Dalam pekatnya malam, Sinta terus berceloteh kepada
Budi yang sejak tadi mengangguk-ngangguk mendengarnya berceloteh yang jika ia
dengar baik-baik bahwa sahabatnya itu bercerita hal yang sejak tadi di
ulang-ulang. Tapi Budi diam saja, ia hanya memperhatikan Sinta yang sesekali
emosinya memuncak saat ia menggambarkan bagaimana kekasihnya itu sedang
berjalan mesra dengan wannita lain yang tak ia kenal. Setelah emosinya tumpah
ruah dengan cara mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, ia langsung menangis
dengan histeris. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Sinta bertingkah seperti
itu. Hampir setiap tujuh kali dalam seminggu Sinta menggedor pintu rumah Budi
dan menangis kepada sahabatnya sambil berteriak-teriak.
“Karna
gue sayang sama dia, Bud!” teriak Sinta menjawab pertanyaan Budi yang selalu
sama.
“Meskipun dia
terus-terusan nyakitin lo?” tanya Budi tanpa meninggalkan tatapannya pada
sahabatnya itu.
“Iya. Karna gue tau dia
bakalan berubah. Gue tau dia cuma lagi mengetes gue aja, seberapa tahan gue
sama dia, seberapa sayang gue sama dia. Dan seberapa kuat gue mertahanin
hubungan ini.” jawab Sinta, air matanya mulai keluar lagi.
“Hubungan yang lo
sendiri nggak bahagia.” tutur Budi. Sembari meneguk kopi yang masih panas, ia
merengkuh gelas itu dalam jemarinya.
“Gue bahagia.” jawab
Sinta, sekarang ia menunduk. Tangannya sibuk mengepal-ngepal sesuatu yang
kelihatnnya seperti tissue yang sudah
hancur.
“Buktinya? Lo dateng
setiap malem kesini cuma buat mengutarakan hal yang hampir sama. Lo dateng buat
ngadu tentang kelakuan cowok lo sambil nangis, terus besoknya lo bilang udah
maafin cowok lo dan kalian baikan lagi. Lusanya, lo nangis lagi dan nangis
lagi. Gue bingung hal apa yang ngebuat lo bahagia.” jelas Budi, cangkir kopi
masih dalam genggamannya.
“Gue bahagia. Cuma itu.
Lo nggak usah tanya-tanya alasan kenapa gue bahagia. Cuma gue yang tau.” jawab
Sinta, ia masih menunduk, tissue dalam
genggamannya sekarang sudah benar-benar hancur dan basah oleh air mata.
“Oke. Kalo gitu gue tanya,
apa alasan lo untuk mempertahankan hubungan kalian?” tanya Budi, ia meneguk
sedikit kopinya dan menyimpannya di atas meja.
“Lo tau itu, Bud. Karna
gue sayang sama dia.” sekarang ia melemparkan tissue nya dan merengkuh wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
“Sayang? Oke, lo sayang
sama dia. Lo berkorban buat dia. Lo bertahan buat dia. Kalo emang lo sesabar
dan sehebat itu, lo nggak akan marah-marah sambil nangis sekarang. Bertahan
karna alasan sayang padahal udah dikhianatin berkali-kali? This is your life, Sin. Please, take control of it. ” tutup Budi, ia menghabiskan kopinya dengan sekali teguk dan
beranjak menuju pintu rumahnya meninggalkan Sinta yang masih menunduk.
***
Berikut adalah sedikit cerita dari tema yang bakal
gue bahas kali ini. Akhir-akhir ini gue sering ngeliat status-status following
gue di Twitter atau di lingkungan sekitar gue yang sering mengeluh tentang
hubungan mereka yang bahkan nggak mereka nikmati sama sekali. Disini ada
beberapa alasan-alasan yang sering diutarakan oleh mereka yang gue ringkas
sesuai dengan pengamatan gue.
1. Sayang
Ini udah mainstream
banget. Ini adalah alasan pertama yang di ucapkan oleh para pemeran cinta yang
galaunya ngelebihin orang jomblo. Kayak tokoh si Sinta di atas. Dia bilang
bahwa dia sayang sama pacarnya yang udah nyakitin dia berkali-kali. Menurut gue
nggak salah, sih kalau dia emang mau mempertahankan hubungannya sendiri atas
nama cinta. Itu hak dia. Tapi seperti yang Budi bilang diatas, kalo emang dia
niat buat mempertahankan dan memperjuangkan hubungannya. Dia nggak perlu
terus-terusan nangis dan marah-marah, mengeluarkan umpatan kasar sama pacarnya
ketika pacarnya selingkuh.
Keputusan
siapa yang mau bertahan? Keputusan siapa yang lagi-lagi memberi maaf pada orang
yang udah nyakitin dia berkali-kali? Menurut gue kalo udah sejauh ini dan si
Sinta terus-terusan memberi maaf kesalahan bukan hanya ada di pihak lelaki,
tapi kepintaran Sinta juga dipertanyakan disini~
2. Nggak
Tega
Ha! Biasanya yang make alasan ini adalah tipe orang
yang memiliki hati nurani yang sangat besar. Gimana nggak? Dia mertahanin
hubungannya sendiri, dia mengorbankan batinnya sendiri yang tercabik-cabik
hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Seakan-akan pacarnya adalah pengemis di
jalanan yang kalo dia nggak ngorbanin uang kertasnya cuma karna nggak ada receh
hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran
apa mau mengasihani anak orang, sih?
3. “Udah
lama, Sayang Kalo Diputusin”
Gue emang jarang ngedenger ada orang yang pake
alesan ini. Tapi bukan berarti nggak ada. Biasanya orang-orang yang bilang
kayak gini adalah mereka yang hubungannya udah terlalu jauh dan sayang untuk di
akhiri. Tapi menurut gue, nggak masuk akal kalau kita menjalani hubungan dengan
seseorang yang udah nggak nyaman untuk di jalanin tapi masih aja bertahan
karena pengen langgeng. Sejauh apapun hubungan kalian, meskipun di awalnya
kalian sama-sama bahagia tapi pada akhir-akhir kalian ngerasa banyak yang
berubah pada hubungan kalian sedniri. Atau kalian udah ragu sama perasaan
pasangan kalian. Tapi lo tetep bertahan cuma karna lo sayang sama hitungan
bulan yang udah jauh dan membuat teman-teman kalian berkata iri, “Langgeng
banget. Gue pengen kayak kalian berdua.” Tapi nyatanya hubungan kalian udah
kerompong! Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran atau mau ngitung tanggal
Anniv, sih?
4. Jalanin
aja, Gue Kuat, kok.
Lo baca cerita di atas? Dimana tokoh Sinta menyebut
seakan-akan dia adalah sosok yang hebat, pejuang cinta yang tak kenal lelah
meski udah di sakitin ke sekian kalinya. Tapi dia tetap bertahan dengan alasan
bahwa dia kuat. Kuat? Kata kuat ini sih, yang biasanya selalu di pertanyaankan.
Hubungan yang baik itu nggak butuh kekuatan dari satu pihak doang. Percuma
sekuat apapun lo kalo lo masih mengumbar-ngumbar kegalauan lo di social media. Apa yang lo harapkan? Di
baca pacar lo? Yang kanyataannya belum tentu dia peduli.
Kalo emang lo bahagia sama hubungan lo yang
sekarang, lo nggak perlu mengarahkan kekuatan yang lo punya itu cuma buat
mempertahankan hal yang udah kadaluarsa. Baru pacaran aja lo udah mati-matian
berusaha sekuat mungkin buat menjadi tegar. Apalagi kalo lo udah nikah sama
dia? Lo mau pacaran apa ngangkat barbell?
5. Dia
Bakal Berubah, Kok.
Biasanya
alesan ini dia katakan lebih kepada dirinya sendiri. Buat meyakinkan kepada
dirinya kalo orang yang dia sayang dan nyakitin dia suatu saat bakal berubah. Read: Suatu saat. Ya kali beruntung
kalo emang kenyataannya pacar lo emang berubah ke hal yang positif. Gimana kalo
dia berubah, tapi malah berubah menjadi semakin liar? Apa namanya yang sering
dipake anak gaul sekarang? Leor. Please,
berhenti membodohi diri sendiri. Emang nggak ada orang yang sempurna, emang
semua orang pernah khilaf dan ngelakuin kesalahan. Tapi kalo orang itu udah
dikasih maaf dan dia ngelakuin kesalahannya berulang-ulang kali hanya untuk
mendapatkan kata maaf yang dengan gampang lo kasih, apa lo yakin orang kayak gitu
bakalan berubah? Padahal dalam lubuk hati lo, lo sebenernya udah muak ngeliat
kelakuan busuk pacar lo, lo udah nggak kuat lagi di sakitin berkali-kali dengan
jangka waktu yang nggak lama setelah lo ngasih kepercayaan sama dia. Tapi yang
lo dapatkan bukan perubahan. Malah pengkhianatan yang berusaha keras-keras lo
tutup-tutupin bahkan dari diri lo sendiri. Hanya untuk membisikan pada hati
kecil lo kalo dia bakal berubah, dan lo bakal tetep bertahan.
Cih.
6. Gue
Itu Pemaaf
Hai, kenalin gue adalah orang pemaaf yang menyebut
dirinya sangat pemaaf dan rendah hati. Gue adalah orang yang paling suka
memaklumi kesalahan orang lain karena gue tau setiap orang itu pasti pernah
salah. Ya, meskipun dia ngelakuin kesalahan yang sama yang jelas-jelas udah dia
lakuin berulang kali dan balik lagi ke gue untuk mendapatkan maaf gue. Maksud
gue, bukan berarti gue nggak sakit hati tentang perlakuannya ke gue yang
terus-terusan mempermainkan gue. Tapi gue nggak punya pilihan. Gue nggak tega
ngeliat dia mohon-mohon sama gue, gue nggak mau nyakitin dia. Jadi, gue itu
pemaaf kan? Ya, gue maafin dia lagi. Maaf ya, gue cuma orang lemah yang bisanya
duduk manis menunggu orang kecintaan gue dateng dengan dosa dan menunggu di
beri maaf oleh gue. Jadi, silahkan sebut gue bodoh. Gue nggak akan marah, karna
gue nggak punya pilihan. Gue itu pemaaf, kan? Ya, jadi gue maafin.
***
Jadi, kesimpulan dari semua ocehan gue di atas? Yap,
kalian menjalankan hubungan dengan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan,
benar? Kalian pacaran buat memenuhi hari-hari kalian dengan warna bukan malah
membuat hidup kalian yang udah abu-abu jadi item, kan? Kalian pacaran untuk
mencintai dan dicintai kekasih kalian, untuk berbagi, dan semacamnya, lah.
Bukan malah menjelma menjadi mahluk galau Twitter yang galaunya melebihi orang
jomblo.
Gue nggak menjadi pihak yang menyalahkan mereka yang
sedang berusaha mempertahankan hubungan mereka yang dulunya sangat manis. Gue cuma mau ngasih tau, semua
point di atas nggak bakalan berlaku buat kemajuan hubungan lo, kalo cuma lo yang
berusaha mempertahankan hubungan itu sendiri. Semua itu nggak akan berlaku kalo
hanya satu pihak yang mati-matian berusaha sementara pihak satunya tidak
membantu sama sekali.Jangankan membantu, dia malah memperburuk keadaan.
Mencintai seseorang dan
berjuang untuk mempertahankannya itu nggak salah. Tapi carilah orang yang mau
di ajak bekerja sama untuk mempertahankan hubungan kalian berdua. Karna
kalo hanya satu yang berjuang, itu nggak adil.
Ini hidup lo kan? Lo berhak mengambil keputusan sesuai dengan yang lo inginkan. meski keputusan itu bertentangan dengan yang lo harapkan. But,
you don’t always get what you want, right?
Yeah,
this is end of the post. Sori kalo banyak kata-kata yang menyinggung kalian, seperti biasa, this is just my opinion. Hasil dari pengamatan gue sendiri, hasil dari ringkasan gue sendiri, hasil dari ketikan gue sendiri, dan semoga di baca nggak sama gue sendiri. Ngahaha. Oiya, buat temen-temen yang punya pengalaman mengenai mempertahankan hubungan ayo share di comment box ya! Terimakasih!:D

Cakep. Setuju banget sama tulisan ini. Sepertinya, di dunia ini kebanyakan orang yang terlalu sabar. Eh, nggak tau juga, sih, terlalu sabar atau terlalu 'pintar'. :))
BalasHapus'Pintar' dalam artian sangat pintar. :))
HapusNah, tapi mesti mikir-mikir lagi sih -__-
BalasHapuskalo itusih udah jelas..
HapusWah bagus nih! Thankyou yah tulisannya :))
BalasHapusmy pleasure:)
BalasHapus