Senin, 11 Agustus 2014

"Unfair"

“Life is unfair, kill yourself or get over it.”

Menurut gue Quote diatas bener banget. IMHO, hidup itu udah kayak induknya masalah. Semakin berjalannya waktu semakin bercabang itu masalah. Tiap hari itu pasti ada aja masalah, mau kecil atau gede yang penting namanya masalah. Jadi kalo ada orang yang bilang kalo mereka nggak mau dapet masalah ya simple, tinggal mati aja dan mereka bakal dapet apa yang mereka mau. Karena kalo mau hidup tanpa masalah itu mustahil, bro. Ibarat lo pengen mandi tapi nggak mau kena air. Tayamum aja sana.

Terus, kalo hidup itu cabang dari masalah, kenapa masih aja ada orang yang mau hidup? Karena mereka-mereka itu punya sudut pandang sendiri tentang masalah dari kehidupan mereka. Mereka punya alasan-alasan tersendiri untuk mempertahankan kehidupan mereka yang sebenernya udah nggak mau mereka lanjutin. Atau mereka punya seseorang yang masih mengikat mereka untuk terus ngelanjutin hidup.

Sudut pandang yang kayak gimana?

Pernah nggak sih, lo berpikir bahwa lo adalah satu-satunya mahluk yang sengsara banget saat lo dapet masalah? Ibarat lo udah jalan jauh-jauh dan ternyata lo nemuin jalan buntu, sedangkan lo ngeliat orang lain udah pada sampe ke tempat tujuan tanpa hambatan. Itu rasanya kayak pengen ngamuk sama Tuhan atau siapapun yang ngebuat lo menderita dan teriak bahwa lo kesel, marah, capek, dan lo nggak terima kenapa harus lo yang dapet masalah “segede” ini. Dan ini adalah sudut pandang yang bisa membuat masalah lo 1000x lipat lebih buruk.

Well, pada kenyataannya, saat lo nemuin jalan “buntu” itu sebenernya orang-orang yang lo anggap udah sampe ke tempat tujuan tanpa hambatan itu salah. Sebenernya mereka mendapatkan hambatan dan masalah sesuai dengan ukuran dari kekuatan mereka. Pernahkan denger ada yang bilang bahwa Tuhan itu nggak akan ngasih cobaan diluar batas kemampuan kita. Itu artinya saat Tuhan ngasih kita masalah yang lumayan “besar” dia tau kalo kita mampu buat nanganin itu. Semakin besar masalah kita, semakin Dia percaya bahwa kita punya kekuatan yang lebih dari yang kita sadari.

Misalkan, si A itu adalah anak yang manja sampai saat ibunya meninggal dunia dan dia tinggal sendiri karena ayahnya menikah lagi dan mendapatkan istri yang tidak menyukainya. Maka si A pun memilih untuk hidup sendiri, mencari kerja, dan pada akhirnya bisa membiayai hidupnya. Mungkin pada awalnya si A nggak sadar bahwa dia mempunyai kekuatan untuk bertahan menghadapi masalah sampai saat dia dapet masalah itu. Mungkin saat dia masih tinggal di atap yang sama dengan kedua orang tuanya dan bersikap manja, dia nggak pernah sekalipun membayangkan bahwa beberapa hari dari saat itu ibunya akan berhenti bernapas dan dia bakal jadi anak yatim, dan beberapa bulan setelah itu, dia nggak akan tahu bahwa ayahnya yang tadinya selalu ada buat dia akhirnya berpaling hanya karena seorang perempuan. Dan dia nggak mungkin sekalipun berpikir bahwa dia bisa mencari uang dan makan dari keringatnya sendiri.

Tapi gue tau, saat lo dapet masalah lo nggak akan melirik si A atau B atau C yang ternyata punya masalah yang lebih berat dari lo. Lo hanya peduli pada diri lo sendiri dan menyimpulkan bahwa si A, B dan C mempunyai hidup yang sempurna sesuai bayangan lo sendiri. Padahal kalo sedetik aja lo meluangkan waktu lo ditengah-tengah kesibukan lo mengeluh dan melihat kehidupan si A, itu bisa membuat lo jadi lebih baik meski nggak menyelesaikan masalah lo.

Selasa, 05 Agustus 2014

Tahun Terakhir

Haloo... Udah berapa bulan nggak nulis? Baru sebulan. Well, tadinya gue beberapa hari ke belakang mau posting. Udah ada di draft, dikit lagi, pas mau diposting, ngerasa nggak penting. Jadi tulisan malang itu bertengger di draft beserta tulisan-tulisan malang lainnya. Sebenernya ini juga tulisan malang yang nggak penting, sih. Tapi ya nggak apa-apa. Berbagi hal yang nggak penting itu lebih baik daripada nggak berbagi apa-apa.

So, maksud dari judul di atas adalah gue mau bahas tentang Tahun Terakhir gue di SMA. Bukan Tahun Terakhir gue hidup. Karena gue nggak tahu kapan Tahun Terakhir gue hidup.

Seperti yang kalian sering denger, setiap ada orang yang udah mau menyelesaikan sesuatu itu pasti mereka nyeletuk: Duh, nggak kerasa ya. Udah sejauh ini. Mungkin kalian bosen denger orang ngomong gitu, tapi sebenernya menurut gue itu bener. Udah dua hari ini gue jadi siswa kelas XII di sekolah gue. Ngeliat muka-muka baru berkeliaran di koridor sekolah, ketemu temen-temen yang nggak kerasa udah dua tahun aja bareng mereka. Yang sebenernya ada bosennya juga sih liat mereka.. Muka-muka yang setaun dua taun ke depan bakal gue kangenin, muka-muka yang tiga empat lima enam tujuh tahun kemudian bakal gue lupain. Emang bener, kan?

Konsep sekolah itu rumit. Liat aja pas libur sekolah, lo pengen libur tapi pas libur pengen sekolah. Atau nggak pas dikelas, nungguin lima menit buat bel istirahat aja rasanya lama banget. Tapi pas udah lulus bilang tiga tahun itu kayak semenit. Aneh, kan?

Kamis, 03 Juli 2014

17

Well, hari ini adalah hari ulang tahun gue yang ke-17. Yeah, akhirnya gue 17 tahun juga. Kemarin malem gue mantengin jam dari jam 11.50 sampe tepat jam 12.00 dan nunggu sesuatu terjadi. Maksudnya siapa tau diumur gue yang ke 17 gue mulai menunjukan perubahan-perubahan jadi mutan, atau bisa telekinesis, atau apapunlah.. Well, itu emang nggak terjadi. Semua itu cuma ada di fantasi gue.

Tapi Tuhan emang punya rencananya sendiri. Tepat jam 12 lebih beberapa menit, sodara-sodara gue buka kamar gue dan pada bawa kue yang ada lilinnya gitu sambil nyanyi.... That's cool, right? Ok, maybe i'm not a sweet people but, gue seneng. Dan kejutan yang kedua dateng pas balik teraweh, depan masjid, jam sembilan malem, tuh bocah-bocah ngeguyur gue pake air terasi, tiga telor, sama terigu!!!! JAM SEMBILAN MALEM!!! DEPAN MASJID PULA!!! Yeah, tapi itu semua gue anggap sebagai bentuk perhatian mereka dan perayaan mereka. Semua orang punya caranya masing-masing buat merayakan sesuatu. Dan untuk ke sekian kalinya, gue seneng.

Kamis, 29 Mei 2014

Move On

Semua orang pasti pernah ngalamin susah Move On. Bedanya ada yang terang-terangan susah Move On dan ada yang pura-pura udah Move On tapi sebenernya susah Move On.

Move On itu apa?
Gue translate di Google sih artinya 'Berjalan Terus' Ngerti gak? Nggak? Sama.

Kalo menurut gue arti umum dari 'Move On' itu ninggalin sesuatu dibelakang dan ngelanjutin idup. Tapi jaman sekarang Move On itu pasti berkaitan sama Mantan. Buat yang gak punya mantan, tenang, Move On juga masih bisa berkaitan dengan gebetan, kok. Contohnya mantan gebetan.. Buat yang nggak punya gebetan juga, yaa lo bisa mikir sendiri apa yang ngebuat lo susah Move On.

 Tapi kebanyakan sih kasusnya orang-orang kalo bahas tentang susah Move On pasti karna abis putus dll.. Kalo nggak mungkin itu orang nggak bisa Move On gara-gara kelamaan ngeceng gebetan dan gak berani deketin duluan dan akhirnya keburu basi sendiri, deh. *pengalaman

Kali ini gue nggak bakalan ngoceh (sok tau) tentang solusi Move On. Karena menurut gue sia-sia. Kenapa sia-sia?

Sabtu, 10 Mei 2014

How Love Destroys People



Dilihat dari judul diatas, gue kira lo semua udah tahu apa topik yang bakal gue bahas kali ini dengan gaya (sok tahu) gue. Oow, gue tau apa yang langsung terlintas dalam benak lo semua saat denger judul diatas. But FYI, gue bahas topik ini semata-mata bukan kerena kebetulan atau apa, jeniusnya, judul ini muncul dipikiran gue saat gue lagi denger obrolan diruang tamu ibu kost gue sepulang sekolah. Awalnya, gue nggak tahu ada apa dan kenapa banyak orang saat gue balik, karena gue langsung masuk kamar kost, ngunci diri, dan dengerin mp3 sampe mampus. Tapi ternyata gue belum mampus karena gue cuma ketiduran dan keluar kamar buat kekamar mandi saat ngeliat orang-orang asing yang tadi kumpul disini udah pada balik, disitu cuma tinggal ada tiga orang, yang satunya adik ibu kost gue, dan yang kedua nya temen kost gue. Mereka keliatan lagi serius ngobrolin sesuatu, jadi gue nyamperin dan nanyain ada apa.

Mereka cerita kalo yang tadi dateng itu keluarganya si Siti (Nama Asli Disamarkan) yang jauh-jauh dateng buat nanyain keberadaan si Siti. Sedangkan

Sabtu, 15 Februari 2014

a secret [four]


You must read a secret one, two, and three in here.. Happy reading. :))



“Memangnya harus ya, kita mengerjakan ini semua?” ia melemparkan bolpoinnya dengan asal. Semangat yang mengembara dalam dirinya sudah hilang. Lelaki di depannya masih berkutat dan seakan-akan ia tidak sadar keberadaan temannya. Merasa bosan tidak di perhatikan, gadis itu beranjak dan berjalan menuju dapur dengan malas.
“Semua keluhan lo itu, nggak berpengaruh buat tugas kita,” lelaki itu akhirnya bersuara saat Gania kembali membawa air putih di tangannya. Gania memutar bola matanya, ia sudah bosan dengan drama ini. Masih beridiri sambil menegak air minumnya, ia memperhatikan sahabatnya yang sekarang telah kembali sibuk. Sudah enam minggu berlalu sejak mereka berdua di tugaskan dalam membaca puisi, dan sejak itu Gania selalu bertanya-tanya perempuan seperti apa yang cukup beruntung menarik perhatian Haikal. Haikal adalah lelaki yang mempunyai rambut hitam dan berkulit sawo matang. Pemandangan itu di dukung oleh warna mata coklatnya, serta hidung mancung yang sesekali ia garuk, Gania tahu ia melakukannya tidak saat benar-benar gatal. Haikal melakukan itu saat ia merasa gugup, bosan…
“Jangan terlalu lama ngeliatin, kalo lo jatuh cinta sama gue, gue nggak bertanggung jawab,” lagi-lagi Gania memutar bola matanya. Meski ia tahu Haikal tak melihatnya, lelaki itu berbicara tanpa menoleh. Ia benci jika tertangkap basah sedang memperhatikan seseorang, dan ia akan lebih benci jika terlihat bodoh sesudah itu. Ia tak mau kalah beragumen dengan Haikal.
“Asal lo tau, tipe cowok gue bukan orang yang  freak,” Gania memulai, ia meletekan gelas yang telah kosongnya di atas meja kecil di antara mereka, dan kembali bergabung dengan lelaki itu. Baru saja Gania akan melanjutkan, Haikal sudah mendongak dan menatapnya sambil berkata, “Dan lo udah mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali. Tapi buktinya gue nggak pernah ngeliat lo deket sama siapapun selain gue,” ucap Haikal.
“Gue deket sama Riana, Nisa, Doni, dan lo nggak usah sok tau,” jawab Gania, ia sudah mengganggap pembicaraan ini selesai saat Haikal tak juga menjawab. Bahkan Gania ragu Haikal mendengar jawabannya.
“Riana dan Nisa itu cewek, dan Doni itu lagi berusaha deketin Riana melalui lo. Dan, gue juga tau, lo nggak mungkin tertarik dengan cowok kayak Doni,” ucap Haikal, sekarang ia beranjak menuju dapur. Gania mengikutinya dengan tatapan heran.
“Gue tau tentang mereka berdua cewek. Dan lo nggak salah tentang gue nggak mungkin naksir Doni. Dan kali ini, lo bener-bener udah sok tau. Emangnya semua yang deket sama gue harus sampe lo tau, ya?” Gania memulai lagi saat Haikal kembali membawa segelas air putih yang sudah setengahnya.
“Itu sih terserah lo. Tapi kan yang tadi itu cuma pendapat gue.” Haikal meletakan gelas yang masih tersisa di samping gelas kosong Gania.
“Dan jangan lo kira cuma lo disini yang punya pendapat. Gue juga tau, selama ini gue nggak pernah ngeliat lo deket sama cewek lain di sekolah,” jawab  Gania, merasa puas dengan jawabannya saat melihat Haikal sedikit tercengang.
“Lo cuma nggak tahu aja,” ucap Haikal yang rupanya berniat menutup topik pembicaraan ini. Yang melegakan Gania karena ia sendiri telah muak. Topik seperti ini selalu membuatnya gugup. Menit-menit selanjutnya mereka habiskan dengan saling diam. Mereka sedang berada di rumah Haikal. Gania sudah mulai terbiasa dengan aroma pewangi ruangan ini, terbiasa dengan cat biru muda yang mengelilingi seluruh ruangan, seakan-akan meninggalkan rasa nyaman yang tak dapat ia jelaskan. Gania melemparkan pandangannya pada sebuah foto berpigur yang menampilkan seorang bocah lelaki yang sedang tertawa lebar di latar belakangi ombak pantai pada musim panas.
Jika ia lihat, nyaris semua foto yang berada disini di latar belakangi suasana pantai. Dan Gania dapat menyimpulkan, bahwa Haikal sangat menyukai pantai. Ia merasa telah mengenal Haikal sangat lama, ia merasa telah menjadi bagian dari Haikal dan telah mengenal Haikal lebih dari ia mengenali dirinya sendiri. Dan, apa pula yang ada dikepalanya ini? Sudah jelas ia baru mengenal Haikal enam bulan yang lalu. Waktu yang singkat jika sampai ia merasa telah mengenal Haikal terlalu jauh. Pikirannya berputar pada pembicaraan terakhir Haikal tadi. Apa katanya? Ia hanya tidak tahu? Apa yang belum ia ketahui tentang Haikal?
***
Hari sudah sangat sore saat Gania meninggalkan rumah Haikal. Ia menolak ajakan Haikal untuk mengantarnya, Gania ingin dan perlu waktu untuk menyendiri. Ia meredam suara kebisingan di sekitarnya dengan handsfree menempel di telinganya. Komplek Haikal berada lumayan jauh dengan rumahnya, dan saat ini ia terjebak di dalam taksi di tengah kemacetan kota Bandung. Akhir pekan sudah di mulai, dan kotanya akan di penuhi penghuni kota Jakarta yang ingin melepas penat setelah seminggu penuh berdesakkan dengan berbagai macam masalah. Mencoba mencari tempat untuk melepas penat dan menghabiskan waktu dengan keluarga, kekasih, atau hanya menyendiri dan mengunjungi tempat-tempat yang menurutnya bisa melepas penat. Ia mengalihkan tatapannya melalui jendela, menatap kesibukan yang tidak ada hentinya. Ia bertanya-tanya apa yang sedang di pikirkan orang-orang yang ada di luar sana, lampu merah didepannya rupanya sudah berakhir. Dan taksinya meluncur mulus sepanjang jalan, ia menangkap kelebatan-kelebatan cepat yang tidak jelas di hadapannya. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada pembicaraannya dengan Haikal tentang dirinya. Tapi buktinya gue nggak pernah ngeliat lo deket sama siapapun selain gue. Yah, dan ia tidak bisa menyangkalnya, bukan?
Ia memang tidak mempunyai orang yang dekat dengannya sedekat Haikal dengannya. Meski Gania tahu, baru enam bulan berlalu sejak Gania menghampiri meja lelaki yang sibuk dengan pekerjaannya, dan menyodorkan tangan mungilnya dibawah meja sembari memperkenalkan dirinya. Waktu terus berlari, batinnya. Dan kelebatan-kelebatan peristiwa yang sudah ia lalui dengan Haikal berkelebatan dalam pikirannya seperti jalanan yang dilaluinya saat ini.
Gania sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia merasakan hal-hal menggelikan yang ia rasakan saat ia menatap Haikal dengan cara yang berbeda seperti ia menatap orang lain. Terkadang, Gania menatap Haikal dengan  pandangan burung kepada langit, mereka memang sudah merasa dekat dengan tujuan mereka, dan orang-orang yang tertinggal di bawahnya menatapnya dengan iri seakan-akan mereka adalah satu-satunya mahluk beruntung yang mempunyai sayap dan memiliki kesempatan untuk menggapai langit.
Namun kenyataannya, burung-burung tidak pernah sampai pada tujuan mereka. Tidak peduli seberapa cepat mereka terbang. Angin akan membawanya kembali, atau langit itu sendiri terasa seperti mundur menjauh. Ini bodoh. Ia berbisik pada benaknya. Ia bukan burung yang berterbangan mencoba menggapai langit. Sejak kapan ia membandingkan dirinya sendiri dengan hal-hal bodoh seperti ini?

***

Jika Gania harus memberikan apa saja agar ia mendapatkan hari liburnya dengan hal yang sudah sangat ia dambakan selama seminggu penuh yang melelahkan, dengan bergelung dalam kamarnya dengan penerangan muram dan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa malas, ia belum sempat membiarkan itu semua terjadi.
Dengan setengah mengantuk, Gania mencari-cari ponselnya yang sejak tadi berdering. Membuat Gania ingin melemparkan benda itu sampai hancur supaya diam. Tapi hal itu ia kesampingkan ketika melihat nama di dalam layar ponselnya.
Salsa.
Ia menerima panggilan itu dengan terheran-heran. Dan segera mendapati suara sahabatnya yang sudah familer selama tiga tahun belakangan, dan menyadari ini kali pertama setelah, ia tidak ingat kapan, ia mendengar suaranya. Dan disinilah ia sekarang, terperangkap dalam dunia sahabatnya di antara rak-rak penuh buku. Dulu, mereka sering pergi ke tempat ini hampir setiap minggu. Salsa adalah teman sebangkunya semasa SMP. Dan meskipun ia telah mendengar semua ocehan Salsa tentang bagaimana rasanya membaca buku dan kita masuk dalam dunianya, tenggelam sampai kita sadar sebenarnya kita tidak benar-benar ada disana. Dan menyadari bahwa kita tenggelam dalam pikiran kita sendiri. Gania tidak merasa dirinya tertarik, bahkan sedikitpun. Ia selalu duduk di pojok kanan ruangan dan bersandar pada sofa yang mengelilingi seperempat dari ruangan itu. Handsfree terpasang di telinganya. Ruangan itu adalah ruangan yang berpenerangan sedikit muram. Tidak banyak pengunjung pada minggu ini, mungkin orang-orang lebih tertarik mengantri tiket bioskop ketimbang meleburkan dirinya dengan setumpukan buku. Namun, Gania tidak merasa tertarik dengan keduanya. Benaknya berputar, Haikal senang membaca. Ia tahu itu, di lihat dari koleksi buku yang terjajar rapi saat ia memasuki kamarnya kali pertama. Tapi Gania tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Ia menyadari bahwa ada, bahkan banyak, hal-hal yang membuatnya merasa, dan harus diketahuinya tentang lelaki itu. Meski ia tidak tahu kenapa—
"Gania!" ia tersentak dari lamunannya dan mendapati sorot mata sahabatnya yang terlihat kesal. Seperti biasa.
"Apa?" tanyanya polos.
"Oh, ayolah. Gue yakin omongan gue lima menit terakhir sia-sia." Salsa mengehempaskan diri di sampingnya. Gadis itu sekarang sedang menggenggam beberapa buku dengan antusias.
"Sori, gue nggak denger. Ada apa? Kalo lo mau berkicau tentang semua buku yang udah lo baca itu. Gue mau ngingetin kalo lo udah berkali-kali bercerita bahwa tokoh disit— "
"Oh, diamlah. Gue tadi cerita tentang Alfi. Gue putus." ia menatap sahabatnya, membelakak. Salsa menjatuhkan buku-buku itu di sampingnya dan menunduk. Gania diam. Menunggu sampai sahabatnya menyelesaikan ucapannya.
"Lo bener, Gan." lanjutnya.
"Tentang? Asal lo tahu, terlalu banyak kebeneran dalam kata-kata gue." ia mencoba melucu, dan tentu saja gagal.
"Alfi bukan tokoh yang pantas buat ending cerita gue. Dan gue nggak bisa menemukan— "
Tapi ia tidak pernah tahu apa yang tidak bisa di temukan sahabatnya, suara Salsa semakin samar dan perhatian Gania telah teralihkan sepenuhnya pada sosok yang memunggunginya di ujung ruangan. Gania mengenal sosok itu meski ia tak bisa melihat wajahnya. Disisinya, berdiri seorang gadis, berambut panjang tergerai dengan warna hitam yang serasi dengan dress biru cerah yang dikenakannya. Gadis itu berbalik, tersenyum lebar pada lawan bicaranya. Ketika sang lawan bicaranya ikut berbalik, Gania melihatnya. Haikal sedang tertawa memamerkan barisan gigi putihnya, tawa yang telah familier di telinganya sendiri. Lelaki itu memakai kaus putih polos yang dipadukan dengan jeans hitam andalannya. Napas Gania tercekat. Untuk kali pertama, tawa Haikal yang biasanya menenangkan hatinya, membuatnya geli dan nyaman, itu semua lenyap digantikan dengan gemuruh keras ditelinganya, ia tidak tahu alasannya. Apa mungkin ini karena bukan dirinya yang ada di samping Haikal? Karena bukan dirinya yang membuatnya tertawa seperti biasa? Atau karena sesuatu di dalam dirinya, jauh di dalam lubuk hatinya, kecewa? Haikal benar. Tidak semua hal tentangnya diketahui Gania. Tapi ia merasa sakit. Ia merasa dikhianati meski kenyatannya tidak begitu. Haikal bisa saja pergi bersama ratusan wanita dan tidak harus sampai Gania mengetahuinya. Ia bisa saja siap menerima kemungkinan itu, tapi sekarang, saat Gania yakin Haikal tidak pernah tertarik dengan siapapun selama ia mengenalnya. Tapi tentu saja ini bodoh. Lelaki itu normal dan ia tidak seharusnya berpikir seperti itu. Namun ia telah mengenal Haikal selama enam bulan. Waktu yang cukup lama untuk menyimpulkan bahwa ia sudah benar-benar mengenali lelaki itu. Dan ia di hadapkan dengan kenyataan yang mengembalikannya berpijak pada bumi. Menyadarkanya akan dirinya sendiri, bahwa ia selama ini diam-diam telah memupuk sedikit harapan— tidak. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Apapula yang sedang dipikirkannya? Ia hanya sedang melihat sahabat lelakinya kencan dengan seorang wanita yang bahkan sangat manis. Lalu, apa yang perlu dipermasalahkan?
Salsa mengguncang bahunya dengan cukup keras sehingga membuyarkan lamunan Gania, ia mendapati tatapan kesal dari gadis itu. Sebelum mengalihkan tatapannya kembali pada Haikal yang sekarang sedang berusaha mengambil buku pada rak yang cukup tinggi. Ia memang cukup tinggi untuk lelaki seukurannya, hampir sepantar dengan Gania. Dan gadis yang berada di sampinya jelas-jelas lebih mungil daripada postur tubuh Haikal.
"Hebat. Bahkan sekarang lo sama sekali nggak menganggap keberadaan gue. Lo kenapa, sih?" ujar Salsa, yang menatap Gania dengan putus asa. Salsa mengikuti tatapan Gania yang sejak tadi tidak ditinggalkannya. Mendapati pasangan remaja yang sedang tertawa dengan obrolan ringan mengenai buku humor yang sedang di pegang salah satu di antara mereka. Salsa mengenali buku itu dari sampul yang dipegang si gadis. Dan mengernyit karena sepertinya tidak ada bahan humor dari buku yang mereka pegang untuk ditertawai. Dan kembali menatap sahabatnya, "Oh, jangan bilang sekarang lo mulai jatuh cinta pada pandangan pertama sama cowok yang jelas-jelas udah punya cewek. It's bad, honey," ujar Salsa.
"Satu, gue ragu mereka pasangan remaja yang sedang bermabuk cinta di tempat membosankan kayak gini. Dan kedua, gue nggak jatuh cinta, apalagi pada pandangan pertama." ia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Haikal sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Terlalu larut dalam pembicaraan yang tak bisa Gania terka. Dan, tentu saja Haikal masih terlihat santai, tidak menyadari ada seseorang sedang menatapnya.
"Terserah. Tapi ini konyol. Sejak kapan sih lo ngeliatin cowok yang bahkan nggak lo kenal sama sekali? Sebegitu mempesonanya ya, sampai lo nggak mau berkedip sama sekali." Salsa memutar bola matanya, Gania mulai pulih dari keterkejutannya, sekarang ia merapikan tasnya dan hendak beranjak. Ruangan ini terasa sangat panas dan pengap. Meski beberapa menit yang lalu ia tidak merasakannya sama sekali. Masih diikuti tatapan heran dari sahabatnya, ia berkata, "Gue kenal dia. Oh, dan yang perlu lo tau, GUE SAMA SEKALI NGGAK TERPESONA DENGAN SIAPAPUN. Dan, apa lo udah selesai dengan semua urusan buku lo ini? Karena gue mulai bosen dengan tempat ini. Jadi, lo ikut apa tinggal?" ia mengatakan kata-kata terakhirnya sambil beranjak menjauhi tempat duduknya,  mendengar Salsa menggumam dengan kesal karena ia belum mau pergi dari sini namun teatap mengikutinya. Gania harus melewati Haikal jika ingin mencapai pintu keluar. Dan melakukannya dengan sangat mudah, diluar dugaannya. Haikal masih larut dalam percakapannya. Salsa di belakangnya, masih menggerutu tidak jelas namun tetap mencoba mengejar Gania dan menyamai langkahnya. Saat mereka berdua telah mencapai pintu, Gania melirik ke arah Haikal untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari tempat yang menyesakkan itu. Dan, ia bersumpah, bahwa Haikal membalas tatapannya.[]

Sabtu, 18 Januari 2014

Ops, Mission Failed!

Begitu denger kata gagal, atau mengalami kegagalan yang baru terjadi di depan mata kalian. Apa, sih yang langsung nyangkut di kepala kalian? Kecewa? Marah? Ingin meledak? Ingin menciut? Yap, gue yakin semua orang yang baru mengalami kegagalan merasakan hal yang sama. Bahkan sekalipun Mario Teguh dan para motivator-motivator hebat lainnya.

Sebelum gue lanjut, gue mau share beberapa pendapat tentang orang-orang di sekitar gue tentang kegagalan:

Kakak Mentor: "Kalau kata teteh, kegagalan itu tidak ada, yang ada hanya kita yang belum mampu menyadari kesuksesan kita." *manggut-manggut*

Nyokap: "Tidak mencapai titik kesuksesan?" *yang ini buat gue deg-deg-an*

Temen gue: "Gak bisa selingkuh dalam satu sekolah?" *geleng-geleng*

Gue: Kecewa.

Karena menurut gue, reaksi alami para kaum fana saat mengalami kegagalan adalah intinya sama: kecewa. Nggak peduli apa yang mereka pikirkan, katakan, ocehkan, atau sudut pandang mereka melihat kegagalan yang menimpanya sebagai sesuatu yang baik atau buruk, intinya mereka tetep kecewa.
Pernah denger dong pepatah populer tentang kegagalan: kegagalan adalah kunci dari keberhasilan? Ini adalah salah satu pepatah yang paling populer menurut pengamatan gue. Pepatah ini tertoreh di majalah-majalah, di buku-buku psikologi, di lks sejarah, di mana-mana. Gue udah baca ribuan kali, gue ngerti isinya. Gue ngerti apa maksudnya, tapi gue nggak menemukan secuil harapan dari pepatah manapun tentang bahwa kegagalan adalah kunci dari keberhasilan di dalam diri gue. Tunggu, bukannya gue nggak percaya itu. Tapi gue tentu saja percaya semua pepatah yang gue baca, maksud gue, itu semua ujung-ujungnya emang bener, kan? Kegagalan adalah benih kecil dari keberhasilan. Semakin sering gagal, semakin banyak kau belajar.

Gue nggak akan mengelak, karena suatu saat gue bakal mengerti dan benar-benar memahami semua pepatah itu. Tapi untuk sekarang, biarkan gue menikmati kegagalan-kegagalan yang selama ini selalu gue keluhkan. Yang sejauh ini keluhan gue tidak berdampak apa-apa selain kejengkelan dari orang-orang sekitar gue.
Gue nggak tahu kenapa ingin nulis ini, gue hanya ingin tahu apa pendapat kalian tentang kegagalan. Kalian yang sama-sama berada di posisi gue. Gue merasa lelah bertanya sama orang-orang yang menurut ukuran gue, sukses, mendapatkan apa yang mereka inginkan, berhasil, dan jawaban mereka selalu sama: kegagalan itu buahnya manis, atau, kalo lo nggak gagal, lo nggak akan berhasil, atau, lo mau tau rumusnya sukses? Gagal dulu!

Kalo gue lagi dalam keadaan normal, saat gue mendengar itu gue cuma bisa manggut-manggut tanda bahwa gue ngerti apa yang mereka maksud. Tapi kalo dalam keadaan baru tertimpa kegagalan... Yaa.. You know, lah.. Rasanya gue ingin teriak di telinga mereka: " WOI! LO NGGAK NGERASAIN YANG GUE RASAIN! KECEWA! MARAH! GUE KURANG APA, SIHHHHHHH??!!?" Tapi, tentu saja itu nggak gue lakuin, gue nggak sebodoh itu. Gue emang meneriaki itu semua.
Tapi dalem hati.
Dan tentu saja gue salah dalam bagian mereka nggak ngerasain apa yang gue rasain, setidaknya, mereka pernah merasakan kegagalan seperti yang gue rasakan saat ini. Itu kan yang mereka maksud rumus dari sukses?

Tapi gue hanya menemukan dan merasakan apa yang mereka katakan saat gue mendapatkan apa yang gue inginkan. Contohnya, waktu kelas tiga SMP. Di semester terakhir sebelum kelulusan, gue mendapati bahwa gue masuk dalam Tiga besar di kelas. Woha! I'm very excited. Yang ada dalam kepala gue saat itu adalah bahwa semua yang orang-orang katakan tentang kegagalan membuahkan hasil emang bener!
Contoh lainnya, satu tahun yang lalu, gue coba-coba ikutan Pertukaran Pelajar yang katanya, yang gue denger seleksi nya nggak terlalu berat. Dengan modal niat, iya, gue cuma punya modal niat+nekat saat itu. Gue berangkat ke tempat di mana seleksi pertama di adakan. Dalam perjalanan berangkat, gue mendadak merasakan kepercayaan diri gue meningkat. Gue pergi sama temen saat itu, yang kita sama-sama ikutan seleksi.
Awalnya gue emang iseng, tapi saat gue mendapati diri gue di tempat seleksi gue tau gue harus serius. Gue udah berangan-angan gimana rasanya kalo gue lolos. Gue udah membayangkan satu tahun penuh pengalaman di negara orang yang nantinya bakal gue tulis. Gue merasakan ambisi gue meningkat. Sampai pada saat pengumuman...
Gue nggak di hubungi.
Itu artinya, gue gagal.
Gue dan temen gue gagal.
Mimpi-mimpi yang kita bicarakan di perjalanan menuju tempat seleksi lenyap sudah.
"Seengaknya, kita udah mencoba. Nggak kayak mereka yang terlalu takut gagal hanya untuk mencoba." ujar temen gue, gue mengangguk.
Tapi gue nggak terlalu memperhatikan temen gue, gue tau apa yang dia katakan hanya untuk membesarkan hati kami masing-masing. Padahal, di dalam kepala dan pikiran masing-masing, kita sibuk menyalahkan diri sendiri, menyalahkan tuhan, menyalahkan juri, menyalahkan soal yang sulit, menyalahkan siapapun hanya untuk menenangkan diri kita sendiri.
Dan mendapati bahwa kita berada di ruangan kosong, hampa.
Sendirian.
Mendapati bahwa kita gagal.
Bahwa kita tak mampu menunjukan sesuatu untuk di banggakan.
Mendapati bahwa badan kita semakin mengecil dalam ruang hampa itu dan semakin mengecil.
Hingga hanya ada satu titik yang tersisa.
Satu titik yang menunggu di beri harapan dan membesarkan diri lagi.
"Terima saja, kau kalah sekarang. Kau tahu seberapa kecil kemampuanmu, kan, mahluk bodoh?" kata sebuah suara, tentu saja itu bukan suara orang tua kita. Mereka selalu menutupi rasa kecewa mereka, bukan?
Dan kalo yang lo pikirkan adalah suara para sahabat lo itu juga bukan. Mereka selalu menutupi fakta bahwa kalian ya.. Payah, untuk menghargai kalian, kan?
Itu adalah suara dalam kepala lo, yang berdentam-dentam dan saling menimpali, "Gue bisa. Gue hanya belom dapet kesempatan itu." kata sebuah suara lagi.
Dan mereka berdebat.
Tentang bagaimana mereka memandang kegagalan dari sudut pandang mereka, mereka adalah bagian dari diri kita sendiri. Mereka adalah ego kita. Yang selalu bertentangan dalam semua hal.
Dan, gue tebak, yang selalu menang adalah dia yang pendapatnya paling realistis saat itu. Misal, saat gue gagal Pertukaran pelajar kemarin, gue emang lebih mendengarkan sisi gelap dalam diri gue.
Dan, lo bisa tebak gue lebih mendengarkan komentar sisi gue yang mana saat gue mendapat juara kelas.
Jadi, itu semua tergantung keadaan, kan? Dan gue bukan berbicara tentang dua orang yang bertentangan dan sosok mana yang lebih lo dengarkan.
Tapi, gue berbicara tentang satu orang dengan sudut pandang yang beragam. Contohnya? Gue.
Saat gue mendapati kegagalan yang ada di depan mata, gue merutuki diri sendiri dan mendumel. Meski gue tahu saat itu berakhir gue akan mencoba lagi dan mencoba lagi. Gue hanya butuh semacam pengingat bahwa gue memang pantas mendapatkan kegagalan itu dengan memaki diri gue sendiri dan memaksa untuk lebih baik.
Yeah, this is end of the post. Sori, gue tau ini adalah postingan yang nggak berguna. Gue hanya menulis keresahan gue, gue hanya ingin berkeluh kesah. Nggak dosa, kan? Gue ingetin ya, postingan sebelum postingan ini emang gue lagi waras sampe bisa nyerocos yang lebih berguna dari pada semua ini. Gue cuma.. Yaa, anak remaja yang sedang mengalami keresahan karena kegagalan-kegagalannya? Dan mencari tempat untuk berkeluh kesah sehabis gagal dan mencoba lagi dan lagi. Setidaknya, untuk sekarang gue masih menikmati keluh kesah gue sebagai remaja normal. Tomorrow? Who know?

Minggu, 12 Januari 2014

Alasan-alasan Mempertahankan Hubungan


Dalam pekatnya malam, Sinta terus berceloteh kepada Budi yang sejak tadi mengangguk-ngangguk mendengarnya berceloteh yang jika ia dengar baik-baik bahwa sahabatnya itu bercerita hal yang sejak tadi di ulang-ulang. Tapi Budi diam saja, ia hanya memperhatikan Sinta yang sesekali emosinya memuncak saat ia menggambarkan bagaimana kekasihnya itu sedang berjalan mesra dengan wannita lain yang tak ia kenal. Setelah emosinya tumpah ruah dengan cara mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, ia langsung menangis dengan histeris. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Sinta bertingkah seperti itu. Hampir setiap tujuh kali dalam seminggu Sinta menggedor pintu rumah Budi dan menangis kepada sahabatnya sambil berteriak-teriak.
            “Karna gue sayang sama dia, Bud!” teriak Sinta menjawab pertanyaan Budi yang selalu sama.

“Meskipun dia terus-terusan nyakitin lo?” tanya Budi tanpa meninggalkan tatapannya pada sahabatnya itu.

“Iya. Karna gue tau dia bakalan berubah. Gue tau dia cuma lagi mengetes gue aja, seberapa tahan gue sama dia, seberapa sayang gue sama dia. Dan seberapa kuat gue mertahanin hubungan ini.” jawab Sinta, air matanya mulai keluar lagi.

“Hubungan yang lo sendiri nggak bahagia.” tutur Budi. Sembari meneguk kopi yang masih panas, ia merengkuh gelas itu dalam jemarinya.

“Gue bahagia.” jawab Sinta, sekarang ia menunduk. Tangannya sibuk mengepal-ngepal sesuatu yang kelihatnnya seperti tissue yang sudah hancur.

“Buktinya? Lo dateng setiap malem kesini cuma buat mengutarakan hal yang hampir sama. Lo dateng buat ngadu tentang kelakuan cowok lo sambil nangis, terus besoknya lo bilang udah maafin cowok lo dan kalian baikan lagi. Lusanya, lo nangis lagi dan nangis lagi. Gue bingung hal apa yang ngebuat lo bahagia.” jelas Budi, cangkir kopi masih dalam genggamannya. 

“Gue bahagia. Cuma itu. Lo nggak usah tanya-tanya alasan kenapa gue bahagia. Cuma gue yang tau.” jawab Sinta, ia masih menunduk, tissue dalam genggamannya sekarang sudah benar-benar hancur dan basah oleh air mata.
“Oke. Kalo gitu gue tanya, apa alasan lo untuk mempertahankan hubungan kalian?” tanya Budi, ia meneguk sedikit kopinya dan menyimpannya di atas meja.

“Lo tau itu, Bud. Karna gue sayang sama dia.” sekarang ia melemparkan tissue nya dan merengkuh wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.

“Sayang? Oke, lo sayang sama dia. Lo berkorban buat dia. Lo bertahan buat dia. Kalo emang lo sesabar dan sehebat itu, lo nggak akan marah-marah sambil nangis sekarang. Bertahan karna alasan sayang padahal udah dikhianatin berkali-kali? This is your life, Sin. Please, take control of it. ” tutup Budi, ia menghabiskan kopinya dengan sekali teguk dan beranjak menuju pintu rumahnya meninggalkan Sinta yang masih menunduk.
***

Berikut adalah sedikit cerita dari tema yang bakal gue bahas kali ini. Akhir-akhir ini gue sering ngeliat status-status following gue di Twitter atau di lingkungan sekitar gue yang sering mengeluh tentang hubungan mereka yang bahkan nggak mereka nikmati sama sekali. Disini ada beberapa alasan-alasan yang sering diutarakan oleh mereka yang gue ringkas sesuai dengan pengamatan gue.

1.      Sayang
Ini udah mainstream banget. Ini adalah alasan pertama yang di ucapkan oleh para pemeran cinta yang galaunya ngelebihin orang jomblo. Kayak tokoh si Sinta di atas. Dia bilang bahwa dia sayang sama pacarnya yang udah nyakitin dia berkali-kali. Menurut gue nggak salah, sih kalau dia emang mau mempertahankan hubungannya sendiri atas nama cinta. Itu hak dia. Tapi seperti yang Budi bilang diatas, kalo emang dia niat buat mempertahankan dan memperjuangkan hubungannya. Dia nggak perlu terus-terusan nangis dan marah-marah, mengeluarkan umpatan kasar sama pacarnya ketika pacarnya selingkuh.
 Keputusan siapa yang mau bertahan? Keputusan siapa yang lagi-lagi memberi maaf pada orang yang udah nyakitin dia berkali-kali? Menurut gue kalo udah sejauh ini dan si Sinta terus-terusan memberi maaf kesalahan bukan hanya ada di pihak lelaki, tapi kepintaran Sinta juga dipertanyakan disini~

2.      Nggak Tega
Ha! Biasanya yang make alasan ini adalah tipe orang yang memiliki hati nurani yang sangat besar. Gimana nggak? Dia mertahanin hubungannya sendiri, dia mengorbankan batinnya sendiri yang tercabik-cabik hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Seakan-akan pacarnya adalah pengemis di jalanan yang kalo dia nggak ngorbanin uang kertasnya cuma karna nggak ada receh hanya dengan alasan “Nggak Tega”. Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran apa mau mengasihani anak orang, sih?

3.      “Udah lama, Sayang Kalo Diputusin”
Gue emang jarang ngedenger ada orang yang pake alesan ini. Tapi bukan berarti nggak ada. Biasanya orang-orang yang bilang kayak gini adalah mereka yang hubungannya udah terlalu jauh dan sayang untuk di akhiri. Tapi menurut gue, nggak masuk akal kalau kita menjalani hubungan dengan seseorang yang udah nggak nyaman untuk di jalanin tapi masih aja bertahan karena pengen langgeng. Sejauh apapun hubungan kalian, meskipun di awalnya kalian sama-sama bahagia tapi pada akhir-akhir kalian ngerasa banyak yang berubah pada hubungan kalian sedniri. Atau kalian udah ragu sama perasaan pasangan kalian. Tapi lo tetep bertahan cuma karna lo sayang sama hitungan bulan yang udah jauh dan membuat teman-teman kalian berkata iri, “Langgeng banget. Gue pengen kayak kalian berdua.” Tapi nyatanya hubungan kalian udah kerompong! Gue jadi bingung, sebenernya lo mau pacaran atau mau ngitung tanggal Anniv, sih?

4.      Jalanin aja, Gue Kuat, kok.
Lo baca cerita di atas? Dimana tokoh Sinta menyebut seakan-akan dia adalah sosok yang hebat, pejuang cinta yang tak kenal lelah meski udah di sakitin ke sekian kalinya. Tapi dia tetap bertahan dengan alasan bahwa dia kuat. Kuat? Kata kuat ini sih, yang biasanya selalu di pertanyaankan. Hubungan yang baik itu nggak butuh kekuatan dari satu pihak doang. Percuma sekuat apapun lo kalo lo masih mengumbar-ngumbar kegalauan lo di social media. Apa yang lo harapkan? Di baca pacar lo? Yang kanyataannya belum tentu dia peduli.
Kalo emang lo bahagia sama hubungan lo yang sekarang, lo nggak perlu mengarahkan kekuatan yang lo punya itu cuma buat mempertahankan hal yang udah kadaluarsa. Baru pacaran aja lo udah mati-matian berusaha sekuat mungkin buat menjadi tegar. Apalagi kalo lo udah nikah sama dia? Lo mau pacaran apa ngangkat barbell?

5.      Dia Bakal Berubah, Kok.
      Biasanya alesan ini dia katakan lebih kepada dirinya sendiri. Buat meyakinkan kepada dirinya kalo orang yang dia sayang dan nyakitin dia suatu saat bakal berubah. Read: Suatu saat. Ya kali beruntung kalo emang kenyataannya pacar lo emang berubah ke hal yang positif. Gimana kalo dia berubah, tapi malah berubah menjadi semakin liar? Apa namanya yang sering dipake anak gaul sekarang? Leor. Please, berhenti membodohi diri sendiri. Emang nggak ada orang yang sempurna, emang semua orang pernah khilaf dan ngelakuin kesalahan. Tapi kalo orang itu udah dikasih maaf dan dia ngelakuin kesalahannya berulang-ulang kali hanya untuk mendapatkan kata maaf yang dengan gampang lo kasih, apa lo yakin orang kayak gitu bakalan berubah? Padahal dalam lubuk hati lo, lo sebenernya udah muak ngeliat kelakuan busuk pacar lo, lo udah nggak kuat lagi di sakitin berkali-kali dengan jangka waktu yang nggak lama setelah lo ngasih kepercayaan sama dia. Tapi yang lo dapatkan bukan perubahan. Malah pengkhianatan yang berusaha keras-keras lo tutup-tutupin bahkan dari diri lo sendiri. Hanya untuk membisikan pada hati kecil lo kalo dia bakal berubah, dan lo bakal tetep bertahan.
 Cih.

6.      Gue Itu Pemaaf
Hai, kenalin gue adalah orang pemaaf yang menyebut dirinya sangat pemaaf dan rendah hati. Gue adalah orang yang paling suka memaklumi kesalahan orang lain karena gue tau setiap orang itu pasti pernah salah. Ya, meskipun dia ngelakuin kesalahan yang sama yang jelas-jelas udah dia lakuin berulang kali dan balik lagi ke gue untuk mendapatkan maaf gue. Maksud gue, bukan berarti gue nggak sakit hati tentang perlakuannya ke gue yang terus-terusan mempermainkan gue. Tapi gue nggak punya pilihan. Gue nggak tega ngeliat dia mohon-mohon sama gue, gue nggak mau nyakitin dia. Jadi, gue itu pemaaf kan? Ya, gue maafin dia lagi. Maaf ya, gue cuma orang lemah yang bisanya duduk manis menunggu orang kecintaan gue dateng dengan dosa dan menunggu di beri maaf oleh gue. Jadi, silahkan sebut gue bodoh. Gue nggak akan marah, karna gue nggak punya pilihan. Gue itu pemaaf, kan? Ya, jadi gue maafin.

***
Jadi, kesimpulan dari semua ocehan gue di atas? Yap, kalian menjalankan hubungan dengan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan, benar? Kalian pacaran buat memenuhi hari-hari kalian dengan warna bukan malah membuat hidup kalian yang udah abu-abu jadi item, kan? Kalian pacaran untuk mencintai dan dicintai kekasih kalian, untuk berbagi, dan semacamnya, lah. Bukan malah menjelma menjadi mahluk galau Twitter yang galaunya melebihi orang jomblo.
Gue nggak menjadi pihak yang menyalahkan mereka yang sedang berusaha mempertahankan hubungan mereka yang dulunya sangat manis. Gue cuma mau ngasih tau, semua point di atas nggak bakalan berlaku buat kemajuan hubungan lo, kalo cuma lo yang berusaha mempertahankan hubungan itu sendiri. Semua itu nggak akan berlaku kalo hanya satu pihak yang mati-matian berusaha sementara pihak satunya tidak membantu sama sekali.Jangankan membantu, dia malah memperburuk keadaan. Mencintai seseorang dan berjuang untuk mempertahankannya itu nggak salah. Tapi carilah orang yang mau di ajak bekerja sama untuk mempertahankan hubungan kalian berdua. Karna kalo hanya satu yang berjuang, itu nggak adil.

Ini hidup lo kan? Lo berhak mengambil keputusan sesuai dengan yang lo inginkan. meski keputusan itu bertentangan dengan yang lo harapkan. But, you don’t always get what you want, right?

Yeah, this is end of the post. Sori kalo banyak kata-kata yang menyinggung kalian, seperti biasa, this is just my opinion. Hasil dari pengamatan gue sendiri, hasil dari ringkasan gue sendiri, hasil dari ketikan gue sendiri, dan semoga di baca nggak sama gue sendiri. Ngahaha. Oiya, buat temen-temen yang punya pengalaman mengenai mempertahankan hubungan ayo share di comment box ya! Terimakasih!:D
 
 

Minggu, 08 Desember 2013

Kata-kata Yang Sering di Ucapkan Oleh Para Pendengar


Setiap orang pasti pernah menceritakan sesuatu yang terjadi dalam hidupnya baik itu hal kecil, besar, bahkan hal-hal yang sangat sepele atau nggak penting. Atau bahasa yang sering kita pakai saat ini adalah Curhat. Curhat udah jadi semacam kebiasaan manusia yang nggak bisa lepas dari kesehariannya. Diamanapun. Diusia berapapun. Dikalangan manapun. Diras manapun. Setiap menitnya, detiknya, pasti gue ngedenger orang curhat. Lagi ngantri di wc mall gue ngedenger orang curhat. Lagi ngantri tiket bioskop gue denger orang curhat. Lagi naik angkot gue denger orang curhat. Lagi pup di toilet-pun guedenger orang curhat.

            Nggak cuma sampai disitu, kalo lo lagi sendiri, buat lo yang punya social media pasti nggak aneh lagi kalo liat orang curhat. Contohnya:

“WOI GUE DAPET NIH! AKHIRNYA SETELAH TIGA HARI KELEWAT. GUE KIRA GUE BUNTIT! NGAHAHA.” 

By the way, itu asli, loh. Gue pernah baca status kayak gituan di Twitter. Gue nggak ngerti motivasinya itu orang nulis status gitu di Twitter apa. Sebenernya kalo di perpanjang singkatan dari curhat itu adalah Curahan Hati. Wih, dalem banget ya kedengerannya? Iya curhat yang sebenernya adalah dimana seseorang mencurahkan segala sesuatu yang di alaminya, baik itu hal yang membuatnya seneng atau sedih pada lawan bicaranya. Yang bakal gue bahas kali ini adalah: Kata-kata yang sering di ucapkan oleh para Pendengar.
Panjang? Iya. Gue bingung mau ngasih judul artikel ini apa, terlahirlah judul barusan. Yap, kita bahas langsung aja ya. Cekidot!

1.Sabar, ya.”
Buat yang satu ini, udah nggak asing lagi di telinga para curhat-ers. Menurut gue, kata “Sabar” adalah kata-kata yang tega banget buat di ucapin sama orang yang lagi curhat. Bayangin aja, dengan kita bilang “Sabar, ya.” Sama orang yang abis-abisan curhat sama kita itu Tae banget. Di samping kemungkinan orang itu bisa aja nggak menyimak cerita kita, bisa aja dia menganggap hal yang kita certain nggak penting. Kalo emang hal yang kita certain emang nggak penting sih ya wajar. Tapi kalo misalnya lo abis cerita panjang-panjang sambil mewek dan temen lo Cuma bisa bilang “Sabar, ya.” Kalo gue jadi lo, gue bakal teriakin di telinganya: “HAH? SABAR? LO PIKIR? LO NGGAK NGERASAIN YANG GUE RASAIN TAEEEE.” Abis itu gue bakal jambak rambutnya, sobek bajunya, ngambil piso…… oke, gue becanda kok.
Yang jelas, kata “Sabar” itu menurut gue emang iya sih sebenernya bagus kita nyuruh sabar buat temen yang lagi tertimpa masalah buat sabar. Tapi kalo kita kasih advice buat orang yang lagi down Cuma dengan kita nyuruh sabar itu nggak banget. Bisa jadi niat kita yang emang serius nyuruh sabar sama temen kita itu malah jadi malapetaka buat kita. So, kalo emang lo bener-bener nggak punya solusi buat menghadapi curhatan temen lo, gue saranin lo diem aja. Apalagi doi curhatnya sambil nangis-nangisan. Karena orang yang lagi nangis itu Cuma butuh di dengerin, bukan di ceramahin sama advice yang sama sekali bukan yang dia butuhkan saat itu. x))
2. “Gue Ngerasain yang Lo Rasain kok.”

Biasanya orang yang ngomong gini sama lawan bicaranya ini temen yang curhat sama dia udah bener-bener nangis dan histeris. Atau nggak, bisa jadi karena saking lamanya dia curhat dan kita diem aja sang lawan bicaranya teriak “LO KOK DIEM AJA, SIH? LO NGERTI NGGAK?”  dan kita cuma bisa bilang “Iya, gue ngerasain yang lo rasain kok.” Dengan pasrah. Tapi jangan salah sangka dulu, bisa jadi orang yang bilang kayak gitu emang ngerti perasaan kita dan dia mencoba buat meyakinkan kita kalo bukan kita doang yang merasakan sakit hati itu. Jangan salah, loh. Terkadang utuk mengerti seseorang kita nggak perlu merasakan hal yang sama, kok. x))

3. “Semuanya bakalan indah pada waktunya, kok.”
Pasti sering dong denger kata-kata ini dari para pendengar curhat. Biasanya sih, sang pendengar bakalan ngomong gini kalo misalkan yang curhat isinya keluhan dia semua. Atau nggak hal yang udah pernah dia curhatin berkali-kali dan di ulang-ulang. Buat gue kata-kata “Semuanya bakalan indah pada waktunya kok” itu lumayan buat menyadarkan si pencurhat yang kebanyakan ngeluh. Yakali kalo dia sadar. Ngahahaha.
4. “Tuhan itu adil”
Dari bahasanya emang keren banget. Tuhan itu adil. Yup, Tuhan itu emang adil, tapi terkadang, kita menyadarinya saat kita udah mendapat sesuatu yang menyenangkan. Gue yakin, orang yang lagi tertimpa masalah jarang ada yang bilang kalo Tuhan itu Adil. Mereka kebanyakan mendumel bahwa Tuhan nggak adil, Nggak peduli sama mereka, dan seterusnya. Tapi mereka bakal bilang Tuhan itu Adil, kalo mereka udah mendapat jawaban dari semua masalah yang mereka terima. Dan saat lo bilang “Tuhan itu adil, kok.” sama temen lo yang lagi curhat, gue yakin, dalem hati mereka teriak “ADIL? LO PIKIR? DENGAN DIA KASIH COBAAN INI BUAT GUE LO MASIH BILANG TUHAN ITU ADIL?!” lalu dia akan lari-lari keliling sabuga sambil remukin botol Ades dan nangis sekencang-kencangnya.

5.  “Udah dong, jangan gala uterus, ayo senyum” 
Sederhana, sih. Tapi gue akuin, ini adalah-kata-kata paling menyenangkan saat kita udah curahin perasaan kita dan sang lawan bicara tersenyum sambil bilang “Udah dong, jangan galau terus, ayo senyum.” Mau nggak mau kita pasti bakalan senyum. Dan hal ini akan di dudukung kalo misalkan yang bilang gini sebenernya adalah orang yang kita suka! Xixixi. x))

Finally, sebenernya masih banyak sih kata-kata yang sering di ucapkan saat kita dengerin temen cuhat. Tapi nggak mungkin gue bahas disini semua. Yang jelas, apapun yang dikatakan oleh para  pendengar saat lo curhat. Maksud dan tujuan mereka Cuma satu: Membuat lo tenang. So, jangan lupa kalo udah cuhat kalian bilang makasih sama mereka, karena seorang pendengar yang baik adalah orang yang berusaha keras mengerti kalian meski mereka nggak pernah ngerasain hal yang sama kayak kalian. Dan itu nggak gampang, gue pernah baca: “Saat teman kita tertimpa masalah, kita memberi saran yang tidak bisa kita lakukan saat kita mengalami hal yang sama.” Dan disitu gue menyadari bahwa keududukan teman itu emang sangat penting.
 
This is end of the post, sori kalo banyak kata-kata yang salah dan kedengerannya sok tau.  And this just my opinion. Last, gue pernah denger, ada orang yang bilang, jika kita ingin mengerti orang lain, jangan memakai sudut pandang diri sendiri, dan jika kita ingin mengerti diri sendiri, jangan memakai sudut pandang orang lain. Right? Ngahaha

Sabtu, 30 November 2013

Student GuideBook for Dummies (Review) : Kevin Anggara

Ceritanya gue lagi bingung mau nulis apa dulu setelah dua minggu terakhir gue bolos nulis dan ngelanggar komitmen. Tadinya gue mau awali dengan kata-kata maaf kepada para pembaca yang udah nggak sabar nunggu tulisan gue disini. Tapi dipikir-pikir, pembaca gue selain nyokap, sepupu, sama temen sekelas (itu juga gue paksa sih) nggak ada lagi. Dan gue juga nggak yakin mereka nunggu tulisan gue terbit lagi atau nggak. Malah, gue juga ragu mereka bakalan inget gue pernah nulis apa. Ngahaha.

            Tapi, seperti apa kata Kevin Anggara, seorang pelajar berusia…. Ya, pokoknya masih muda, buat dapetin pembaca yang banyak itu di butuhin komitmen yang kuat. Contohnya, komitmen buat terus nulis meskipun readers masih sangat sedikit, tapi kalo kita terus konsisten sama komitmen awal buat nulis sesuai dengan jadwal yang ditentukan, pada akhirnya, pembaca akan berdatangan sendiri tanpa harus di paksa-paksa. Silahkan baca kelanjutannya disini.
Yap, sesuai dengan judul diatas. Malem ini gue mau buat sebuah review buku. Cekidot:

Penulis: Kevin Anggara

Judul buku: Student Guidebook for Dummies; Panduan Ngaco Pelajar Keren!

Genre: Non-fiksi komedi. 

Tebal: 260 hal. 

Penerbit: Bukune. 

Harga: Rp43.000

(Pesan online di 1. @bukabuku, 2. @bukukita, 3. @buku_plus)

Berikut adalah identitas singkat dari sebuah buku yang bakal gue review disini. Pertama-tama, buat kalian yang belum tau atau belum pernah denger siapa Kevin Anggara, coba klik link ini. Jadi, Kevin adalah salah satu penulis yang tadinya bersarang di blog dan bisa tembus ke penerbit di usianya yang masih sangat dini! (Ngomong gini gue berasa tua) Student Guidebook for Dummies (SGFD) adalah buku pertama Kevin.
Sesuai dengan identitas diatas, SGFD ini buku bergenre Non-Fiksi Komedi yang nyeritain ke absurd-an nya sebagai pelajar. Jadi, buat kalian para pelajar wajib banget baca buku ini! Di bukunya Kevin menceritakan kisah awal pelajar dari mulai MOS sampai Ujian Nasional. Tips-tips menghadapi kakak kelas saat MOS, menyiapkan mental disekolah baru, cara Menghadapi MOS untuk Pemula, cara Baik dan Benar Menghadapi MOS,  Gimana caranya menghadapi seminggu penuh sebagai pelajar, Cara Mencontek Saat Ujian, Macam-macam Guru di Sekolah, daaaaaaaaan masih banyak lagi!!! Bisa rontok jari gue kalo gue sebutin disini semua.

Pokoknya buat kalian yang masih ngeluh aja gimana caranya menghadapi keseharian kalian sebagai pelajar yang dari umur lima tahun nggak beres-beres aja, di SGFD ini semua tipsnya ada! Kalian nggak bakalan lagi ngerasa bosen dan males saat menghadapi hari senin, karena di SGFD ini juga Kevin memberikan Tips Mengikiuti Upacara yang wajib kalian Praktekan!
Selain itu, Kevin juga berbagi 9 Langkah Pedekate, (meskipun isinya absurd semua). Dan yang jadi point utama yang paling gue suka dari SGFD ini, banyak banget ilustrasinya! Gila! Buat lo yang emang nggak terlalu suka sama novel dengan alesan banyak banget tulisannya dan nggak ada gambarnya, nggak ada alesan lagi buat kalian nggak ngebaca buku ini!

Dengan apik, Kevin telah mengemas celotehan-celotehan yang bisa ngebuat kalian ngocok perut seharian dengan ilustrasinya yang nggak kalah keren! So, tunggu apalagi? Buruan borong bukunya! Buat yang males-malesan pergi ke Gramedia karena nggak ada temen jalan dan takut keliatan banget jomblonya, nggak usah khawatir. Kalian bisa pesen bukunya secara online di sini. :D

Buat yang masih ragu-ragu buat beli bukunya atau nggak, coba deh kalian kunjungi Kevin disini: http://kevinanggara.com . Disana kalian bisa baca kisah-kisah absurd dari Kevin yang kadang-kadang bijak, kadang-kadang sedih, kadang-kadang absurd, eh.. emang selalu absurd, sih. Dan kalian tentuin postingan mana yang paling kalian suka. Kalo gue sendiri, gue paling suka postingan yang judulnya FROM ZERO TO HERO, itu adalah postingan yang, jujur, membangun niat gue banget buat rajin lagi nulis.

Iya, Kevin adalah salah satu penulis yang tulisannya menginspirasi gue. Disitu, Kevin menceritakan awal mula dia ngeblog, sampai bisa buat buku di usianya yang sama dengan gue! Gila! Selesai baca postingan yang dia posting di bulan Agustus itu, gue membulatkan niat buat aktif lagi ngeblog di bulan September lalu. Iya, jadi kurang lebih umur blog gue sekarang adalah dua bulan. Karena keseringan bikin blog dengan nama aneh dan postingan yang isinya kebanyakan curhat, gue membulatkan niat juga buat lebih mengkontrol tulisan gue supaya nggak terlalu liar dan ngecapruk kayak sekarang ini… Well, ngomong-ngomong tentang umur blog, gue baru baca lagi peraturan lomba #GiveAwayTigaBulanan ini setelah gue mau beres bikin review ini.

Kampret. Disitu ditulis salah satu syaratnya adalah umur blog kita minimal harus berusia tiga bulan. Hiks. Tapi nggak apa-apa deh. Gue bikin review ini bukan semata-mata untuk berlomba dan dapetin hadiah, tapi buat mengasah tulisan gue dan siapa tau tulisan gue ini di baca Kevin Anggara. Iya, kan? Ngahahaha.

Akhir kata, buat kalian yang juga tertarik buat ikutan lomba ini silahkan klik ini dan ikuti cara-caranya! Btw, deadline nya akhir malam ini sebelum jam 00.00 lho. Masih ada waktu buat lari ke Gramedia-Baca Bukunya-Bikin Reviewnya. Ayo buruaaaaaaaaaaaan! :D


Minggu, 10 November 2013

a secret [three]


Hi! You can read a secret one and a secret two  here. :))

Cahaya matahari terpantul melalui kaca jendela di ruangan itu. Menambah rasa panas dan pengap. Seorang wanita paruh baya mengelap keringat dari pelipisnya. Matanya menelusuri seluruh ruangan, mengamati murid-murdinya yang sedang sibuk mengerjakan sebuah puisi yang di tugasinya dalam cuaca sepanas ini. Ia sendiri tidak yakin bisa membuat sebuah rangkaian kata yang indah dalam keadaan seperti ini. Lebih dari itu, ia tak begitu peduli pada usaha murid-muridnya.

Di sudut lain, seorang perempuan berambut kurang lebih sebahu sedang asik mengobrol dengan lawan bicaranya. Sesekali matanya menangkap mata sang lawan bicara. Yang, tentu saja tak di rasakan sang lawan bicara. Lima belas menit berlalu sejak sang guru memerintahkan mereka untuk membuat sebuah puisi. Konyol, pikirnya saat sang guru menjelaskan beberapa intruksi yang harus di ikuti murid-muridnya. Termasuk dirinya.

Ia tak menyukai hal-hal semacam itu. Dan merangkai kata demi kata untuk menjadi sebuah paragraf, atau bait, atau apapun itu bukan termasuk keahliannya. Dan ia lega mengetahui bahwa lelaki di sampingnya merasakan hal yang sama jika ia perhatikan bahwa sejak tadi mereka berdua tak melakukan tugas yang di perintahkan. 

Sang perempuan melempar pandangannya ke depan kelas, dimana wanita paruh baya yang membuatnya terjebak dalam kelas dan mata pelajaran yang tak disukainya sedang duduk berleha-leha melihat murid-muridnya dan tersenyum puas. Gania mengalihkan tatapannya pada teman sekelasnya. Sekarang ruangan ini benar-benar membuatnya muak dengan raut-raut berwajah stres memikirkan bagaimana caranya membuat rangkaian kata yang indah dalam keadaan hasrat yang tinggi untuk lari dari ruangan ini.

            “Lo nggak buat puisi?” Gania menoleh, mendapati wajah Haikal yang bertanya serius. Mau tak mau ia tertawa. Haikal bengong. Sebelum akhirnya mereka berdua tertawa lepas. Perlu waktu beberapa detik untuk berhenti tertawa dan menyadari bahwa sekarang seluruh ruangan kelas sedang menatap mereka berdua. Termasuk sang guru yang menatap matanya dengan tatapan marah.

            “Kalian berdua sudah selesai?” tanya sang guru. Masih belum mengalihkan tatapanya. “Saya pikir kalian sudah menyelesaikannya. Dan, mungkin kalian bisa membacakan hasil karangannya di depan kelas sekarang.” Hati Gania mencelos. Anak-anak bertepuk riuh membayangkan lelaki pendiam dan perempuan cuek membaca sebuah puisi konyol di depan kelas. Ia menoleh pada Haikal yang memasang raut datar.

            “Tunggu apalagi? Ayo maju.” Imbuh sang guru. Gania membenci ini, apa yang harus di bacakannya di depan kelas? Ia mengambil kertas kosong yang sejak tadi tak di sentuhnya. Dan mengikuti Haikal yang sedang berjalan ke depan kelas, sama-sama membawa kertas kosongnya. Keringat dingin mulai membanjirinya, ia melirik Haikal di sampingnya yang menampilkan wajah polos. Jika di lain waktu, Gania menyukai saat Haikal menampilkan ekspresi polosnya. Tapi saat ini, rasanya itu adalah ekspresi paling tolol yang di lakukannya.

Awalnya, Haikal mengangkat kertas kosong itu di depan mukanya. Menghela napas dalam-dalam seakan-akan ia akan membaca semua kata yang terangkai pada kertas itu. Raut wajahnya masih kelihatan tenang dan terkontrol. Sementara Gania berpikir keras bagaimana caranya mereka berdua bisa terbebas dari ruangan ini. Menit demi menit berlalu saat akhirnya Haikal mengeluarkan suara, membuat semua suara yang ada di ruangan itu tersedot ke dalamnya. Menimbulkan keheningan yang mencekam. Membuat kata demi kata yang keluar dari mulutnya terdengar di seluruh sudut kelas.

“Kau tahu, hal pertama selalu sangat mengagumkan

seperti pertama kali menghisap ganja yang di lakukan oleh para pecandu,

seperti saat kau menghirup anggur dan membiarkannya mengalir di tenggorokanmu,

seperti saat kau menghirup kokain dan membiarkan asapnya merusak paru-parumu,
dan bahkan kau tak pedulikan itu,

Kau tahu,

 kau akan membiarkan racun itu mengalir di tubuhmu,
dan kau menyukainya.”

Haikal mundur selangkah dan menggulung kertas di tangannya menjadi gulungan kecil. Ia menatap Gania yang masih tercengang. Matanya menyiratkan keberanian, ketenangan, beberapa detik berlalu dan bel berbunyi di sertai tepuk tangan dari seisi kelas.

***

Gania berlari mengejar Haikal yang sekarang beberapa langkah di depannya, ia memperlebar langkah berusaha menyamai langkahnya dengan Haikal.

            “Kau tahu, tadi itu keren.” Gania berhasil menjangkau lelaki itu dan menyamai langkahnya. 

“Maksudku, kau menyelamatkanku tadi.” lanjutnya, Haikal tak menjawabnya. Ia masih berjalan dengan langkah cepat, namun Gania berusaha agar tak tertinggal jauh di belakangnya.

            “Darimana kau dapatkan semua itu?” tanya Gania, sekarang ia mendapatkan perhatian lelaki itu.
            “Apa?” Haikal menoleh, memperlambat langkahnya.

“Semua itu. Kata-kata yang mengalir dari mulutmu seperti kau sedang membaca tulisan yang hanya bisa kau lihat sendiri. Aku tahu kau tak menulis apa-apa di kertas itu.” jawabnya.  “Dan jangan kira aku percaya jika kau bilang kau memang mengalaminya sendiri.” lanjutnya, bahkan saat mengatakannya pun, Gania merasa konyol membayangkan lelaki yang di kenalinya beberapa bulan lalu, memiliki pandangan sedangkal itu pada sesuatu yang menurutnya sangat abstrak. Haikal sekarang menghentikan langkahnya, memandang Gania dengan tatapan datar.

            “Lupakan. Kau tahu, kau akan membuang waktumu jika memikirkan itu.” lanjutnya pada Haikal, kaget menyadari bahwa sekarang lelaki itu mengehentikan langkahnya dan menatapnya dengan tatapan menuduh. Merasa tak enak di tatap seperti itu Gania balik menatap dengan sedikit menantang.

“Apa?” tanyanya bingung dengan perubahan suasana yang mendadak.

Gania memperhatikan Haikal yang masih memasang raut yang di bencinya. Gania pun memutuskan untuk lanjut berjalan meninggalkan lelaki itu. Baru beberapa langkah ia berjalan terdengar tawa Haikal yang membuatnya berhenti dan menoleh. Ia mendapati Haikal sedang tertawa. Dan mulai berlari menghampirinya, Gania buru-buru kembali berjalan dengan langkah lebar. Masih di iringi tawa Haikal yang menggema di telinganya. Saat ini, ia sedang tak ingin ikut tertawa, meski itu dengan orang yang tak pernah gagal membuatnya tertawa.[]