Begitu denger kata gagal, atau mengalami kegagalan yang baru terjadi di depan mata kalian. Apa, sih yang langsung nyangkut di kepala kalian? Kecewa? Marah? Ingin meledak? Ingin menciut? Yap, gue yakin semua orang yang baru mengalami kegagalan merasakan hal yang sama. Bahkan sekalipun Mario Teguh dan para motivator-motivator hebat lainnya.
Sebelum gue lanjut, gue mau share beberapa pendapat tentang orang-orang di sekitar gue tentang kegagalan:
Kakak Mentor: "Kalau kata teteh, kegagalan itu tidak ada, yang ada hanya kita yang belum mampu menyadari kesuksesan kita." *manggut-manggut*
Nyokap: "Tidak mencapai titik kesuksesan?" *yang ini buat gue deg-deg-an*
Temen gue: "Gak bisa selingkuh dalam satu sekolah?" *geleng-geleng*
Gue: Kecewa.
Karena menurut gue, reaksi alami para kaum fana saat mengalami kegagalan adalah intinya sama: kecewa. Nggak peduli apa yang mereka pikirkan, katakan, ocehkan, atau sudut pandang mereka melihat kegagalan yang menimpanya sebagai sesuatu yang baik atau buruk, intinya mereka tetep kecewa.
Pernah denger dong pepatah populer tentang kegagalan: kegagalan adalah kunci dari keberhasilan? Ini adalah salah satu pepatah yang paling populer menurut pengamatan gue. Pepatah ini tertoreh di majalah-majalah, di buku-buku psikologi, di lks sejarah, di mana-mana. Gue udah baca ribuan kali, gue ngerti isinya. Gue ngerti apa maksudnya, tapi gue nggak menemukan secuil harapan dari pepatah manapun tentang bahwa kegagalan adalah kunci dari keberhasilan di dalam diri gue. Tunggu, bukannya gue nggak percaya itu. Tapi gue tentu saja percaya semua pepatah yang gue baca, maksud gue, itu semua ujung-ujungnya emang bener, kan? Kegagalan adalah benih kecil dari keberhasilan. Semakin sering gagal, semakin banyak kau belajar.
Gue nggak akan mengelak, karena suatu saat gue bakal mengerti dan benar-benar memahami semua pepatah itu. Tapi untuk sekarang, biarkan gue menikmati kegagalan-kegagalan yang selama ini selalu gue keluhkan. Yang sejauh ini keluhan gue tidak berdampak apa-apa selain kejengkelan dari orang-orang sekitar gue.
Gue nggak tahu kenapa ingin nulis ini, gue hanya ingin tahu apa pendapat kalian tentang kegagalan. Kalian yang sama-sama berada di posisi gue. Gue merasa lelah bertanya sama orang-orang yang menurut ukuran gue, sukses, mendapatkan apa yang mereka inginkan, berhasil, dan jawaban mereka selalu sama: kegagalan itu buahnya manis, atau, kalo lo nggak gagal, lo nggak akan berhasil, atau, lo mau tau rumusnya sukses? Gagal dulu!
Kalo gue lagi dalam keadaan normal, saat gue mendengar itu gue cuma bisa manggut-manggut tanda bahwa gue ngerti apa yang mereka maksud. Tapi kalo dalam keadaan baru tertimpa kegagalan... Yaa.. You know, lah.. Rasanya gue ingin teriak di telinga mereka: " WOI! LO NGGAK NGERASAIN YANG GUE RASAIN! KECEWA! MARAH! GUE KURANG APA, SIHHHHHHH??!!?" Tapi, tentu saja itu nggak gue lakuin, gue nggak sebodoh itu. Gue emang meneriaki itu semua.
Tapi dalem hati.
Dan tentu saja gue salah dalam bagian mereka nggak ngerasain apa yang gue rasain, setidaknya, mereka pernah merasakan kegagalan seperti yang gue rasakan saat ini. Itu kan yang mereka maksud rumus dari sukses?
Tapi gue hanya menemukan dan merasakan apa yang mereka katakan saat gue mendapatkan apa yang gue inginkan. Contohnya, waktu kelas tiga SMP. Di semester terakhir sebelum kelulusan, gue mendapati bahwa gue masuk dalam Tiga besar di kelas. Woha! I'm very excited. Yang ada dalam kepala gue saat itu adalah bahwa semua yang orang-orang katakan tentang kegagalan membuahkan hasil emang bener!
Contoh lainnya, satu tahun yang lalu, gue coba-coba ikutan Pertukaran Pelajar yang katanya, yang gue denger seleksi nya nggak terlalu berat. Dengan modal niat, iya, gue cuma punya modal niat+nekat saat itu. Gue berangkat ke tempat di mana seleksi pertama di adakan. Dalam perjalanan berangkat, gue mendadak merasakan kepercayaan diri gue meningkat. Gue pergi sama temen saat itu, yang kita sama-sama ikutan seleksi.
Awalnya gue emang iseng, tapi saat gue mendapati diri gue di tempat seleksi gue tau gue harus serius. Gue udah berangan-angan gimana rasanya kalo gue lolos. Gue udah membayangkan satu tahun penuh pengalaman di negara orang yang nantinya bakal gue tulis. Gue merasakan ambisi gue meningkat. Sampai pada saat pengumuman...
Gue nggak di hubungi.
Itu artinya, gue gagal.
Gue dan temen gue gagal.
Mimpi-mimpi yang kita bicarakan di perjalanan menuju tempat seleksi lenyap sudah.
"Seengaknya, kita udah mencoba. Nggak kayak mereka yang terlalu takut gagal hanya untuk mencoba." ujar temen gue, gue mengangguk.
Tapi gue nggak terlalu memperhatikan temen gue, gue tau apa yang dia katakan hanya untuk membesarkan hati kami masing-masing. Padahal, di dalam kepala dan pikiran masing-masing, kita sibuk menyalahkan diri sendiri, menyalahkan tuhan, menyalahkan juri, menyalahkan soal yang sulit, menyalahkan siapapun hanya untuk menenangkan diri kita sendiri.
Dan mendapati bahwa kita berada di ruangan kosong, hampa.
Sendirian.
Mendapati bahwa kita gagal.
Bahwa kita tak mampu menunjukan sesuatu untuk di banggakan.
Mendapati bahwa badan kita semakin mengecil dalam ruang hampa itu dan semakin mengecil.
Hingga hanya ada satu titik yang tersisa.
Satu titik yang menunggu di beri harapan dan membesarkan diri lagi.
"Terima saja, kau kalah sekarang. Kau tahu seberapa kecil kemampuanmu, kan, mahluk bodoh?" kata sebuah suara, tentu saja itu bukan suara orang tua kita. Mereka selalu menutupi rasa kecewa mereka, bukan?
Dan kalo yang lo pikirkan adalah suara para sahabat lo itu juga bukan. Mereka selalu menutupi fakta bahwa kalian ya.. Payah, untuk menghargai kalian, kan?
Itu adalah suara dalam kepala lo, yang berdentam-dentam dan saling menimpali, "Gue bisa. Gue hanya belom dapet kesempatan itu." kata sebuah suara lagi.
Dan mereka berdebat.
Tentang bagaimana mereka memandang kegagalan dari sudut pandang mereka, mereka adalah bagian dari diri kita sendiri. Mereka adalah ego kita. Yang selalu bertentangan dalam semua hal.
Dan, gue tebak, yang selalu menang adalah dia yang pendapatnya paling realistis saat itu. Misal, saat gue gagal Pertukaran pelajar kemarin, gue emang lebih mendengarkan sisi gelap dalam diri gue.
Dan, lo bisa tebak gue lebih mendengarkan komentar sisi gue yang mana saat gue mendapat juara kelas.
Jadi, itu semua tergantung keadaan, kan? Dan gue bukan berbicara tentang dua orang yang bertentangan dan sosok mana yang lebih lo dengarkan.
Tapi, gue berbicara tentang satu orang dengan sudut pandang yang beragam. Contohnya? Gue.
Saat gue mendapati kegagalan yang ada di depan mata, gue merutuki diri sendiri dan mendumel. Meski gue tahu saat itu berakhir gue akan mencoba lagi dan mencoba lagi. Gue hanya butuh semacam pengingat bahwa gue memang pantas mendapatkan kegagalan itu dengan memaki diri gue sendiri dan memaksa untuk lebih baik.
Yeah, this is end of the post. Sori, gue tau ini adalah postingan yang nggak berguna. Gue hanya menulis keresahan gue, gue hanya ingin berkeluh kesah. Nggak dosa, kan? Gue ingetin ya, postingan sebelum postingan ini emang gue lagi waras sampe bisa nyerocos yang lebih berguna dari pada semua ini. Gue cuma.. Yaa, anak remaja yang sedang mengalami keresahan karena kegagalan-kegagalannya? Dan mencari tempat untuk berkeluh kesah sehabis gagal dan mencoba lagi dan lagi. Setidaknya, untuk sekarang gue masih menikmati keluh kesah gue sebagai remaja normal. Tomorrow? Who know?
Hi sweety i read your blog, do you wanna read mine? sorry, but i dont have any, HA!
BalasHapusLol haha let's create! Yeah, i will. Btw, thanks already;)
HapusHai gita, gagal itu adalah hal yang mainstream di hidup gue, sebagian juga udah pernah gue ceritain di sini -> http://anggiklstory.blogspot.com/2014/01/waktu-yang-kebuang.html
BalasHapusTapi gue gak pernah putus asa, padahal dalam hidup gue, gue gak pernah nyicipin kemenangan dari lomba apapun, kecewa itu pasti, tapi jangan berlarut, mungkin kamu bisa melampiaskan kekecewaan kamu dengan hal yang positif, contohnya kaya gue kalo gue lagi sedih ataupun habis gagal, kecewa dsb, gue pasti cari sesuatu yang lucu biar bisa ngelepas masalah lewat tawa.
segitu aja sih, eh iya salam kenal ya ^^
Yep, lo bener. Salam kenal juga ya, oke gue baca xoxo.
HapusBtw, makasih udah mampir anggi!