Minggu, 10 November 2013

a secret [three]


Hi! You can read a secret one and a secret two  here. :))

Cahaya matahari terpantul melalui kaca jendela di ruangan itu. Menambah rasa panas dan pengap. Seorang wanita paruh baya mengelap keringat dari pelipisnya. Matanya menelusuri seluruh ruangan, mengamati murid-murdinya yang sedang sibuk mengerjakan sebuah puisi yang di tugasinya dalam cuaca sepanas ini. Ia sendiri tidak yakin bisa membuat sebuah rangkaian kata yang indah dalam keadaan seperti ini. Lebih dari itu, ia tak begitu peduli pada usaha murid-muridnya.

Di sudut lain, seorang perempuan berambut kurang lebih sebahu sedang asik mengobrol dengan lawan bicaranya. Sesekali matanya menangkap mata sang lawan bicara. Yang, tentu saja tak di rasakan sang lawan bicara. Lima belas menit berlalu sejak sang guru memerintahkan mereka untuk membuat sebuah puisi. Konyol, pikirnya saat sang guru menjelaskan beberapa intruksi yang harus di ikuti murid-muridnya. Termasuk dirinya.

Ia tak menyukai hal-hal semacam itu. Dan merangkai kata demi kata untuk menjadi sebuah paragraf, atau bait, atau apapun itu bukan termasuk keahliannya. Dan ia lega mengetahui bahwa lelaki di sampingnya merasakan hal yang sama jika ia perhatikan bahwa sejak tadi mereka berdua tak melakukan tugas yang di perintahkan. 

Sang perempuan melempar pandangannya ke depan kelas, dimana wanita paruh baya yang membuatnya terjebak dalam kelas dan mata pelajaran yang tak disukainya sedang duduk berleha-leha melihat murid-muridnya dan tersenyum puas. Gania mengalihkan tatapannya pada teman sekelasnya. Sekarang ruangan ini benar-benar membuatnya muak dengan raut-raut berwajah stres memikirkan bagaimana caranya membuat rangkaian kata yang indah dalam keadaan hasrat yang tinggi untuk lari dari ruangan ini.

            “Lo nggak buat puisi?” Gania menoleh, mendapati wajah Haikal yang bertanya serius. Mau tak mau ia tertawa. Haikal bengong. Sebelum akhirnya mereka berdua tertawa lepas. Perlu waktu beberapa detik untuk berhenti tertawa dan menyadari bahwa sekarang seluruh ruangan kelas sedang menatap mereka berdua. Termasuk sang guru yang menatap matanya dengan tatapan marah.

            “Kalian berdua sudah selesai?” tanya sang guru. Masih belum mengalihkan tatapanya. “Saya pikir kalian sudah menyelesaikannya. Dan, mungkin kalian bisa membacakan hasil karangannya di depan kelas sekarang.” Hati Gania mencelos. Anak-anak bertepuk riuh membayangkan lelaki pendiam dan perempuan cuek membaca sebuah puisi konyol di depan kelas. Ia menoleh pada Haikal yang memasang raut datar.

            “Tunggu apalagi? Ayo maju.” Imbuh sang guru. Gania membenci ini, apa yang harus di bacakannya di depan kelas? Ia mengambil kertas kosong yang sejak tadi tak di sentuhnya. Dan mengikuti Haikal yang sedang berjalan ke depan kelas, sama-sama membawa kertas kosongnya. Keringat dingin mulai membanjirinya, ia melirik Haikal di sampingnya yang menampilkan wajah polos. Jika di lain waktu, Gania menyukai saat Haikal menampilkan ekspresi polosnya. Tapi saat ini, rasanya itu adalah ekspresi paling tolol yang di lakukannya.

Awalnya, Haikal mengangkat kertas kosong itu di depan mukanya. Menghela napas dalam-dalam seakan-akan ia akan membaca semua kata yang terangkai pada kertas itu. Raut wajahnya masih kelihatan tenang dan terkontrol. Sementara Gania berpikir keras bagaimana caranya mereka berdua bisa terbebas dari ruangan ini. Menit demi menit berlalu saat akhirnya Haikal mengeluarkan suara, membuat semua suara yang ada di ruangan itu tersedot ke dalamnya. Menimbulkan keheningan yang mencekam. Membuat kata demi kata yang keluar dari mulutnya terdengar di seluruh sudut kelas.

“Kau tahu, hal pertama selalu sangat mengagumkan

seperti pertama kali menghisap ganja yang di lakukan oleh para pecandu,

seperti saat kau menghirup anggur dan membiarkannya mengalir di tenggorokanmu,

seperti saat kau menghirup kokain dan membiarkan asapnya merusak paru-parumu,
dan bahkan kau tak pedulikan itu,

Kau tahu,

 kau akan membiarkan racun itu mengalir di tubuhmu,
dan kau menyukainya.”

Haikal mundur selangkah dan menggulung kertas di tangannya menjadi gulungan kecil. Ia menatap Gania yang masih tercengang. Matanya menyiratkan keberanian, ketenangan, beberapa detik berlalu dan bel berbunyi di sertai tepuk tangan dari seisi kelas.

***

Gania berlari mengejar Haikal yang sekarang beberapa langkah di depannya, ia memperlebar langkah berusaha menyamai langkahnya dengan Haikal.

            “Kau tahu, tadi itu keren.” Gania berhasil menjangkau lelaki itu dan menyamai langkahnya. 

“Maksudku, kau menyelamatkanku tadi.” lanjutnya, Haikal tak menjawabnya. Ia masih berjalan dengan langkah cepat, namun Gania berusaha agar tak tertinggal jauh di belakangnya.

            “Darimana kau dapatkan semua itu?” tanya Gania, sekarang ia mendapatkan perhatian lelaki itu.
            “Apa?” Haikal menoleh, memperlambat langkahnya.

“Semua itu. Kata-kata yang mengalir dari mulutmu seperti kau sedang membaca tulisan yang hanya bisa kau lihat sendiri. Aku tahu kau tak menulis apa-apa di kertas itu.” jawabnya.  “Dan jangan kira aku percaya jika kau bilang kau memang mengalaminya sendiri.” lanjutnya, bahkan saat mengatakannya pun, Gania merasa konyol membayangkan lelaki yang di kenalinya beberapa bulan lalu, memiliki pandangan sedangkal itu pada sesuatu yang menurutnya sangat abstrak. Haikal sekarang menghentikan langkahnya, memandang Gania dengan tatapan datar.

            “Lupakan. Kau tahu, kau akan membuang waktumu jika memikirkan itu.” lanjutnya pada Haikal, kaget menyadari bahwa sekarang lelaki itu mengehentikan langkahnya dan menatapnya dengan tatapan menuduh. Merasa tak enak di tatap seperti itu Gania balik menatap dengan sedikit menantang.

“Apa?” tanyanya bingung dengan perubahan suasana yang mendadak.

Gania memperhatikan Haikal yang masih memasang raut yang di bencinya. Gania pun memutuskan untuk lanjut berjalan meninggalkan lelaki itu. Baru beberapa langkah ia berjalan terdengar tawa Haikal yang membuatnya berhenti dan menoleh. Ia mendapati Haikal sedang tertawa. Dan mulai berlari menghampirinya, Gania buru-buru kembali berjalan dengan langkah lebar. Masih di iringi tawa Haikal yang menggema di telinganya. Saat ini, ia sedang tak ingin ikut tertawa, meski itu dengan orang yang tak pernah gagal membuatnya tertawa.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar