah tulisan gue dan siapa tau tulisan gue ini di baca Kevin Anggara. Iya, kan? Ngahahaha.

Akhir kata, buat kalian yang juga tertarik buat ikutan lomba ini silahkan klik ini dan ikuti cara-caranya! Btw, deadline nya akhir malam ini sebelum jam 00.00 lho. Masih ada waktu buat lari ke Gramedia-Baca Bukunya-Bikin Reviewnya. Ayo buruaaaaaaaaaaaan! :D


Minggu, 10 November 2013

a secret [three]


Hi! You can read a secret one and a secret two  here. :))

Cahaya matahari terpantul melalui kaca jendela di ruangan itu. Menambah rasa panas dan pengap. Seorang wanita paruh baya mengelap keringat dari pelipisnya. Matanya menelusuri seluruh ruangan, mengamati murid-murdinya yang sedang sibuk mengerjakan sebuah puisi yang di tugasinya dalam cuaca sepanas ini. Ia sendiri tidak yakin bisa membuat sebuah rangkaian kata yang indah dalam keadaan seperti ini. Lebih dari itu, ia tak begitu peduli pada usaha murid-muridnya.

Di sudut lain, seorang perempuan berambut kurang lebih sebahu sedang asik mengobrol dengan lawan bicaranya. Sesekali matanya menangkap mata sang lawan bicara. Yang, tentu saja tak di rasakan sang lawan bicara. Lima belas menit berlalu sejak sang guru memerintahkan mereka untuk membuat sebuah puisi. Konyol, pikirnya saat sang guru menjelaskan beberapa intruksi yang harus di ikuti murid-muridnya. Termasuk dirinya.

Ia tak menyukai hal-hal semacam itu. Dan merangkai kata demi kata untuk menjadi sebuah paragraf, atau bait, atau apapun itu bukan termasuk keahliannya. Dan ia lega mengetahui bahwa lelaki di sampingnya merasakan hal yang sama jika ia perhatikan bahwa sejak tadi mereka berdua tak melakukan tugas yang di perintahkan. 

Sang perempuan melempar pandangannya ke depan kelas, dimana wanita paruh baya yang membuatnya terjebak dalam kelas dan mata pelajaran yang tak disukainya sedang duduk berleha-leha melihat murid-muridnya dan tersenyum puas. Gania mengalihkan tatapannya pada teman sekelasnya. Sekarang ruangan ini benar-benar membuatnya muak dengan raut-raut berwajah stres memikirkan bagaimana caranya membuat rangkaian kata yang indah dalam keadaan hasrat yang tinggi untuk lari dari ruangan ini.

            “Lo nggak buat puisi?” Gania menoleh, mendapati wajah Haikal yang bertanya serius. Mau tak mau ia tertawa. Haikal bengong. Sebelum akhirnya mereka berdua tertawa lepas. Perlu waktu beberapa detik untuk berhenti tertawa dan menyadari bahwa sekarang seluruh ruangan kelas sedang menatap mereka berdua. Termasuk sang guru yang menatap matanya dengan tatapan marah.

            “Kalian berdua sudah selesai?” tanya sang guru. Masih belum mengalihkan tatapanya. “Saya pikir kalian sudah menyelesaikannya. Dan, mungkin kalian bisa membacakan hasil karangannya di depan kelas sekarang.” Hati Gania mencelos. Anak-anak bertepuk riuh membayangkan lelaki pendiam dan perempuan cuek membaca sebuah puisi konyol di depan kelas. Ia menoleh pada Haikal yang memasang raut datar.

            “Tunggu apalagi? Ayo maju.” Imbuh sang guru. Gania membenci ini, apa yang harus di bacakannya di depan kelas? Ia mengambil kertas kosong yang sejak tadi tak di sentuhnya. Dan mengikuti Haikal yang sedang berjalan ke depan kelas, sama-sama membawa kertas kosongnya. Keringat dingin mulai membanjirinya, ia melirik Haikal di sampingnya yang menampilkan wajah polos. Jika di lain waktu, Gania menyukai saat Haikal menampilkan ekspresi polosnya. Tapi saat ini, rasanya itu adalah ekspresi paling tolol yang di lakukannya.

Awalnya, Haikal mengangkat kertas kosong itu di depan mukanya. Menghela napas dalam-dalam seakan-akan ia akan membaca semua kata yang terangkai pada kertas itu. Raut wajahnya masih kelihatan tenang dan terkontrol. Sementara Gania berpikir keras bagaimana caranya mereka berdua bisa terbebas dari ruangan ini. Menit demi menit berlalu saat akhirnya Haikal mengeluarkan suara, membuat semua suara yang ada di ruangan itu tersedot ke dalamnya. Menimbulkan keheningan yang mencekam. Membuat kata demi kata yang keluar dari mulutnya terdengar di seluruh sudut kelas.

“Kau tahu, hal pertama selalu sangat mengagumkan

seperti pertama kali menghisap ganja yang di lakukan oleh para pecandu,

seperti saat kau menghirup anggur dan membiarkannya mengalir di tenggorokanmu,

seperti saat kau menghirup kokain dan membiarkan asapnya merusak paru-parumu,
dan bahkan kau tak pedulikan itu,

Kau tahu,

 kau akan membiarkan racun itu mengalir di tubuhmu,
dan kau menyukainya.”

Haikal mundur selangkah dan menggulung kertas di tangannya menjadi gulungan kecil. Ia menatap Gania yang masih tercengang. Matanya menyiratkan keberanian, ketenangan, beberapa detik berlalu dan bel berbunyi di sertai tepuk tangan dari seisi kelas.

***

Gania berlari mengejar Haikal yang sekarang beberapa langkah di depannya, ia memperlebar langkah berusaha menyamai langkahnya dengan Haikal.

            “Kau tahu, tadi itu keren.” Gania berhasil menjangkau lelaki itu dan menyamai langkahnya. 

“Maksudku, kau menyelamatkanku tadi.” lanjutnya, Haikal tak menjawabnya. Ia masih berjalan dengan langkah cepat, namun Gania berusaha agar tak tertinggal jauh di belakangnya.

            “Darimana kau dapatkan semua itu?” tanya Gania, sekarang ia mendapatkan perhatian lelaki itu.
            “Apa?” Haikal menoleh, memperlambat langkahnya.

“Semua itu. Kata-kata yang mengalir dari mulutmu seperti kau sedang membaca tulisan yang hanya bisa kau lihat sendiri. Aku tahu kau tak menulis apa-apa di kertas itu.” jawabnya.  “Dan jangan kira aku percaya jika kau bilang kau memang mengalaminya sendiri.” lanjutnya, bahkan saat mengatakannya pun, Gania merasa konyol membayangkan lelaki yang di kenalinya beberapa bulan lalu, memiliki pandangan sedangkal itu pada sesuatu yang menurutnya sangat abstrak. Haikal sekarang menghentikan langkahnya, memandang Gania dengan tatapan datar.

            “Lupakan. Kau tahu, kau akan membuang waktumu jika memikirkan itu.” lanjutnya pada Haikal, kaget menyadari bahwa sekarang lelaki itu mengehentikan langkahnya dan menatapnya dengan tatapan menuduh. Merasa tak enak di tatap seperti itu Gania balik menatap dengan sedikit menantang.

“Apa?” tanyanya bingung dengan perubahan suasana yang mendadak.

Gania memperhatikan Haikal yang masih memasang raut yang di bencinya. Gania pun memutuskan untuk lanjut berjalan meninggalkan lelaki itu. Baru beberapa langkah ia berjalan terdengar tawa Haikal yang membuatnya berhenti dan menoleh. Ia mendapati Haikal sedang tertawa. Dan mulai berlari menghampirinya, Gania buru-buru kembali berjalan dengan langkah lebar. Masih di iringi tawa Haikal yang menggema di telinganya. Saat ini, ia sedang tak ingin ikut tertawa, meski itu dengan orang yang tak pernah gagal membuatnya tertawa.[]

Sabtu, 02 November 2013

He loves me.


Aku mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Merasakan angin malam yang kuhirup dan membelai rambutku. Sesekali aku membiarkan kakiku beristirahat sementara roda sepeda masih terus berputar.

Aku menikmati ini.

Rasanya seperti semua yang ada dalam pikiranmu, semua yang mengganjal dalam pikiranmu saling berhamburan untuk keluar. Membuat semua penat di kepalamu terkuras. Aku melihat ke belakang, dimana saudaraku sedang mengayuh sepedanya dengan susah payah berusaha mengejarku. Aku tersenyum kecil, mengingat kejadian sore tadi saat dia dan adikku memberiku sebuah kejutan kecil-kecilan untuk merayakan hari ulang tahunku ke tujuh belas.

            Pikiranku masih mengingat kejadian hari ini, dimana teman-teman sekolahku memberikan kejutan saat bel pulang sekolah berbunyi, atau saat aku pulang ke rumah dan menerima sebuah kejutan lagi dari orang-orang yang ku sayang. Dan kupikir setelah aku membersihkan diri dari tumpukan telor dan terigu yang menempel di seluruh tubuhku, itu semua sudah usai. Tentu saja, perkiraanku salah.

***

Bisa keluar?

Aku menerima sms dari orang yang sebenarrya sama sekali tak aku harapkan, jika yang kau maksud dia adalah orang yang ku benci itu salah besar. Dia adalah seseorang dengan postur tubuh agak lebih tinggi dariku, dia adalah sahabat terbaikku selama tiga tahun terakhir ini. Salah satu orang yang menjadi tempat aku menumpahkan segala keluh kesahku. Dia adalah sahabat terbaikku, orang yang aku percayai dengan sepenuh hati, orang yang membuatku nyaman jika bersamanya. Tentu saja, sebelum ia menyatakan perasaannya dengan terang-terangan kepadaku. 

Berkali-kali.

Dan berkali-kali pula aku menolaknya.

Aku bergegas keluar setelah mendapatkan pesan itu. Saat aku sampai pada ambang pintu, aku melihatnya sedang berdiri di depan halaman rumahku dengan kue ulang tahun yang tertancap lilin angka 17 di tangannya. Ia tersenyum saat melihatku.

            “Aku mengharapkan respon yang lebih dari sekedar itu.” gumamnya, senyumnya mulai pudar saat melihatku yang masih terdiam di ambang pintu.

            “Waw. Ini kejutan!” pekikku, mencoba agar nadanya terdengar lebih antusias. Sekarang lelaki di hadapanku mulai tersenyum lagi, ia berjalan mendekatiku. Melirik lilin yang masih tertancap dengan api kecil yang menari-nari di atasnya dan melirikku. Aku mengangguk.

***
            Dan setelah itu, tanpa pernah terpikir olehku, ia memberiku sebuah kalung berwarna perak. Dan memakaikannya di leherku. Aku tak tahu apa sebenarnya yang aku rasakan saat itu, aku menyayanginya, tapi aku menyayanginya dengan sudut pandang sebagai sahabat lelaki atau kakak lelakiku.

Sungguh, setelah kejadian-kejadian yang sudah kualami bersamanya, aku lelah jika harus terus berulang-ulang memberitahu bahwa sebenarnya aku tak pernah benar-benar serius menanggapi perasaannya. Aku lelah menghadapi semua masalah yang malah menimpakku semenjak ia menyatakan perasaannya secara terang-terangan kepadaku.

Awalnya, aku masih bisa memakluminya. Karena menurutku perasaannya muncul hanya karena kebersamaan yang aku lalui bersamanya memang terlalu sering. Dan aku yakin perasaan itu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tapi tanpa aku sadari, keadaan di sekitarku semakin berubah. Teman dekatku menyukainya. Dan, tentu saja dia membenciku karena aku yang di cintai lelaki yang dia suka.
            “Aku menjauh.” ucapku pada saudaraku yang sekarang di belakangku, masih mengayuh sepeda.
            “Lo tau, kalo lo ngejauh dia bukan hanya bakal ngehilangin perasaannya sama lo. Tapi dia bisa aja milih buat pergi juga, yang artinya lo bakal kehilangan dia sebagai sahabat.” jawabnya. Shit, bocah ini selalu bisa membuatku tersudut.
            “Terus?” aku meilliriknya, ia masih di belakangku. Rambutnya yang sedikit panjang di ikat menjadi gulungan tak berekor. Sesekali pandangannya tertuju ke depan seakan-akan ia melihat hal yang menakjubkan di depannya.

            “Lo tau, lelaki dan perempuan di ciptakan bukan untuk menciptakan tali persahabatan.” jawabnya, yang langsung menyusul sepedaku yang masih berjalan pelan. Aku memandangi punggungnya yang sekarang semakin menjauh dari pandanganku. Hingga bayangannya semakin mengecil dan menghilang di belokan meninggalkan aku dengan kata-kata terakhirnya. Lelaki dan perempuan di ciptakan bukan untuk menciptakan tali persahabatan.[]