Well, hari ini adalah hari ulang tahun gue yang ke-17. Yeah, akhirnya gue 17 tahun juga. Kemarin malem gue mantengin jam dari jam 11.50 sampe tepat jam 12.00 dan nunggu sesuatu terjadi. Maksudnya siapa tau diumur gue yang ke 17 gue mulai menunjukan perubahan-perubahan jadi mutan, atau bisa telekinesis, atau apapunlah.. Well, itu emang nggak terjadi. Semua itu cuma ada di fantasi gue.
Tapi Tuhan emang punya rencananya sendiri. Tepat jam 12 lebih beberapa menit, sodara-sodara gue buka kamar gue dan pada bawa kue yang ada lilinnya gitu sambil nyanyi.... That's cool, right? Ok, maybe i'm not a sweet people but, gue seneng. Dan kejutan yang kedua dateng pas balik teraweh, depan masjid, jam sembilan malem, tuh bocah-bocah ngeguyur gue pake air terasi, tiga telor, sama terigu!!!! JAM SEMBILAN MALEM!!! DEPAN MASJID PULA!!! Yeah, tapi itu semua gue anggap sebagai bentuk perhatian mereka dan perayaan mereka. Semua orang punya caranya masing-masing buat merayakan sesuatu. Dan untuk ke sekian kalinya, gue seneng.
Oke, lupakan tentang ulang tahun konyol gue dan segalanya. Sebenernya sekarang gue mau membahas sesuatu yang masih berhubungan dengan bertambahnya (angka) umur gue. Setiap kita ulang tahun, pasti orang-orang bilang bahwa umur kita bertambah. But IMHO, sebenernya secara teknis umur kita malah berkurang, bukan bertambah. Yang bertambah itu cuma angka dalam hitungan umur kita. Dan sebenernya semakin bertambah angka dalam hitungan umur kita, maka semakin sedikit pula waktu kita didunia.
Misalnya kalo Tuhan mentakdirkan gue berumur 17 tahun lebih seminggu, itu berarti umur gue berkurang menjadi 7 hari dari sekarang. Dan menjadi 6 hari keesokan harinya, dan seterusnya. Gue mau ngutip beberapa kata dari Kak Bara yang gue baca di blognya, disitu dia bilang bahwa sewaktu kecil, kita mengenal Kematian sebagai orang asing. Orang asing yang terlalu sibuk mondar mandir nyabutin nyawa orang yang udah tua atau orang-orang yang berpenyakit. Dan nggak ada alesan buat ngelirik kita sama sekali.
Well, itu semua bener. Gue yakin kalian semua memiliki pandangan yang sama terhadap Kematian. Waktu kita kecil mungkin kita nganggep kalo kematian itu masih jauh dan nggak berminat sama kita. Dan semakin kita bertambah umur, kalian ngeliat orang-orang disekeliling kalian yang udah duluan pergi karena kecelakaan, sakit parah, dan saat itu semua berlangsung kalian selalu menyimpulkan bahwa itu emang udah takdirnya dan nggak kepikiran sama sekali buat berpikir bahwa itu bisa aja terjadi sama kita.
Khususnya gue, gue tau kalo takdir termasuk kematian itu semua ada di tangan Tuhan. Dan bisa aja gue meninggal kapan aja, bisa aja Kematian menghampiri gue saat gue tidur setelah menulis postingan ini, atau besok lusa, atau beberapa minggu dari sekarang, atau mungkin lima puluh taun sekarang. Tapi dalam pikiran picik gue, gue berharap bahwa Tuhan nggak akan secepat itu manggil gue meski selalu ada ketakutan yang selalu bergelayut dipundak gue.
Gue selalu menenangkan diri dengan berpikiran bahwa Tuhan masih ingin kasih gue kesempatan buat lulus SMA, Kuliah, Kerja, dan rencana-rencana lainnya yang ada didepan mata. Tapi siapa yang tahu? Siapa yang tahu ada kehidupan seperti apa setelah kematian? Mungkin penulis Horor berpendapat bahwa setelah kematian kita hanya meninggalkan tubuh kita dan berkeliaran dimana-mana, atau si A berpendapat bahwa setelah kita mati kita dikirim ke surga, atau B berpendapat bahwa kita harus menunggu semua orang untuk mati dan melanjutkan jalan yang selanjutnya. Tapi lo semua tahu itu cuma tentang kepercayaan. Bebas kita mau pilih dan percaya pendapat siapa yang bener.
Yah, sebenernya gue juga nggak ngerti apa sebenernya yang lagi gue bahas sekarang. Gue cuma lagi numpahin semua yang ada di kepala gue. Akhir-akhir ini gue selalu berpikir bahwa gue bisa pergi kapan aja, atau gue bisa aja kehilangan orang-orang yang gue sayang dalam sekejap, dan gue belum siap untuk pilihan yang manapun yang nantinya pasti bakal gue hadepin. Gue tahu, setidaknya gue percaya, bahwa kehidupan yang gue jalanin sekarang hanya untuk sementara. Dan bakal ada kehidupan yang nggak bakal ada habisnya. Tapii.. Nggak bakal ada habisnya? Maksud gue, untuk kehidupan yang gue jalanin sekarang setidaknya gue tahu apa yang bakal gue hadepin. Atau setidaknya orang-orang disekitar gue berpikiran bahwa mereka tau untuk apa mereka hidup.
Untuk apa orang hidup? Untuk sekolah, dapet gelar, kerja, kawin, punya anak, punya cucu, dan nunggu kematian dengan keheningan dihari tua. Karena setidaknya kita tahu ada hari dimana kita semua harus dan bakal mati. Dan semua yang kita lakukan semata-mata untuk memenuhi apa yang belum dan harus kita lakuin sebelum meninggal. Tapi apa yang bakal terjadi kalo seandainya kita hidup setelah kita mati dan menjalani hidup yang katanya Nggak bakal ada habisnya? Tahun demi tahun, abad demi abad, kita laluin tanpa habisnya dan seterus-terusnya. Well, itu semua diluar pemikiran gue. Karena sejujurnya, konsep pribadi gue dalam kematian adalah hitam. Maksudnya dengan hitam adalah yaudah, kita musnah. Semua yang kita laluin, kenangan-kenangan kita, orang-orang yang kita kenal yang ada dalam memori kita, semuanya habis. Got it?
Okee.. Berhubung gue semakin ngaco dan obrolan ini semakin kemana-mana. Gue menyimpulkan bahwa obrolan ini nggak berarti apa-apa. Dan buat kalian yang sempet-sempetnya nyempetin baca ini juga sebenernya nggak penting. Huahaha. Tapi nggak apa-apa, siapa tahu ini jadi pengingat buat kita semua bahwa kita nggak hidup selamanya, dan kita juga nggak hidup CUMA SEKALI. Dan kita bisa memilih mana yang harus dan layak kita perjuangkan, kita lakukan, dan kita rencanakan untuk akhir kehidupan yang sedang kita jalani. :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar