Sabtu, 02 November 2013

He loves me.


Aku mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Merasakan angin malam yang kuhirup dan membelai rambutku. Sesekali aku membiarkan kakiku beristirahat sementara roda sepeda masih terus berputar.

Aku menikmati ini.

Rasanya seperti semua yang ada dalam pikiranmu, semua yang mengganjal dalam pikiranmu saling berhamburan untuk keluar. Membuat semua penat di kepalamu terkuras. Aku melihat ke belakang, dimana saudaraku sedang mengayuh sepedanya dengan susah payah berusaha mengejarku. Aku tersenyum kecil, mengingat kejadian sore tadi saat dia dan adikku memberiku sebuah kejutan kecil-kecilan untuk merayakan hari ulang tahunku ke tujuh belas.

            Pikiranku masih mengingat kejadian hari ini, dimana teman-teman sekolahku memberikan kejutan saat bel pulang sekolah berbunyi, atau saat aku pulang ke rumah dan menerima sebuah kejutan lagi dari orang-orang yang ku sayang. Dan kupikir setelah aku membersihkan diri dari tumpukan telor dan terigu yang menempel di seluruh tubuhku, itu semua sudah usai. Tentu saja, perkiraanku salah.

***

Bisa keluar?

Aku menerima sms dari orang yang sebenarrya sama sekali tak aku harapkan, jika yang kau maksud dia adalah orang yang ku benci itu salah besar. Dia adalah seseorang dengan postur tubuh agak lebih tinggi dariku, dia adalah sahabat terbaikku selama tiga tahun terakhir ini. Salah satu orang yang menjadi tempat aku menumpahkan segala keluh kesahku. Dia adalah sahabat terbaikku, orang yang aku percayai dengan sepenuh hati, orang yang membuatku nyaman jika bersamanya. Tentu saja, sebelum ia menyatakan perasaannya dengan terang-terangan kepadaku. 

Berkali-kali.

Dan berkali-kali pula aku menolaknya.

Aku bergegas keluar setelah mendapatkan pesan itu. Saat aku sampai pada ambang pintu, aku melihatnya sedang berdiri di depan halaman rumahku dengan kue ulang tahun yang tertancap lilin angka 17 di tangannya. Ia tersenyum saat melihatku.

            “Aku mengharapkan respon yang lebih dari sekedar itu.” gumamnya, senyumnya mulai pudar saat melihatku yang masih terdiam di ambang pintu.

            “Waw. Ini kejutan!” pekikku, mencoba agar nadanya terdengar lebih antusias. Sekarang lelaki di hadapanku mulai tersenyum lagi, ia berjalan mendekatiku. Melirik lilin yang masih tertancap dengan api kecil yang menari-nari di atasnya dan melirikku. Aku mengangguk.

***
            Dan setelah itu, tanpa pernah terpikir olehku, ia memberiku sebuah kalung berwarna perak. Dan memakaikannya di leherku. Aku tak tahu apa sebenarnya yang aku rasakan saat itu, aku menyayanginya, tapi aku menyayanginya dengan sudut pandang sebagai sahabat lelaki atau kakak lelakiku.

Sungguh, setelah kejadian-kejadian yang sudah kualami bersamanya, aku lelah jika harus terus berulang-ulang memberitahu bahwa sebenarnya aku tak pernah benar-benar serius menanggapi perasaannya. Aku lelah menghadapi semua masalah yang malah menimpakku semenjak ia menyatakan perasaannya secara terang-terangan kepadaku.

Awalnya, aku masih bisa memakluminya. Karena menurutku perasaannya muncul hanya karena kebersamaan yang aku lalui bersamanya memang terlalu sering. Dan aku yakin perasaan itu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tapi tanpa aku sadari, keadaan di sekitarku semakin berubah. Teman dekatku menyukainya. Dan, tentu saja dia membenciku karena aku yang di cintai lelaki yang dia suka.
            “Aku menjauh.” ucapku pada saudaraku yang sekarang di belakangku, masih mengayuh sepeda.
            “Lo tau, kalo lo ngejauh dia bukan hanya bakal ngehilangin perasaannya sama lo. Tapi dia bisa aja milih buat pergi juga, yang artinya lo bakal kehilangan dia sebagai sahabat.” jawabnya. Shit, bocah ini selalu bisa membuatku tersudut.
            “Terus?” aku meilliriknya, ia masih di belakangku. Rambutnya yang sedikit panjang di ikat menjadi gulungan tak berekor. Sesekali pandangannya tertuju ke depan seakan-akan ia melihat hal yang menakjubkan di depannya.

            “Lo tau, lelaki dan perempuan di ciptakan bukan untuk menciptakan tali persahabatan.” jawabnya, yang langsung menyusul sepedaku yang masih berjalan pelan. Aku memandangi punggungnya yang sekarang semakin menjauh dari pandanganku. Hingga bayangannya semakin mengecil dan menghilang di belokan meninggalkan aku dengan kata-kata terakhirnya. Lelaki dan perempuan di ciptakan bukan untuk menciptakan tali persahabatan.[]

2 komentar: