Minggu, 13 Oktober 2013

a secret [one]


Gania menguap.

Matanya masih terpejam, meski ia tahu sekarang tentu saja sudah terlambat berangkat sekolah. Seolah tak peduli, ia menarik kembali selimutnya untuk menutupi matanya dari cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela. Pikirannya mulai berkelana. Mengingat-ngingat  kejadian apa saja yang terjadi kemarin. Ini adalah semacam kebiasaannya setiap bangun di pagi hari. Ia ingat, hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di bangku SMA. Seharusnya, ia sudah mengikuti acara-acara bodoh yang dimanfaatkan oleh anak-anak osis itu. Ajang balas dendam. Batinnya meledek. Dengan malas ia menyingkap selinmutnya dan mulai bangkit dari kasur. Ia tahu masa orientasi sudah berakhir, dan mau tak mau ia harus siap menyambut hari yang akan membuatnya lelah.

***            

Langkah kakinya yang setengah berlari menggema di sepanjang koridor. Ia tahu ini akan menjadi hari pertama yang mengenaskan. Ia benci menjadi orang asing. Termasuk menjadi murid baru. Langkahnya berhenti di depan kelas yang di beritahu oleh staf sekolah. 
Gania menghela napas sebentar. Lalu dengan hati-hati ia mengayun daun pintu hingga terbuka. Siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk karena terlambat di hari pertama masuk. Suasana ribut seketika menyergapnya. Gania masuk, sedikit lega mendapati bahwa wali kelas barunya belum ada di dalam kelas.Matanya menelusuri seluruh ruangan kelas. Mencari sisa bangku kosong untuk di duduki. Kedua dari belakang, barisan keempat dari kanan, terdapat lelaki yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sekali lagi, Gania melempar pandangannya berharap menemukan bangku kosong yang lain. Namun nihil. Dengan malas, ia berjalan menghampiri lelaki itu. Tak ada yang memperhatikan Gania, semua sibuk dengan runtinitasnya. Saling mengenal satu sama lain dengan teman barunya, sesekali Gania melempar senyum jika ada yang mengalihkan tatapannya padanya saat ia berjalan.            

“Kosong?” Ia bertanya pada lelaki yang kini ada dihadapannya. Tak ada jawaban.

“Apa kursi ini kosong?” ia bertanya sekali lagi dengan nada suara yang menunjukan bahwa ia kesal. 

Sekarang lelaki itu menoleh. Menatap Gania yang sekarang berdiri di hadapannya dengan raut kesal menunggu jawaban. Lelaki itu mengangguk namun tidak mengalihkan tatapan matanya dari Gania. Gania yang di tatap seperti itu menatap balik, menantang.Suara pintu terbuka, kali ini seolah-olah menghentikan semua runtinitas yang sebelumnya sangat bising. Semua siswa melirik ke arah pintu. Di mana sekarang seorang wanita sedang berdiri di ambang pintu. Setelah melihat wali kelasnya menuju meja, Gania duduk di sebelah lelaki yang kini kembali sibuk dengan pekerjaannya seolah tak peduli siapa yang datang barusan. 

Merasa bahwa ia harus sedikit berbasa-basi dengan teman sebangkunya,Gania mengulurkan tangannya di bawah meja.             

“Gania,” ia memperkenalkan diri. Sang lelaki menoleh. Sekali lagi, menatap matanya. Dan membalas uluran tangan Gania.           

“Haikal..” jawabnya.

Haikal. Ya, dan dari situlah awalnya.[]

6 komentar:

  1. jiga nu heueuh wae ah si gita mah :P

    BalasHapus
  2. Baguslah giiit! Duh diriku belum ngeposting lagi:(

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. gita kenapa kepikirain sama kata katanya, keren keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi encer itu, hahaha. Thanks udah baca tinkerbell.[]

      Hapus