Aku mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Merasakan angin
malam yang kuhirup dan membelai rambutku. Sesekali aku membiarkan kakiku
beristirahat sementara roda sepeda masih terus berputar.
Aku menikmati ini.
Rasanya seperti semua yang ada dalam pikiranmu, semua yang
mengganjal dalam pikiranmu saling berhamburan untuk keluar. Membuat semua penat
di kepalamu terkuras. Aku melihat ke belakang, dimana saudaraku sedang mengayuh
sepedanya dengan susah payah berusaha mengejarku. Aku tersenyum kecil, mengingat
kejadian sore tadi saat dia dan adikku memberiku sebuah kejutan kecil-kecilan
untuk merayakan hari ulang tahunku ke tujuh belas.
Pikiranku
masih mengingat kejadian hari ini, dimana teman-teman sekolahku memberikan
kejutan saat bel pulang sekolah berbunyi, atau saat aku pulang ke rumah dan
menerima sebuah kejutan lagi dari orang-orang yang ku sayang. Dan kupikir
setelah aku membersihkan diri dari tumpukan telor dan terigu yang menempel di
seluruh tubuhku, itu semua sudah usai. Tentu saja, perkiraanku salah.
***
Bisa keluar?
Aku menerima sms dari orang yang sebenarrya sama sekali tak
aku harapkan, jika yang kau maksud dia adalah orang yang ku benci itu salah
besar. Dia adalah seseorang dengan postur tubuh agak lebih tinggi dariku, dia
adalah sahabat terbaikku selama tiga tahun terakhir ini. Salah satu orang yang
menjadi tempat aku menumpahkan segala keluh kesahku. Dia adalah sahabat
terbaikku, orang yang aku percayai dengan sepenuh hati, orang yang membuatku
nyaman jika bersamanya. Tentu saja, sebelum ia menyatakan perasaannya dengan
terang-terangan kepadaku.
Berkali-kali.
Dan berkali-kali pula aku menolaknya.
Aku bergegas keluar setelah mendapatkan pesan itu. Saat aku
sampai pada ambang pintu, aku melihatnya sedang berdiri di depan halaman
rumahku dengan kue ulang tahun yang tertancap lilin angka 17 di tangannya. Ia
tersenyum saat melihatku.
“Aku
mengharapkan respon yang lebih dari sekedar itu.” gumamnya, senyumnya mulai
pudar saat melihatku yang masih terdiam di ambang pintu.
“Waw. Ini
kejutan!” pekikku, mencoba agar nadanya terdengar lebih antusias. Sekarang
lelaki di hadapanku mulai tersenyum lagi, ia berjalan mendekatiku. Melirik
lilin yang masih tertancap dengan api kecil yang menari-nari di atasnya dan
melirikku. Aku mengangguk.
***
Dan setelah
itu, tanpa pernah terpikir olehku, ia memberiku sebuah kalung berwarna perak.
Dan memakaikannya di leherku. Aku tak tahu apa sebenarnya yang aku rasakan saat
itu, aku menyayanginya, tapi aku menyayanginya dengan sudut pandang sebagai
sahabat lelaki atau kakak lelakiku.
Sungguh, setelah kejadian-kejadian yang sudah kualami
bersamanya, aku lelah jika harus terus berulang-ulang memberitahu bahwa
sebenarnya aku tak pernah benar-benar serius menanggapi perasaannya. Aku lelah
menghadapi semua masalah yang malah menimpakku semenjak ia menyatakan
perasaannya secara terang-terangan kepadaku.
Awalnya, aku masih bisa memakluminya. Karena menurutku
perasaannya muncul hanya karena kebersamaan yang aku lalui bersamanya memang
terlalu sering. Dan aku yakin perasaan itu akan menghilang seiring berjalannya
waktu. Tapi tanpa aku sadari, keadaan di sekitarku semakin berubah. Teman
dekatku menyukainya. Dan, tentu saja dia membenciku karena aku yang di cintai
lelaki yang dia suka.
“Aku
menjauh.” ucapku pada saudaraku yang sekarang di belakangku, masih mengayuh
sepeda.
“Lo tau,
kalo lo ngejauh dia bukan hanya bakal ngehilangin perasaannya sama lo. Tapi dia
bisa aja milih buat pergi juga, yang artinya lo bakal kehilangan dia sebagai
sahabat.” jawabnya. Shit, bocah ini
selalu bisa membuatku tersudut.
“Terus?”
aku meilliriknya, ia masih di belakangku. Rambutnya yang sedikit panjang di
ikat menjadi gulungan tak berekor. Sesekali pandangannya tertuju ke depan
seakan-akan ia melihat hal yang menakjubkan di depannya.
“Lo tau,
lelaki dan perempuan di ciptakan bukan untuk menciptakan tali persahabatan.”
jawabnya, yang langsung menyusul sepedaku yang masih berjalan pelan. Aku
memandangi punggungnya yang sekarang semakin menjauh dari pandanganku. Hingga
bayangannya semakin mengecil dan menghilang di belokan meninggalkan aku dengan
kata-kata terakhirnya. Lelaki dan
perempuan di ciptakan bukan untuk menciptakan tali persahabatan.[]
Wah, keren!
BalasHapusPenasaran sama kelanjutannya.
Hihi.. Makasih udah mampir! :D
Hapus