Hi! You can read a secret one and a secret two here. :))
Cahaya matahari terpantul melalui kaca jendela di
ruangan itu. Menambah rasa panas dan pengap. Seorang wanita paruh baya mengelap
keringat dari pelipisnya. Matanya menelusuri seluruh ruangan, mengamati
murid-murdinya yang sedang sibuk mengerjakan sebuah puisi yang di tugasinya
dalam cuaca sepanas ini. Ia sendiri tidak yakin bisa membuat sebuah rangkaian
kata yang indah dalam keadaan seperti ini. Lebih dari itu, ia tak begitu peduli
pada usaha murid-muridnya.
Di sudut lain, seorang perempuan berambut kurang
lebih sebahu sedang asik mengobrol dengan lawan bicaranya. Sesekali matanya
menangkap mata sang lawan bicara. Yang, tentu saja tak di rasakan sang lawan
bicara. Lima belas menit berlalu sejak sang guru memerintahkan mereka untuk
membuat sebuah puisi. Konyol, pikirnya
saat sang guru menjelaskan beberapa intruksi yang harus di ikuti
murid-muridnya. Termasuk dirinya.
Ia tak menyukai hal-hal semacam itu. Dan merangkai
kata demi kata untuk menjadi sebuah paragraf, atau bait, atau apapun itu bukan
termasuk keahliannya. Dan ia lega mengetahui bahwa lelaki di sampingnya
merasakan hal yang sama jika ia perhatikan bahwa sejak tadi mereka berdua tak
melakukan tugas yang di perintahkan.
Sang perempuan melempar pandangannya ke depan kelas,
dimana wanita paruh baya yang membuatnya terjebak dalam kelas dan mata
pelajaran yang tak disukainya sedang duduk berleha-leha melihat murid-muridnya
dan tersenyum puas. Gania mengalihkan tatapannya pada teman sekelasnya.
Sekarang ruangan ini benar-benar membuatnya muak dengan raut-raut berwajah
stres memikirkan bagaimana caranya membuat rangkaian kata yang indah dalam
keadaan hasrat yang tinggi untuk lari dari ruangan ini.
“Lo
nggak buat puisi?” Gania menoleh, mendapati wajah Haikal yang bertanya serius.
Mau tak mau ia tertawa. Haikal bengong. Sebelum akhirnya mereka berdua tertawa
lepas. Perlu waktu beberapa detik untuk berhenti tertawa
dan menyadari bahwa sekarang seluruh ruangan kelas sedang menatap mereka
berdua. Termasuk sang guru yang menatap matanya dengan tatapan marah.
“Kalian
berdua sudah selesai?” tanya sang guru. Masih belum mengalihkan tatapanya.
“Saya pikir kalian sudah menyelesaikannya. Dan, mungkin kalian bisa membacakan
hasil karangannya di depan kelas sekarang.” Hati Gania mencelos. Anak-anak
bertepuk riuh membayangkan lelaki pendiam dan perempuan cuek membaca sebuah
puisi konyol di depan kelas. Ia menoleh pada Haikal yang memasang raut datar.
“Tunggu
apalagi? Ayo maju.” Imbuh sang guru. Gania membenci ini, apa yang harus di
bacakannya di depan kelas? Ia mengambil kertas kosong yang sejak tadi tak di
sentuhnya. Dan mengikuti Haikal yang sedang berjalan ke depan kelas, sama-sama
membawa kertas kosongnya. Keringat dingin mulai membanjirinya, ia melirik
Haikal di sampingnya yang menampilkan wajah polos. Jika di lain waktu, Gania
menyukai saat Haikal menampilkan ekspresi polosnya. Tapi saat ini, rasanya itu
adalah ekspresi paling tolol yang di lakukannya.
Awalnya, Haikal mengangkat kertas kosong itu di
depan mukanya. Menghela napas dalam-dalam seakan-akan ia akan membaca semua
kata yang terangkai pada kertas itu. Raut wajahnya masih kelihatan tenang dan
terkontrol. Sementara Gania berpikir keras bagaimana caranya mereka berdua bisa
terbebas dari ruangan ini. Menit demi menit berlalu saat akhirnya Haikal
mengeluarkan suara, membuat semua suara yang ada di ruangan itu tersedot ke
dalamnya. Menimbulkan keheningan yang mencekam. Membuat kata demi kata yang
keluar dari mulutnya terdengar di seluruh sudut kelas.
“Kau
tahu, hal pertama selalu sangat mengagumkan
seperti
pertama kali menghisap ganja yang di lakukan oleh para pecandu,
seperti
saat kau menghirup anggur dan membiarkannya mengalir di tenggorokanmu,
seperti
saat kau menghirup kokain dan membiarkan asapnya merusak paru-parumu,
dan
bahkan kau tak pedulikan itu,
Kau
tahu,
kau akan membiarkan racun itu mengalir di
tubuhmu,
dan
kau menyukainya.”
Haikal mundur selangkah dan menggulung kertas di
tangannya menjadi gulungan kecil. Ia menatap Gania yang masih tercengang.
Matanya menyiratkan keberanian, ketenangan, beberapa detik berlalu dan bel
berbunyi di sertai tepuk tangan dari seisi kelas.
***
Gania berlari mengejar Haikal yang sekarang beberapa
langkah di depannya, ia memperlebar langkah berusaha menyamai langkahnya dengan
Haikal.
“Kau
tahu, tadi itu keren.” Gania berhasil menjangkau lelaki itu dan menyamai
langkahnya.
“Maksudku, kau menyelamatkanku tadi.” lanjutnya, Haikal tak
menjawabnya. Ia masih berjalan dengan langkah cepat, namun Gania berusaha agar
tak tertinggal jauh di belakangnya.
“Darimana
kau dapatkan semua itu?” tanya Gania, sekarang ia mendapatkan perhatian lelaki
itu.
“Apa?”
Haikal menoleh, memperlambat langkahnya.
“Semua itu. Kata-kata yang mengalir dari mulutmu
seperti kau sedang membaca tulisan yang hanya bisa kau lihat sendiri. Aku tahu
kau tak menulis apa-apa di kertas itu.” jawabnya. “Dan jangan kira aku percaya jika kau bilang
kau memang mengalaminya sendiri.” lanjutnya, bahkan saat mengatakannya pun,
Gania merasa konyol membayangkan lelaki yang di kenalinya beberapa bulan lalu,
memiliki pandangan sedangkal itu pada sesuatu yang menurutnya sangat abstrak.
Haikal sekarang menghentikan langkahnya, memandang Gania dengan tatapan datar.
“Lupakan.
Kau tahu, kau akan membuang waktumu jika memikirkan itu.” lanjutnya pada
Haikal, kaget menyadari bahwa sekarang lelaki itu mengehentikan langkahnya dan
menatapnya dengan tatapan menuduh. Merasa tak enak di tatap seperti itu Gania balik
menatap dengan sedikit menantang.
“Apa?” tanyanya bingung
dengan perubahan suasana yang mendadak.
Gania memperhatikan
Haikal yang masih memasang raut yang di bencinya. Gania pun memutuskan untuk
lanjut berjalan meninggalkan lelaki itu. Baru beberapa langkah ia berjalan
terdengar tawa Haikal yang membuatnya berhenti dan menoleh. Ia mendapati Haikal
sedang tertawa. Dan mulai berlari menghampirinya, Gania buru-buru kembali
berjalan dengan langkah lebar. Masih di iringi tawa Haikal yang menggema di
telinganya. Saat ini, ia sedang tak ingin ikut tertawa, meski itu dengan orang
yang tak pernah gagal membuatnya tertawa.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar