Minggu, 12 Januari 2014

Alasan-alasan Mempertahankan Hubungan


Dalam pekatnya malam, Sinta terus berceloteh kepada Budi yang sejak tadi mengangguk-ngangguk mendengarnya berceloteh yang jika ia dengar baik-baik bahwa sahabatnya itu bercerita hal yang sejak tadi di ulang-ulang. Tapi Budi diam saja, ia hanya memperhatikan Sinta yang sesekali emosinya memuncak saat ia menggambarkan bagaimana kekasihnya itu sedang berjalan mesra dengan wannita lain yang tak ia kenal. Setelah emosinya tumpah ruah dengan cara mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, ia langsung menangis dengan histeris. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Sinta bertingkah seperti itu. Hampir setiap tujuh kali dalam seminggu Sinta menggedor pintu rumah Budi dan menangis kepada sahabatnya sambil berteriak-teriak.
            “Karna gue sayang sama dia, Bud!” teriak Sinta menjawab pertanyaan Budi yang selalu sama.

“Meskipun dia terus-terusan nyakitin lo?” tanya Budi tanpa meninggalkan tatapannya pada sahabatnya itu.

“Iya. Karna gue tau dia bakalan berubah. Gue tau dia cuma lagi mengetes gue aja, seberapa tahan gue sama dia, seberapa sayang gue sama dia. Dan seberapa kuat gue mertahanin hubungan ini.” jawab Sinta, air matanya mulai keluar lagi.

“Hubungan yang lo sendiri nggak bahagia.” tutur Budi. Sembari meneguk kopi yang masih panas, ia merengkuh gelas itu dalam jemarinya.

“Gue bahagia.” jawab Sinta, sekarang ia menunduk. Tangannya sibuk mengepal-ngepal sesuatu yang kelihatnnya seperti tissue yang sudah hancur.

“Buktinya? Lo dateng setiap malem kesini cuma buat mengutarakan hal yang hampir sama. Lo dateng buat ngadu tentang kelakuan cowok lo sambil nangis, terus besoknya lo bilang udah maafin cowok lo dan kalian baikan lagi. Lusanya, lo nangis lagi dan nangis lagi. Gue bingung hal apa yang ngebuat lo bahagia.” jelas Budi, cangkir kopi masih dalam genggamannya. 

“Gue bahagia. Cuma itu. Lo nggak usah tanya-tanya alasan kenapa gue bahagia. Cuma gue yang tau.” jawab Sinta, ia masih menunduk, tissue dalam genggamannya sekarang sudah benar-benar hancur dan basah oleh air mata.
“Oke. Kalo gitu gue tanya, apa alasan lo untuk mempertahankan hubungan kalian?” tanya Budi, ia meneguk sedikit kopinya dan menyimpannya di atas meja.

“Lo tau itu, Bud. Karna gue sayang sama dia.” sekarang ia melemparkan tissue nya dan merengkuh wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.

“Sayang? Oke, lo sayang sama dia. Lo berkorban buat dia. Lo bertahan buat dia. Kalo emang lo sesabar dan sehebat itu, lo nggak akan marah-marah sambil nangis sekarang. Bertahan karna alasan sayang padahal udah dikhianatin berkali-kali? This is your life, Sin. Please, take control of it. ” tutup Budi, ia menghabiskan kopinya dengan sekali teguk dan beranjak menuju pintu rumahnya meninggalkan Sinta yang masih menunduk.
***

Berikut adalah sedikit cerita dari tema yang bakal gue bahas kali ini. Akhir-akhir ini gue sering ngeliat status-status following gue di Twitter atau di lingkungan sekitar gue yang sering mengeluh tentang hubungan mereka yang bahkan nggak mereka nikmati sama sekali. Disini ada beberapa alasan-alasan yang sering diutarakan oleh mereka yang gue ringkas sesuai dengan pengamatan gue.

1.      Sayang
Ini udah mainstream banget. Ini adalah alasan pertama yang di ucapkan oleh para pemeran cinta yang galaunya ngelebihin orang jomblo. Kayak tokoh si Sinta di atas. Dia bilang bahwa dia sayang sama pacarnya yang udah nyakitin dia berkali-kali. Menurut gue nggak salah, sih kalau dia emang mau mempertahankan hubungannya sendiri atas nama cinta. Itu hak dia. Tapi seperti yang Budi bilang diatas, kalo emang dia niat buat mempertahankan dan memperjuangkan hubungannya. Dia nggak perlu terus-terusan nangis dan marah-marah, mengeluarkan umpatan kasar sama pacarnya ketika pacarnya selingkuh.
 Keputusan siapa yang mau bertahan? Keputusan siapa yang lagi-lagi memberi maaf pada orang yang udah nyakitin dia berkali-kali? Menurut gue kalo udah sejauh ini dan si Sinta terus-terusan memberi maaf kesalahan bukan hanya ada di pihak lelaki, tapi kepintaran Sinta juga dipertanyakan disini~

2.      Nggak Tega
Ha! Biasanya yang make alasan ini adalah tipe orang yang memiliki hati nurani yang sangat besar. Gimana nggak? Dia mertahanin hubungannya sendiri, dia mengorbankan batinnya sendiri yang tercabik-cabik hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Seakan-akan pacarnya adalah pengemis di jalanan yang kalo dia nggak ngorbanin uang kertasnya cuma karna nggak ada receh hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran apa mau mengasihani anak orang, sih?

3.      “Udah lama, Sayang Kalo Diputusin”
Gue emang jarang ngedenger ada orang yang pake alesan ini. Tapi bukan berarti nggak ada. Biasanya orang-orang yang bilang kayak gini adalah mereka yang hubungannya udah terlalu jauh dan sayang untuk di akhiri. Tapi menurut gue, nggak masuk akal kalau kita menjalani hubungan dengan seseorang yang udah nggak nyaman untuk di jalanin tapi masih aja bertahan karena pengen langgeng. Sejauh apapun hubungan kalian, meskipun di awalnya kalian sama-sama bahagia tapi pada akhir-akhir kalian ngerasa banyak yang berubah pada hubungan kalian sedniri. Atau kalian udah ragu sama perasaan pasangan kalian. Tapi lo tetep bertahan cuma karna lo sayang sama hitungan bulan yang udah jauh dan membuat teman-teman kalian berkata iri, “Langgeng banget. Gue pengen kayak kalian berdua.” Tapi nyatanya hubungan kalian udah kerompong! Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran atau mau ngitung tanggal Anniv, sih?

4.      Jalanin aja, Gue Kuat, kok.
Lo baca cerita di atas? Dimana tokoh Sinta menyebut seakan-akan dia adalah sosok yang hebat, pejuang cinta yang tak kenal lelah meski udah di sakitin ke sekian kalinya. Tapi dia tetap bertahan dengan alasan bahwa dia kuat. Kuat? Kata kuat ini sih, yang biasanya selalu di pertanyaankan. Hubungan yang baik itu nggak butuh kekuatan dari satu pihak doang. Percuma sekuat apapun lo kalo lo masih mengumbar-ngumbar kegalauan lo di social media. Apa yang lo harapkan? Di baca pacar lo? Yang kanyataannya belum tentu dia peduli.
Kalo emang lo bahagia sama hubungan lo yang sekarang, lo nggak perlu mengarahkan kekuatan yang lo punya itu cuma buat mempertahankan hal yang udah kadaluarsa. Baru pacaran aja lo udah mati-matian berusaha sekuat mungkin buat menjadi tegar. Apalagi kalo lo udah nikah sama dia? Lo mau pacaran apa ngangkat barbell?

5.      Dia Bakal Berubah, Kok.
      Biasanya alesan ini dia katakan lebih kepada dirinya sendiri. Buat meyakinkan kepada dirinya kalo orang yang dia sayang dan nyakitin dia suatu saat bakal berubah. Read: Suatu saat. Ya kali beruntung kalo emang kenyataannya pacar lo emang berubah ke hal yang positif. Gimana kalo dia berubah, tapi malah berubah menjadi semakin liar? Apa namanya yang sering dipake anak gaul sekarang? Leor. Please, berhenti membodohi diri sendiri. Emang nggak ada orang yang sempurna, emang semua orang pernah khilaf dan ngelakuin kesalahan. Tapi kalo orang itu udah dikasih maaf dan dia ngelakuin kesalahannya berulang-ulang kali hanya untuk mendapatkan kata maaf yang dengan gampang lo kasih, apa lo yakin orang kayak gitu bakalan berubah? Padahal dalam lubuk hati lo, lo sebenernya udah muak ngeliat kelakuan busuk pacar lo, lo udah nggak kuat lagi di sakitin berkali-kali dengan jangka waktu yang nggak lama setelah lo ngasih kepercayaan sama dia. Tapi yang lo dapatkan bukan perubahan. Malah pengkhianatan yang berusaha keras-keras lo tutup-tutupin bahkan dari diri lo sendiri. Hanya untuk membisikan pada hati kecil lo kalo dia bakal berubah, dan lo bakal tetep bertahan.
 Cih.

6.      Gue Itu Pemaaf
Hai, kenalin gue adalah orang pemaaf yang menyebut dirinya sangat pemaaf dan rendah hati. Gue adalah orang yang paling suka memaklumi kesalahan orang lain karena gue tau setiap orang itu pasti pernah salah. Ya, meskipun dia ngelakuin kesalahan yang sama yang jelas-jelas udah dia lakuin berulang kali dan balik lagi ke gue untuk mendapatkan maaf gue. Maksud gue, bukan berarti gue nggak sakit hati tentang perlakuannya ke gue yang terus-terusan mempermainkan gue. Tapi gue nggak punya pilihan. Gue nggak tega ngeliat dia mohon-mohon sama gue, gue nggak mau nyakitin dia. Jadi, gue itu pemaaf kan? Ya, gue maafin dia lagi. Maaf ya, gue cuma orang lemah yang bisanya duduk manis menunggu orang kecintaan gue dateng dengan dosa dan menunggu di beri maaf oleh gue. Jadi, silahkan sebut gue bodoh. Gue nggak akan marah, karna gue nggak punya pilihan. Gue itu pemaaf, kan? Ya, jadi gue maafin.

***
Jadi, kesimpulan dari semua ocehan gue di atas? Yap, kalian menjalankan hubungan dengan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan, benar? Kalian pacaran buat memenuhi hari-hari kalian dengan warna bukan malah membuat hidup kalian yang udah abu-abu jadi item, kan? Kalian pacaran untuk mencintai dan dicintai kekasih kalian, untuk berbagi, dan semacamnya, lah. Bukan malah menjelma menjadi mahluk galau Twitter yang galaunya melebihi orang jomblo.
Gue nggak menjadi pihak yang menyalahkan mereka yang sedang berusaha mempertahankan hubungan mereka yang dulunya sangat manis. Gue cuma mau ngasih tau, semua point di atas nggak bakalan berlaku buat kemajuan hubungan lo, kalo cuma lo yang berusaha mempertahankan hubungan itu sendiri. Semua itu nggak akan berlaku kalo hanya satu pihak yang mati-matian berusaha sementara pihak satunya tidak membantu sama sekali.Jangankan membantu, dia malah memperburuk keadaan. Mencintai seseorang dan berjuang untuk mempertahankannya itu nggak salah. Tapi carilah orang yang mau di ajak bekerja sama untuk mempertahankan hubungan kalian berdua. Karna kalo hanya satu yang berjuang, itu nggak adil.

Ini hidup lo kan? Lo berhak mengambil keputusan sesuai dengan yang lo inginkan. meski keputusan itu bertentangan dengan yang lo harapkan. But, you don’t always get what you want, right?

Yeah, this is end of the post. Sori kalo banyak kata-kata yang menyinggung kalian, seperti biasa, this is just my opinion. Hasil dari pengamatan gue sendiri, hasil dari ringkasan gue sendiri, hasil dari ketikan gue sendiri, dan semoga di baca nggak sama gue sendiri. Ngahaha. Oiya, buat temen-temen yang punya pengalaman mengenai mempertahankan hubungan ayo share di comment box ya! Terimakasih!:D
 
 

6 komentar:

  1. Cakep. Setuju banget sama tulisan ini. Sepertinya, di dunia ini kebanyakan orang yang terlalu sabar. Eh, nggak tau juga, sih, terlalu sabar atau terlalu 'pintar'. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. 'Pintar' dalam artian sangat pintar. :))

      Hapus
  2. Nah, tapi mesti mikir-mikir lagi sih -__-

    BalasHapus
  3. Wah bagus nih! Thankyou yah tulisannya :))

    BalasHapus